James Riady: Melaju pesat karena fokus

Setiba di Universitas Pelita Harapan di Karawaci, Tangerang, kami menunggu sekitar 5 menit sampai James Riady muncul di salah satu ruangan dengan senyum dan ramah menyapa. Di ruangan tersebut James ditemani dua orang stafnya.
Hilman Hidayat | 29 Desember 2010 08:48 WIB

Setiba di Universitas Pelita Harapan di Karawaci, Tangerang, kami menunggu sekitar 5 menit sampai James Riady muncul di salah satu ruangan dengan senyum dan ramah menyapa. Di ruangan tersebut James ditemani dua orang stafnya.

 

Tidak disangka bahwa pemilik konglomerasi kondang itu bersedia secara panjang lebar mengemukakan pemikirannya, disertai aura wajah yang cerah.

 

Di sela-sela perbincangan, James sempat menerima telepon dari ibunya yang mengingatkan agar dia berhati-hati dalam perjalanan karena hari hujan.

 

"Maaf, saya harus terima telepon dulu, ibu saya," katanya kepada kami sambil tersenyum menggambarkan kedekatannya dengan sang ibu.

 

Memasuki perbincangan bisnis, Lippo awalnya terkenal dengan dua bisnis besar yang digelutinya yakni properti dan perbankan. Tidak selalu pasang naik, pasang surut pun mereka alami. Nama Bank Lippo kini tinggal kenangan karena bergabung ke dalam CIMB Niaga, tetapi di bidang properti kelompok usaha ini menunjukkan mereka merupakan salah satu yang terdepan.

 

Lippo, yang kini memasuki usia 60 tahun, kemudian juga menekuni bidang bisnis perhotelan, ritel, kesehatan, pendidikan, media yang mengarah pada multimedia, serta information and communication technology (ICT). James Riady pun sukses menjadi generasi kedua keluarga yang mampu melanjutkan kejayaan ayahnya, Mochtar Riady.

 

Di bidang bisnis healthcare, Lippo mengelola tujuh rumah sakit dengan merek Siloam. Tidak membatasi hanya bermain di dalam negeri, lima RS Siloam telah dan segera masuk First Real Estate Investment Trust (First REIT) yang berbasis di Singapura.

 

Langkah yang menunjukkan bahwa bisnis Lippo menembus batas negara itu melengkapi listing-nya beberapa anak perusahaan grup tersebut di Bursa Efek Indonesia seperti PT Lippo Karawaci Tbk, PT Lippo Cikarang Tbk, PT Lippo General Insurance Tbk, PT Matahari Putra Prima Tbk, PT First Media Tbk, dan Lippo Securities Tbk.

 

Properti merupakan salah satu bidang garapan utama Lippo Group. PT Lippo Karawaci Tbk dan PT Lippo Cikarang Tbk menjadi motor penggeraknya.

 

Melalui Lippo Karawaci pula kelompok usaha ini merambah bisnis ritel-selain juga digarap oleh PT Matahari Putra Prima Tbk-dan healthcare, selain tentunya secara spesifik menggarap properti seperti pembangunan proyek terpadu skala besar semacam Lippo Karawaci (Lippo Village), St. Moritz, dan Kemang Village. Sedangkan Lippo Cikarang khusus mengembangkan proyek properti terpadu berskala kota di Bekasi, Jawa Barat.

 

Di bidang perhotelan, Lippo menerobos melalui Aryaduta & Resort Group dengan mengelola hotel dan resor yang tersebar di Jakarta, Tangerang dan Carita (Banten), Cikarang (Bekasi), Puncak (Bogor), Medan, Pekanbaru, Palembang, serta Makassar.

 

Bisnis ritel

 

Di bidang ritel, selain 25 mal yang dikelola PT Lippo Karawaci Tbk, bisnis ini juga dikembangkan oleh PT Matahari Putra Prima Tbk. Selain mengelola Matahari Department Store, perusahaan ini juga mengendalikan Hypermart, Foodmart, Food Junction, arena bermain Timezone, Times Bookstores, dan perusahaan distribusi Bintang Sidoraya.

 

Hypermart, setelah merasa sebagai investor lokal yang didominasi asing selama 6 tahun, kini menjelma menjadi pesaing kuat di bidang ritel bagi perusahaan raksasa asal Prancis, Carrefour. Belakangan Carrefour di Indonesia dikuasai pengusaha nasional Chairul Tandjung, kondisi yang disyukuri James.

 

Untuk pendidikan, James menegaskan bahwa setiap keuntungan yang diperoleh akan dikembalikan kepada masyarakat melalui beasiswa. Karena itulah, bisa disebut bidang pendidikan digeluti Lippo melalui Yayasan Pendidikan Pelita Harapan mengedepankan aspek moralitas sebagaimana pengakuan James. "Seluruh perusahaan di Lippo ini kita jalankan bukan sekadar komersial, tetapi ada aspek moralitas."

 

Di bidang media, James mengaku Lippo masuk ke bisnis ini disebabkan ketidak-sengajaan, karena membantu kawan yang terkendala modal. Tetapi, begitu masuk ke bisnis media, bermunculanlah berbagai tawaran termasuk menerbitkan surat kabar berbahasa Inggris.

 

Ke depan, dengan pertimbangan kue iklan televisi yang teramat besar dibandingkan dengan media cetak, dia mengarahkan Lippo untuk lebih mengembangkan bisnis pertelevisian. Di bidang ini, Lippo kini memiliki First Media. "Larinya ke konvergensi media, tidak ke print."

 

Bagi Lippo, salah satu bisnis yang terkuat untuk dikembangkan pada masa mendatang ialah ICT. James menegaskan Lippo akan menggarap Cloud yakni gelombang berikutnya setelah 4G yang kini digeluti grup tersebut.

 

Di Amerika Serikat, perusahaan kecil bernama 3 PAR yang menjadi pionir dan menggeluti bidang Cloud. 3 PAR pun kemudian diperebutkan dua raksasa, Hewlett-Packard-yang akhirnya memenangi pertarungan dengan tawaran US$2,07 miliar-dan Dell. Cloud merupakan bisnis yang sangat futuristik.

 

Selain sejumlah bidang garapan yang telah sukses digarap, James tidak menutupi rencana Lippo untuk kembali menekuni perbankan, bisnis di mana baik Lippo maupun keluarga Riady memiliki kompetensi. "Setiap hari ada saja orang yang menawarkan masuk kembali ke perbankan dan bekerja sama. Itu selalu opsi yang kami buka dan akan kami kaji," ungkap James.

 

Dia pun berjanji dalam setahun ke depan ada keputusan Lippo untuk kembali menggeluti perbankan.

 

Inovasi & fokus

 

James mengakui bahwa Lippo mengandalkan inovasi sebagai salah satu strategi yang membuat Lippo melaju pesat. Di bidang properti, kelompok usaha ini termasuk yang cukup menjual gambar untuk memasarkan properti, selain membentuk Lippo Land Club yang ikut memasarkan properti-properti dagangan perusahaan itu.

 

Soal inovasi, James tidak mewajibkan diri untuk betul-betul menghasilkan sesuatu yang orisinil. "Tidak ada yang baru di bawah langit. Kita mencari excellence dan originality. Tetapi kalau harus pilih salah satu, kita pilih excellent. Jangan original tapi tidak excellent."

 

Hal lain yang mendorong maju Lippo adalah fokus pada bidang yang telah diputuskan untuk digarap. "Kami harus fokus. Apa yang sudah kami miliki biarlah kami tekuni. Artinya setia pada hal-hal kecil karena [dengan begitu] nantinya kita diberi kesempatan untuk menjadi lebih besar," papar James.

 

Yang juga menjadi prinsip bisnis Lippo ialah mengembangkan diri dengan bermitra. James menggarisbawahi kemitraan itu haruslah untuk jangka panjang. Dia menegaskan bahwa Lippo berpikir jauh. "Ketika kami berpikir jauh, pada potongan jangka waktu pendek kami bisa disalahtafsirkan. Orang yang salah tafsir masuk waktu salah dan keluar waktu salah bisa rugi. Tetapi siapa pun yang berinvestasi dengan Lippo untuk jangka panjang, pasti tidak rugi," ucap James sekaligus menjawab pertanyaan mengenai sempat munculnya sejumlah tudingan miring kepada langkah bisnis Lippo.

 

Profesionalisme juga merupakan salah satu kiat sehingga Lippo meluncur cepat ke depan. James mengaku tak menyiapkan anak-anaknya menjadi penerusnya. Sejalan dengan prinsip mengedepankan profesionalisme itu, hari ini Theo L. Sambuaga, tokoh politik Partai Golkar dan selama ini menjadi komisaris independen PT Lippo Karawaci, diresmikan sebagai pengendali Lippo Group.(maria.benyamin@bisnis.co.id/syahran.lubis@bisnis.co.id)

 

*Untuk membaca berita lainnya, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com atau klik epaper Bisnis Indonesia jika Anda ingin berlangganan koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top