Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perjalanan Bisnis JD.ID, Hanya Bertahan 8 Tahun di Indonesia

JD.ID tutup hanya setelah beroperasi selama 8 tahun di Indonesia sebagai salah satu ecommerce.
Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Aktivitas pekerja di Warehouse JD.ID Marunda, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/12/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Kabar soal JD.ID yang akan menutup layanannya per Maret 2023 terus menuai sorotan publik. 

Penutupan itu dilakukan di JD.ID Indonesia yang merupakan bagian dari JD.COM, setelah adanya serangkaian aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan kepada 200 tenaga kerja atau sekitar 30 persen dari total karyawan pada Desember 2022 lalu. 

Melansir dari Bisnis, JD.COM pertama kali hadir ke Indonesia pada 2015. Mereka meluncurkan JD.ID dengan menggandeng Provident Capital, perusahaan milik konglomerat Winato Kartono. 

Sayangnya, JD.ID akhirnya memutuskan hengkang dari Indonesia. Adapun, alasan dari JD.ID tutup di Indonesia, karena JD.COM akan fokus untuk pada pembangunan jaringan rantai pasok lintas-negara. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan pasar internasionalnya.

Tentu, sebagai platform yang pernah meramaikan transaksi jual beli online, dalam perjalanannya JD.ID telah menjembatani masyarakat dalam memperoleh berbagai produk, seperti makanan segar, mainan, pakaian, elektronik dengan mudah. 

Bahkan, meski tergolong sebagai marketplace baru di Indonesia, namun Bisnis JD.ID dapat berkembang sangat pesat dan ini akan memberikan kenangan tersendiri bagi penggunanya. 

Lantas, seperti apa profil bisnis dari JD.COM yang berhasil mendirikan JD.ID di Indonesia? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Kehidupan Awal Pendiri JD.COM

Awal mula kehadiran JD.ID adalah berkat inovasi dari sang pendiri JD.COM, yaitu Liu Qiangdong yang lahir pada 10 Maret 1973 di sebuah desa kecil di wilayah luar Suqian.

Liu tumbuh di pedesaan yang miskin. Namun, berkat keuletannya untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan, membuat dirinya punya kemauan besar untuk mengubah nasib. 

Sebelum bisa sesukses sekarang hingga sempat berekspansi ke Indonesia, nyatanya orang tua Liu adalah seorang petani padi. Tentu, dengan penghasilan petani yang tidak menentu, membuat keluarganya pun mencari peruntungan baru dengan mendirikan sebuah perusahaan keluarga di bidang pengiriman batu bara.  

Berkat pola asuh orang tua Liu yang sangat baik, menjadikan Liu sejak kecil sudah menjadi sosok inovator dan pemimpi. Begitu Liu mulai bersekolah di sebuah sekolah menengah di Suqian, mimpinya mulai berkembang.  

Meski, dirinya terbilang punya kemampuan ekonomi terbatas, tapi dia tetap tidak membuang mimpinya untuk bisa melanjutkan pendidikan. Atas kerja kerasnya, membuat dia berhasil melanjutkan studi di Universitas Renmin dengan jurusan sosiologi. 

Mengalami Kebangkrutan Berulang Kali

Sebagai seorang pekerja keras, Liu selalu ingin melakukan sesuatu yang produktif dengan waktu luang dan dia memilih untuk belajar sendiri tentang pemrograman komputer, hingga kemudian menyadari bahwa dia cukup mahir dalam bidang itu

Pada bisnis pertamanya, Liu mulai menggunakan keterampilan barunya di bidang pemrograman komputer untuk menghasilkan uang, dan berkat tinggi-nya permintaan akan jasa-nya pada saat itu, Liu mampu menghasilkan lebih banyak uang lagi, lebih daripada apa yang pernah dia impikan. 

Setelah sibuk berbisnis, Liu pun menggunakan tabungan-nya untuk membeli sebuah restoran kecil di wilayah luar kampus. Setelah delapan bulan beroperasi, pada akhirnya restoran tersebut ditutup dan melalui pengalaman ini Liu belajar pentingnya memiliki pendidikan dan pengalaman akan bidang manajemen. 

Membangun Bisnis Ritel 

Pada tahun 1996, Liu lulus dari Universitas Renmin, dengan tabungannya, dia pun memulai bisnis di bidang ritel dengan menggunakan bangunan seluas 4 meter persegi, bertempat di salah satu pusat perbelanjaan produk teknologi di Beijing.  

Pada tahun 2003, setelah lima tahun beroperasi, bisnis Liu mengalami lompatan besar. Liu berhasil memperluas usaha-nya dan membawa semua jenis produk elektronik, sehingga menjadi jaringan bisnis ritel yang sukses dengan dua belas toko di seluruh wilayah Beijing, Shanghai, dan Shenyang.  

Singkatnya, pada tahun 2004, Liu menciptakan JD.COM, sebagai toko serba ada di online. Hal yang membedakan JD.COM dari para pesaing lain-nya adalah bahwa mereka mengontrol setiap aspek rantai pasokan untuk item. 

Sehingga, setiap saat pelanggan membuat pesanan di JD.COM, perusahaan bertanggung jawab atas produk tersebut sejak dia meninggalkan gudang JD, berpindah ke pusat pemenuhan regional atau nasional, dan hingga sampai ke pintu rumah pelanggan - termasuk jarak tempuh paling akhir.  

Liu juga mencoba memerangi epidemi penjualan barang palsu yang memengaruhi sebagian besar wilayah Tiongkok. 

Sejak awal, Liu tidak menoleransi pemalsuan produk. Salah satu upaya yang ia lakukan adalah dengan membatasi jumlah penjual di JD.COM, sehingga JD dapat melakukan pengawasan ketat terhadap produk yang diperjualbelikan. 

Perkembangan Bisnis JD.COM di Indonesia

Kemudian, JD.COM yang sudah sangat dikenal di Cina, mulai merambah pasar dengan menargetkan wilayah besar, salah satunya Indonesia. Sehingga, tercetuslah JD.ID.  

Adapun, JD.ID sendiri merupakan perusahaan patungan e-commerce dari peritel terbesar China JD.COM yang bermitra dengan Gojek dan Provident Capital, di mana Winato Kartono merupakan salah satu pemilik dari PT Provident Capital Indonesia. 

Bahkan, pada 2013, dirinya masuk 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes dengan kekayaan sekitar US$590 juta atau setara dengan Rp9 triliun. 

Meski tergolong sebagai marketplace baru di Indonesia, namun Bisnis JD.ID dapat berkembang sangat pesat. Terbukti, JD.ID berhasil menduduki peringkat ke-10 diantara situs e-commerce teratas di Indonesia pada 2022 dan menyediakan jasa pengiriman yang menjangkau 365 kota di seluruh Indonesia serta jaringan pasar internasional seperti Jepang, Korea Selatan dan Singapura.

Akan tetapi usai pasar global dihantam ancaman krisis dan lonjakan inflasi, pendapatan JD.ID perlahan mulai mengalami penurunan tajam. Hingga akhirnya, JD.ID terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga akhirnya memutuskan untuk hengkang dari pasar Indonesia. 

Selain menutup bisnis e-commerce di Indonesia, JD.COM dikabarkan turut menonaktifkan bisnis di pasar Thailand pada kuartal pertama 2023.

Tidak diketahui berapa  total kerugian yang di alami JD.ID, namun layanan digital asal China ini tengah mencari investor baru untuk membeli bisnis tersebut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper