Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inspiratif! Inilah 3 Kisah Wirausahawan Zero to Hero dengan Konsep Bootstrapping

Berikut tiga kisah sukses dari perusahaan terkenal yang nyatanya menggunakan metode bootstrapping dalam awal perjalanannya hingga akhirnya mencapai kesuksesan yang besar.
Nick Woodman/engagdet
Nick Woodman/engagdet

Bisnis.com, JAKARTA - Bootstrapping adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi, dimana seorang pengusaha meluncurkan bisnis dengan modal minimal atau bahkan tidak bergantung dengan investor sekalipun.

Dalam arti, ketika seseorang mencoba untuk memulai dan membangun bisnis dengan uang mereka sendiri atau lebih dari 80 persen biaya operasional startup dikeluarkan oleh sang founder sendiri, maka mereka bisa dikatakan bootstrapping.

Sedangkan, kebalikan dari bootstrapping adalah ketika seorang pebisnis melakukan pilihan dengan mengumpulkan dana dari pemodal ventura sebelum peluncuran perusahaan mereka.

Adapun, cara untuk membiayai bisnis kecil dengan membeli dan menggunakan sumber daya atas biaya pemiliknya, tanpa berbagi ekuitas atau meminjam uang dalam jumlah besar dari bank, dan hal ini berdampak pada perputaran persediaan yang cepat, kas yang baik, dan operasional yang efisien.

Biasanya, sebuah perusahaan yang mengandalkan bootstrap, dapat menjalankan kampanye kickstarter atau pra-pemesanan untuk produknya dengan menggunakan dana yang dikumpulkan oleh pra-pemesanan untuk benar-benar membangun dan mengirimkan produk mereka.

Sehingga, apabila dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan modal ventura, maka metode bootstrapping bisa menjadi sangat menguntungkan, karena memberi pengusaha kendali penuh atas semua keputusan yang terkait dengan perusahaan yang berjalan.

Faktanya, ada ratusan kisah sukses bootstrapping.

Melansir dari Entrepreneur pada Selasa (12/7/2022), berikut tiga kisah sukses dari perusahaan terkenal yang nyatanya menggunakan metode bootstrapping dalam awal perjalanannya hingga akhirnya mencapai kesuksesan yang besar.

1. Markus Persson dan Mojang

Inspiratif! Inilah 3 Kisah Wirausahawan Zero to Hero dengan Konsep Bootstrapping

Xblafans

Nama perusahaan Mojang memang sepertinya tidak terkenal.

Namun, Anda pasti pernah mendengar video game terlaris sepanjang masa yang dibuat oleh Markus Persson dan perusahaannya, Mojang, yaitu Minecraft.

Ketika Persson pertama kali menerbitkan Minecraft dengan merek Mojang, dia memilih untuk menjualnya langsung melalui situs web Minecraft, daripada mencari investor luar, sehingga Mojang dapat mengumpulkan semua keuntungannya.

Nyatanya dalam setahun, Minecraft mendapatkan keuntungan yang besar, sebab telah menjual begitu banyak salinan. Hingga menjadikan, Persson berhenti dari pekerjaannya dan mencurahkan seluruh waktunya untuk memulai karir sebagai pebisnis pemula Mojang.

Akhirnya, dengan bisnis yang berkembang pesat, membuat karyawan lain harus bergabung dengan perusahaannya untuk membantu memperluas basis Minecraft. Seiring perjalanan waktu, perkembangan Minecraft pun mencakup konsol baru, hingga terkenal di seluruh dunia.

Kemudian tanpa disadari, secara cepat barang dagangan Minecraft seperti pakaian dan mainan seperti LEGO yang dihiasi dengan karakter Minecraft membanjiri pasaran, dan Mojang tumbuh dari perusahaan game kecil menjadi raksasa.

Persson dan perusahaannya menolak banyak tawaran dari calon investor, terutama dari salah satu pendiri Napster, Sean Parker yang berencana membantu pengembangan Mojang dengan memberikan suntikan dana.

Perkembangan Mojang yang sangat cepat akhirnya berdampak pada Persson, hingga akhirnya di 2014, dia mengunggah tweet.

"Ada yang mau membeli sebagian dari Mojang sehingga saya dapat melanjutkan hidup saya?"

Dan seperti yang kita tahu, tepat pada September 2014, setelah tiga bulan Perrson menerbitkan tweet-nya akhirnya Microsoft membeli Mojang seharga US$2,5 miliar.

2. Sara Blakely dan Spanx

Inspiratif! Inilah 3 Kisah Wirausahawan Zero to Hero dengan Konsep Bootstrapping

NPR

Saat itu tahun 1998, Sara Blakely adalah seorang wiraniaga, yang menjual mesin faks secara door-to-door.

Suatu pagi, saat dia tengah bersiap-siap melakukan penjualan, dia memotong kaki sepasang stoking kaki dan mengubahnya menjadi bawahan celana.

Saat itulah dia punya sebuah ide, di mana dia menyadari bahwa kaus kaki dengan bahan yang tipis sangat diperlukan untuk membuat sejumlah pakaian menjadi berbentuk.

Saat itu, Blakely baru berusia 27 tahun, dengan hanya memiliki US$5.000 di rekening tabungannya. Dia menginvestasikan setiap sen dari tabungannya untuk membuat produk Spanx -nya dan bahkan menulis patennya sendiri sebagai upayanya dalam menghemat uang.

Dia memperkenalkan produk Spanx-nya ke sejumlah pengecer yang berbeda, termasuk Saks Fifth Avenue, Neiman Marcus dan Bloomingdale's, dan meyakinkan mereka bahwa shapewear-nya punya potensi besar.

Hingga hari ini, Blakely masih menjadi pemilik tunggal Spanx, yang merupakan perusahaan pembuat pakaian dalam Amerika yang berfokus pada pembentuk celana dan legging yang didirikan di Atlanta, Georgia.

Perusahaan tersebut diketahui tidak pernah sekalipun menerima modal ventura. Meskipun dia tidak pernah mengungkapkan angka penjualan perusahaan milik pribadinya , namun diperkirakan kekayaan bersihnya sekitar US$1 miliar.

3. Nick Woodman dan GoPro

Inspiratif! Inilah 3 Kisah Wirausahawan Zero to Hero dengan Konsep Bootstrapping

Engadget

Setelah kedua startup-nya gagal, Nick Woodman membutuhkan waktu untuk kembali menjernihkan pikirannya. Maka, dia melakukan perjalanan selancar ke Australia dan Indonesia.

Selama perjalanan inilah inspirasi muncul, hingga memunculkan suatu ide brilian bernilai jutaan dollar.

Diketahui, ide tersebut muncul saat Nick Woodman melihat peselancar lain terkena ombak, dan ada suatu kondisi yang tidak menguntungkan mereka, di mana para peselancar melilitkan kamera tahan air mereka di pergelangan tangan mereka untuk mendokumentasikan petualangan mereka, tetapi pengait seperti tali terus putus sampai membuat kamera tersebut hilang, hingga akhirnya para peselancar harus berenang untuk menemukannya lagi.

Dengan melihat masalah yang ada, maka dengan menggunakan tabungan pribadinya, serta pinjaman sebesar US$35.000 dari ibunya sekaligus memutuskan kembali pindah rumah dan tinggal bersama orang tuanya untuk menghemat uang. Nick pun meluncurkan Woodman Labs, yang kemudian disebut GoPro.

Ketika terjadi peralihan dari kamera analog ke digital, maka Nick menyadari bahwa lanskap untuk desainnya berubah.

Jadi, dia kembali ke sketsa awal dan memikirkan berbagai cara di mana atlet dapat memasang kamera GoPro sehingga dapat digunakan untuk sejumlah olahraga atau aktivitas yang ada.

Woodman pun memulai seluruh proses desain selama satu dekade sampai grup teknologi, Foxconn, menawarkan untuk menginvestasikan US$200 juta ke GoPro.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper