Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mengenal William Li, Pendiri Platform Akulaku yang Lulusan Hukum

Kepemilikan Akulaku terhadap saham BBYB terus meningkat. Siapa sebenarnya pemilik platform Akulaku
Nasabah menyelesaikan transaksi menggunakan Akulaku PayLater di Jakarta, Senin (11/7/2022). Bisnis/Suselo Jati
Nasabah menyelesaikan transaksi menggunakan Akulaku PayLater di Jakarta, Senin (11/7/2022). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA - PT Akulaku Silvrr Indonesia tercatat menambah portofolio kepemilikan sahamnya di bank digital PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB).

Sepanjang periode 6 April 2023 hingga 14 April 2023, Akulaku Silvrr yang merupakan anak usaha Akulaku Finance bahkan telah memborong sebanyak 17,68 juta lembar saham BBYB. 

Aksi borong saham BBYB oleh Akulaku juga terjadi pada 27 Maret 2023, di mana pihaknya memborong 67.000 helai saham BBYB. 

Terhitung sejak pertengahan Maret 2023 hingga hari ini, total borong saham yang dilakukan Akulaku mencapai sekitar 66 juta helai saham BBYB.

Melansir dari situs resminya, Akulaku adalah sebuah perusahaan fintech yang berbasis di Indonesia dan telah beroperasi sejak 2014. 

Dimotori dua warga negara China, William Li dan Gordon Hu, Akulakusempat berfokus pada bisnis remitansi yaitu transfer uang yang dilakukan pekerja asing ke penerima di negara asalnya dengan merek dagang “Silvrr”, tetapi kemudian beralih ke bisnis pinjaman konsumen dengan merek dagang Akulaku pada 2016.

Profil William Li, Pendiri Akulaku

William Li merupakan pria kelahir Jilin, sebuah provinsi di Cina yang berbatasan dengan Korea Utara. 

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, dia memutuskan kuliah jurusan hukum di Universitas Tsinghua di Beijing. Dia pun melanjutkan kuliah S2 dengan mengambil gelar master hukum di Washington and Lee University, Amerika Serikat. 

Sebelum mendirikan Akulaku, William nyatanya memulai karier dengan bekerja di sebuah firma hukum dan pernah terjun sebagai Investment Manager Ping An Insuransi Company selama tiga tahun lamanya. 

“Saya tidak pintar internet. Namun, latar belakang hukum membantu saya. Jadi hanya berusaha menemukan orang-orang terbaik dan mendelegasikan tugas kepada mereka. Bagi saya, gelar sarjana hukum banyak melatih bahasa saya,” ungkapnya dilansir dari kanal Youtube Tech Buzz China, Livecast #11: William Li, CEO of Akulaku, Selasa (18/4/2023). 

Sementara rekannya Gordon Zheng, adalah seorang pengembang senior yang memiliki pengalaman kerja sebelumnya di perusahaan teknologi Tencent dan Oracle, serta di perusahaan sekuritas Citic.  

Perjalanan Bisnis Akulaku

William menuturkan awalnya mereka ingin membangun platform pertukaran Bitcoin dan sedang mencari aplikasi Bitcoin yang tepat. 

Saat mereka berada di Hong Kong, mereka akhirnya bertemu dengan banyak pekerja Filipina yang kesulitan untuk mengirimkan uang ke keluarga mereka di negara asal mereka. 

“Saat dilakukan pengujian Bitcoin, ternyata biaya yang dikenakan justru lebih tinggi daripada pengiriman uang internasional biasa. Tidak hanya itu, bisnis pertukaran Bitcoin pun tidak mendapat dukungan dari banyak bank,” jelas sang lulusan hukum ini. 

Akhirnya, setelah melakukan banyak diskusi dengan bank-bank yang ada, keduanya pun menyadari masalah yang belum terselesaikan adalah soal banyaknya masyarakat yang kesulitan meminjam uang dari lembaga keuangan karena ukuran pinjaman yang kecil dan risiko tunggakan yang tinggi. 

Sebagai solusi, mereka pun memutuskan untuk memanfaatkan teknologi algoritma dan pembelajaran mesin yang populer di Cina untuk membantu mengubah industri pinjaman di Asia Tenggara. 

Pada paruh kedua tahun 2016, keduanya pun meluncurkan aplikasi Akulaku di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. 

Sejak itu, Akulaku telah mengembangkan layanan keuangan digital yang mencakup pinjaman, pembayaran, manajemen kekayaan, dan investasi. 

Akulaku terus mengalami pertumbuhan positif dan mendapatkan investasi strategis dari perusahaan besar seperti Ant Financial dan Siam Commercial Bank.

Perusahaan ini juga telah memperluas cakupan bisnisnya dengan mengakuisisi sebuah bank nasional di Indonesia dengan melancarkan aksi korporasi, Akulaku melakukan akuisisi terhadap PT Bank Yudha Bhakti Tbk yang akhirnya menjadi Bank Neo Commerce (BNC)  pada 2019. 

Dimulai dari pengambil alihan 5,2 persen kepemilikan di Maret 2019, perusahaan ini akhirnya menambah kepemilikannya sebesar 14,24 persen usai proses private placement

Pada 2021, Akulaku berhasil menghimpun dana dengan total US$400 juta dari berbagai investor seperti The Silverhorn Group, termasuk investasi strategis senilai US$100 juta dengan Siam Commercial Bank ("SCB") Thailand

Sejauh ini, Akulaku beroperasi di empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper