Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KISAH SUKSES: Anjar Osaka, Bisnis Susu Makin Besar

Anjar Osaka sejatinya adalah seorang petani yang sukses membudidayakan kentang. Pendidikannya di bidang pertanian Universitas Wiyana Mukti di Jawa Barat membantu laki-laki itu untuk mengembangkan organisasi petani yang profesional.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 14 Maret 2013  |  13:24 WIB
KISAH SUKSES: Anjar Osaka, Bisnis  Susu Makin Besar
Bagikan

Anjar Osaka sejatinya adalah seorang petani yang sukses membudidayakan kentang. Pendidikannya di bidang pertanian Universitas Wiyana Mukti di Jawa Barat membantu laki-laki itu untuk mengembangkan organisasi petani yang profesional.

Laki-laki yang mengaku berasal dari keluarga sederhana itu harus banting tulang untuk memenuhi pendidikannya. Salah satu upaya Anjar adalah menjadi petani kentang. Guna mengembangkan kemampuan petani, dia selanjutnya berinisiatif mendirikan kelompok tani pada 1994.

Kiprah berorganisasi Anjar tidak berhenti sampai di sini. Pada 15 Januari 1997, dia mendirikan Agropurna Mitra Mandiri yang berkonsentrasi pada pengembangan kemampuan petani dan peternak terutama di Jabar.

Selain itu, dia mengembangkan sayap organisasi dengan menjadi koordinator bagi peternak sapi perah di kawasan Lembang, Bandung, Jawa Barat. Tentu saja bukan pekerjaan mudah untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.

Tujuannya memang mulia, untuk memberikan penghasilan yang lebih baik bagi peternak sapi yang hanya memiliki sedikit ternak di kandangnya.

Alumni sarjana pertanian dari Universitas Wiyana Mukti di Sumedang, Jawa Barat tersebut memahami, jika peternak sapi tidak bersatu, daya tawarnya sangat lemah.

Daya tawar yang tinggi sangat diperlukan petani terutama pada waktu memasarkan produksi susu yang dihasilkan setiap hari. Meski demikian, Anjar tidak pernah menganggap dirinya sebagai pahlawan bagi peternak sapi di kawasan Lembang Utara.

Dia mendirikan Agropurna Mitra Mandiri (AMM) membutuhkan komitmen dan pengorbanannya sangat besar.

Anjar menjelaskan dari sisi konsentrasi misalnya, setiap hari dia harus memperhatikan 1.740 kelompok ternak agar rutin menjalankan
fungsinya sebagai pendistribusi susu yang selanjutnya didistribusikan kembali kepada perusahaan industri skala nasional.

Pendekatan secara kekeluargaan juga dilakukannya untuk mendorong seluruh peternak menjaga kualitas dan kapasitas produksi susunya.
Pertama kali mengelola dengan fungsi pengepul atau koordinator pemasaran susu pada 2007, kapasitasnya hanya sekitar 1.300 liter per hari.

“Saat ini total produksi susu yang dihasilkan seluruh kelompok ternak di bawah Agropurna Mitra Mandiri mencapai 23 ton per hari. Semuanya
bisa diserap mitra kami sebagai perusahaan industri yang menghasilkan berbagai komoditas dari bahan baku susu sapi,” kata ayah dari dua
putra ini.

Dengan asumsi pembelian susu dari peternak sebesar Rp3.200 per liter, maka omzet dari ke-1.740 anggotanya mencapai Rp55 juta lebih per hari. Sebesar itu pula dana yang harus dialokasikannya untuk memenuhi penjualan susu peternak.

Namun faktanya, Anjar yang sempat belajar mengenai peternakan dan pertanian selama 2 tahun di Australia, tidak perlu mengeluarkan dana sebesar itu untuk membeli susu dari petani. Hal ini disebabkan di antara peternak juga mempunyai
kewajiban membayar piutang mereka.

Setiap kali peternak ingin meningkatkan kapasitas produk, solusinya adalah penambahan hewan. Lalu, Anjar membeli ternak dan menyerahkan
pengelolaannya kepada anggota.

Dari setiap setoran produk itulah Anjar memotong kewajiban pembayaran. Sebenarnya, kata pria tersebut, potongan tidak dilakukan secara utuh. Komitmen dengan peternak tetap dijaga sesuai dengan perjanjian.

Tidak semua penjualan dipotong, karena peternak juga masih harus mempunyai anggaran untuk pengelolaan kandang serta keperluan rumah tangga. Jadi, prinsip saling menguntungkan tetap diprioritaskan melalui kemitraan tersebut. Anjar juga berhasil mengurangi biaya operasionalnya untuk menjemput atau mengoleksi susu setiap peternak. Bagi setiap peternak yang menyetorkan susu, setiap liter diimbali senilai Rp100.

Diakui, memang ada biaya khusus ketika menerima susu di lokasi penampungan, tetapi dia juga berhasil melakukan penghematan biaya operasional. “Sebab, saya tidak perlu mengoperasionalkan kendaraan besar mengoleksi susu mitra.”

Dengan mengedepankan pola tersebut, maka secara umum kelompok ternak di bawah Agropurna Mitra Mandiri, benar-benar mampu menjadi peternak mandiri baik dari sisi finansial maupun pengelolaan hewan ternak.

Sesuai dengan pemantauan Anjar, rata-rata peternak mitranya kini memiliki kendaraan pribadi sebagai entitas baru dari kehidupan peternak yang mampu meningkatkan status ekonominya. Di sinilah kelebihan Anjar mengelola status ekonomi anggotanya sebagai peternak sapi perah.

Adapun pada bisnis budi daya kentang yang telah mencapai 15 hektare, Anjar memang tidak memiliki beban karena secara utuh area itu dikusainya secara pribadi. Akan tetapi dia memberdayakan masyarakat sebagai tenaga kerjanya.

Melalui pertanian ini pula Anjar mampu meningkatkan produk kentangnya setelah memanfaatkan kotoran sapi di berbagai lokasi. Kotoran tersebut sejak beberapa tahun belakangan dimanfaatkan sebagai penyubur ladang kentangnya.

”Saya memanfaatkan mesin dengan teknologi sederhana untuk mengelola kotoran itu menjadi pupuk. Kapasitas panen saya sampai saat ini meningkat sekitar 5 ton per panen dari sebelumnya 17 ton menjadi 22 ton untuk sekali panen,” ungkap Anjar.

KISAH KARTU KREDIT

Namun, laki-laki ini sempat mengalami pahit getirnya kehidupan. Ketika membangun Agropurna Mitra Mandiri, dia didukung enam rekannya sebagai pemilik perusahaan.

Ketika kondisi tengah genting, satu per satu mitranya mengundurkan diri. Situasi itu berdampak pada kemapanan finansial. Pada saat itu pula dia mendapat tawaran untuk belajar mengelola sapi dan pertanian di Australia.

Ketika meninggalkan Bandung, dia lupa membayar tagihan kartu kredit yang jumlahnya cukup besar bagi ukuran Anjar. Kewajiban itu harus ditanggung istrinya.

“Istri saya dinyatakan bisa membuat lunas seluruh utang apabila hadir ke kantor bank itu. Dengan catatan, berdiri dan membuka seluruh pakaiannya di depan sang petugas. Dengan demikian utang saya dinyatakan lunas. Sangat kasar dan kurang ajar,” tutur Anjar.

Sekembali dari Australia, dia langsung menuju bank tersebut untuk menemui pejabat yang menyuruh istrinya tidak berbusana. Karena tidak bertemu, dia tidak bersedia membayar kewajiban pembayaran.

Meski pada akhirnya dia melunasi piutang, Anjar sampai saat ini belum mengenali petugas yang dinilainya melanggar kode etik. Akibat dari penunggakan kewajiban kartu kredit tersebut, Anjar masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia.

Pengajuan kreditnya bahkan sempat beberapa tahun tidak dilayani perbankan. “Itu adalah bagian dari masa lalu, yang jelas peristiwa semacam itu mungkin harus dialami untuk membuat seseorang lebih kuat. Bagi saya keberhasilan ini bukan untuk pribadi semata. Semua yang saya lakukan ini untuk kemapanan bagi mereka yang ingin bekerja tekun menghasilkan rejeki.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

agribisnis sapi susu kentang

Sumber : Mulia Ginting Munthe

Editor : Others
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top