Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Feedback & Calling

Ketika rencana Tuhan tidak berjalan baik karena ketidakmampuan mengenali diri kita sendiri, maka Tuhan memberikan alat yang lebih canggih yang kita kenal dengan feedback--
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 04 Maret 2013  |  06:53 WIB
KIAT MANAJEMEN: Feedback & Calling
Bagikan

Ketika rencana Tuhan tidak berjalan baik karena ketidakmampuan mengenali diri kita sendiri, maka Tuhan memberikan alat yang lebih canggih yang kita kenal dengan feedback--

Ucapan orang di hadapan saya itu benar-benar membuat saya terhenyak. “Saya mengundurkan diri Pak. Saya sudah tidak mampu lagi membantu Anda,” katanya perlahan.

Sambil memikirkan bagaimana sebaiknya merespon permintaannya, saya teringat pertemuan pertama saya dengan Rendra – begitu ia biasa dipanggil -- sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, Rendra memperkenalkan perusahaan public relation (PR) yang baru ia dirikan bersama teman-temannya.

Rendra dan teman-teman sesungguhnya masih bekerja sebagai wartawan di beberapa media, tetapi ia telah merintis sebuah perusahaan untuk masa depannya. Bidang PR yang ia pilih pun nampaknya memang sudah sesuai dengan profesi kewartawanan yang selama ini ia geluti.

Sebagai wartawan sudah tentu ia memiliki koneksi yang luas dengan berbagai narasumber dan tokoh penting di berbagai bidang. Ia juga mahir berkomunikasi secara lisan dan tulisan. Selain itu sebagai wartawan tentunya ia sangat memahami kondisi kebatinan rekan-rekan seprofesinya. Ini tentu akan sangat memudahkan tugasnya sebagai konsultan PR.

Itulah alasan saya bekerja sama dengan Rendra. Kebetulan saya sedang merancang  strategi promosi untuk buku terbaru saya I Love Monday. Pengalaman menerbitkan lima judul buku sebelumnya membuktikan bahwa tanpa promosi yang memadai tak mungkin sebuah buku bisa dikenal masyarakat luas. Ini karena persaingan di dunia perbukuan sudah sedemikian sengitnya.

Dalam situasi demikian kita tak dapat lagi berharap dari penerbit apalagi dari toko buku. Karena itu tanpa promosi yang baik sebuah buku hanya akan bertahan beberapa hari di toko dan setelah itu akan hilang lenyap di telan bumi. Kalau sudah demikian maka upaya si penulis menyebarluaskan gagasan melalui bukunya akan menemui jalan buntu.

Tak sekadar mempromosikan karya terbaru saya, penampilan Rendra dan teman-teman yang sungguh meyakinkan telah membuat saya meminta bantuannya untuk juga menangani segala sesuatu yang berkaitan dengan kehumasan di perusahaan saya.

Sayangnya setelah berjalan beberapa lama Rendra tak mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Tentu saja sebagai pelanggan yang baik saya senantiasa memberikan masukan-masukan (feedback) berharga baginya.  Namun entah mengapa kinerja Rendra tak juga membaik. Inilah yang nampaknya menjadi alasan pengunduran dirinya.

Mencapai Calling

Saya menduga Rendra tak dapat menerima berbagai feedback yang saya berikan. Mungkin ia merasa tak nyaman dengan umpan balik, mungkin juga ia memang tak mampu memenuhi apa yang saya minta. Padahal permintaan saya masih dalam taraf yang wajar dan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Bukankah wajar kalau saya memintanya menjalankan semua  pekerjaan yang telah ia janjikan? Bukankah wajar kalau saya memintanya untuk membangun hubungan dengan berbagai pihak karena bukankah memang demikian pekerjaan seorang konsutan kehumasan?

Namun, ternyata Rendra menganggap hal tersebut sudah di luar kemampuannya. Karena tak ingin ia mengundurkan diri maka saya berusaha mempersuasinya. Kepadanya saya katakan bahwa ia sungguh beruntung mempunyai pelanggan seperti saya yang banyak memberikan umpan balik dan kesempatan padanya untuk menunjukkan kinerja terbaiknya.

Feedback sesungguhnya adalah sebuah hukum alam, sebuah mekanisme yang diciptakan Tuhan agar kita dapat mengerahkan kemampuan terbaik kita untuk menyelesaikan masalah. Ketika lahir ke dunia ini sesungguhnya kita membawa potensi yang amat dahsyat yang telah dititipkan Tuhan.

Tugas kita di dunia ini adalah menemukan  potensi tersebut dan mengembangkannya semaksimal mungkin sehingga kita dapat menjadi yang terbaik di bidang kita masing-masing. Namun, dalam banyak kasus tak semua potensi itu keluar menjadi tindakan nyata. Banyak potensi yang terbuang sia-sia. Inilah yang membuat kita menjadi manusia yang biasa-biasa saja, bukan menjadi yang terbaik di bidang kita masing-masing.

Padahal Tuhan menciptakan setiap kita untuk menjadi yang terbaik. Tuhan telah membekali kita dengan potensi yang luar biasa yang bisa kita manfaatkan untuk menjalani calling kita masing-masing. Nah, ketika rencana Tuhan ini tidak berjalan dengan baik karena ketidakmampuan kita mengenali diri kita sendiri maka Tuhan memberikan alat yang lebih canggih lagi yang kita kenal dengan istilah feedback.

Di sinilah Anda akan dipertemukan dengan pelanggan yang mempunyai standar yang tinggi,  dan banyak menuntut. Dalam karier saya sebagai konsultan saya sering menjumpai pelanggan yang seperti itu.

Mereka tak segan-segan memberikan feedback, kadang-kadang cukup keras dan tak enak didengar. Mereka tak ragu-ragu untuk mengeluh dan mengemukakan harapan yang sangat tinggi yang mungkin tak mampu saya penuhi dengan kompetensi saya pada waktu itu.

Namun, saya tak pernah sedikitpun berkecil hati dengan feedback yang mereka berikan. Saya sadar bahwa orang-orang ini telah khusus diturunkan Tuhan untuk mengeluarkan semua potensi terdahsyat yang saya miliki.

Tentu saja saya harus memutar otak, tak enak makan dan tak nyenyak tidur selama berhari-hari, tapi perjuangan saya untuk memuaskan pelanggan senantiasa berakhir dengan kebahagiaan yaitu ketika mereka betul-betul merasa terbantu dengan solusi yang saya berikan.

Yang lebih menarik lagi adalah bahwa ternyata tanpa saya sadari, ketika saya berhasil memberikan solusi yang memuaskan pelanggan maka kemampuan dan kompetensi saya jauh meningkat dibanding sebelumnya. Memang benar, ketika saya menemui masalah tersebut saya tak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya. Tetapi ketika saya berusaha bekerja keras dan memutar otak tanpa saya sadari ternyata kemampuan saya sudah jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Inilah yang membuat masalah yang dulunya begitu besar kini nampak tak seberapa dan biasa-biasa saja.

Sesungguhnya kita perlu bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang mau menantang kita dengan feedback yang jujur dan terbuka. Hanya dengan cara inilah potensi kita akan keluar dan termanfaatkan dengan maksimal.

Namun, bagaimana pun saya menyadari bahwa Rendra bukanlah saya. Maka ketika ia tetap berkeras mengundurkan diri, saya tak dapat menahannya sama sekali. Saya hanya menyayangkan bahwa Rendra sudah menolak hadiah terbesar yang diberikan Tuhan agar ia dapat menjadi PR yang hebat.

Kalau demikian, maka saya bisa memastikan bahwa karier Rendra sebagai konsultan PR akan biasa-biasa saja. Konsekuensinya ia hanya akan dibayar dengan biasa-biasa saja. Mungkin ia memang nyaman menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Namun, yang pasti ia sesungguhnya telah melalaikan calling terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya untuk membantu orang lain melalui upaya kehumasan. Ini menggiring saya kepada sebuah dugaan bahwa jangan-jangan kehumasan sebetulnya bukanlah calling Rendra sama sekali.

Ia hanya kebetulan menemukan pekerjaan ini sebagai sarana untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Dugaan saya semakin menguat karena menemukan fakta baru bahwa Rendra kini malah menerjuni bidang  jual menjual properti dan mobil bekas. (msb)

 *Happiness Inspirer & Penulis Buku “I Love Monday” http://www.arvanpradiansyah.com/

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajemen pr komunikasi feedback

Sumber : Arvan Pardiansyah

Editor : Others
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top