PRISCA DEWANTI BATUBARA Tak Mau Terjebak Nama Besar

 
Djony Edward | 23 Juni 2012 14:52 WIB

 

Meski kiprahnya kini tak lagi banyak berurusan dengan dunia pasar modal, sosok yang satu ini termasuk satu ujung tombak perkembangan industri pasar modal di Indonesia, terutama dalam meletakkan fondasi produk reksa dana.
 
Siapa sangka pula, perempuan yang satu ini sengaja ’menepi’ dari hiruk-pikuk kekuasaan saat itu. Dilahirkan sebagai putri seorang menteri dan pejabat pada era Presiden Soeharto, tentu memberi banyak peluang dan kemudahan yang bisa dimanfaatkannya.
 
”Waktu itu saya ngomong ke bapak saya ingin sekolah ke luar negeri. Umur 14 tahun saya sudah coba-coba daftar sekolah ke Florida AS. Baru benar-benar bisa sekolah di luar negeri saat usia saya 15 tahun, waktu itu ke London Inggris,” ujar Prisca Dewanti Batubara.
 
Prisca, begitu biasa dia disapa merupakan putri kedua dari Cosmas Batubara, salah satu sosok penting dalam pemerintahan Soeharto kala itu.
 
Cosmas Batubara merupakan menteri pertama yang dipilih Soeharto untuk membidangi urusan perumahan rakyat. Jabatan Menteri Negara Perumahan Rakyat disandang mulai Maret 1983-Maret 1988.
 
Kiprah Cosmas Batubara sebagai menteri berlanjut saat ditunjuk presiden menggantikan Sudomo mengisi jabatan sebagai Menteri Tenaga Kerja periode 1988 - 1993.
 
”Bisa saja waktu itu saya memanfaatkan jabatan bapak saya. Tapi saya memilih tidak tinggal di Jakarta dan mencari sekolah di luar negeri,” ungkapnya.
 
Prisca menetap di London selama 10 tahun. Dia menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi di negeri Ratu Elizabeth tersebut. Negara itu juga yang dijadikan tempat awal dirinya mengenyam dunia kerja.
 
Boleh dibilang, aktivitas kerja yang dilakoninya saat ini bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya ketika kuliah di University of Reading Inggris. Di kampus tersebut, Prisca mengambil jurusan Teknologi Pangan.
 
Uniknya lagi, pengalaman kerja yang diperolehnya pertama kali justru berada di industri keuangan. ”Justru pertama kali kerja saya ini jadi fund manager di UBS Bank,” tuturnya.
 
 
Pulang ke Tanah Air
 
Pekerjaan di institusi keuangan inilah yang membawa dirinya lebih banyak berkecimpung di dunia pasar modal. Sekitar 1996, Prisca pulang ke Tanah Air, setelah satu dekade berada di London.
 
Kepulangannya ke Indonesia membawa angin baru bagi industri keuangan, terutama menyangkut perkembangan produk reksa dana. Dia termasuk generasi awal yang memperoleh lisensi sebagai wakil manager investasi (WMI).
 
”Waktu itu reksa dana masih jadi barang baru, kalau sekarang mungkin sudah umum. Saya ikut menggalakkan sosialisasi reksa dana, termasuk angkatan awal juga yang memperoleh lisensi WMI,” tuturnya.
 
Baru setahun di Jakarta, sekitar akhir 1997 Jakarta Stock Exchange [Bursa Efek Indonesia] dan Amsterdam Stock Exchange menggelar program pertukaran. Perwakilan Indonesia dikirim ke Amsterdam Belanda selama 2 pekan.
 
Dalam rombongan itu, Prisca termasuk yang berada di dalamnya. Siapa sangka pula, program tersebut membuat dirinya menemukan tambatan hati. Pria Belanda yang kini setia mendampingi Prisca sebagai suami dan bapak dari dua anaknya.
 
Meski telah melanglang buana dan tinggal di sejumlah negara, seperti Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, nama Prisca Batubara akrab terdengar saat dirinya menduduki posisi sebagai Sekretaris Perusahaan PT Agung Podomoro Land Tbk yang menggelar penawaran saham perdana pada 2010.
 
Keterlibatan dirinya dengan bisnis properti yang dikendalikan oleh pengusaha Trihatma K. Haliman ini dimulai pada 2009, saat perusahaan tersebut pertama kali meluncurkan office tower di kawasan Jakarta Barat.
 
Di perusahaan tersebut, Prisca awalnya masuk sebagai konsultan untuk menggerakkan penjualan ruang perkantoran yang merupakan produk baru raksasa properti di Indonesia ini.
 
”Agung Podomoro awalnya lebih banyak bangun mal, apartemen, sama landed house. Office tower termasuk proyek baru,” katanya.
 
Tak lama berselang, Agung Podomoro siap-siap meramaikan bursa saham Indonesia dengan mencatatkan namanya di BEI. Melihat latar belakang Prisca sebagai seorang bankir, dia memperoleh tawaran masuk dalam tim IPO.
 
”Kebetulan saya pernah punya pengalaman dengan orang-orang bursa dan relatif dekat. Dari sisi ketentuan, setiap perusahaan IPO juga harus punya corsec [Corporate Secretary] dan saya ditunjuk untuk mengisi posisi itu,” ceritanya.
 
Sejak awal, keputusan menempati posisi sebagai sekretaris perusahaan di perusahaan dengan ticker APLN tersebut dijalani untuk sementara waktu, sembari mencari sosok yang tepat untuk menduduki jabatan itu.
 
”Dari awal memang saya menduduki posisi itu sambil jalan mencari orang untuk transisi. Bukan apa-apa, saya punya dua anak dan saya ingin ada balancing saja. Lagi pula ada sejumlah aturan yang harus saya patuhi di APL,” paparnya.
 
Kedekatannya dengan Agung Podomoro Land memang tak bisa dilepaskan begitu saja. Saat ini Prisca tengah memperoleh tugas mulia mengembangkan North Jakarta International School (NJIS). Dunia pendidikan yang memang telah lama digemarinya.
 
Belum lama ini, Agung Podomoro telah membeli lisensi NJIS yang diharapkan menjadi mercusuar bagi perusahaan tersebut dalam mengembangkan dunia pendidikan. 
 
”Pak Tri [Trihatma K. Haliman] ngomong ke saya, ini sekolah bagus tolong bantu kembangkan,” katanya.
 
Masuknya Prisca Batubara ke dunia pendidikan membuncahkan kembali semangatnya. Dunia pendidikan seakan menyuguhkan warna baru dalam perjalanannya. Dia pernah mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah dan sempat menggantung cita-cita mendirikan sekolah sendiri.
 
Cita-cita yang masih ingin digapainya, entah kapan nanti. (arief.setiaji@bisnis.co.id) (sut)
 
 
 
*) Artikel ini diambil dari Bisnis Indonesia Weekend edisi 17 Juni 2012.

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top