Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Delusi, Sudutkan Orang Untuk Bertindak yang Mengacaukan Situasi

--- Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis. Kepercayaan itu begitu kukuh walaupun terdapat bukti yang berlawanan dengan kepercayaan itu.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Juni 2013  |  00:44 WIB

--- Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis. Kepercayaan itu begitu kukuh walaupun terdapat bukti yang berlawanan dengan kepercayaan itu.

“ Tiga racun mematikan dalam dunia ini: Kerakusan, kemarahan dan delusi.” Buddha

Berbicara soal posisi, tahun ini adalah tahun ‘kuda-kuda’ bagi banyak orang untuk berebut posisi dalam pemilihan umum tahun depan. Posisi sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (hingga tulisan ini diketik, ada 6.577 calon), Presiden, menteri dan segenap jajarannya - lebih jauh hingga DPRD - terbentang di depan mata.

Sudah mulai nampak, pacuan perburuan posisi ini dimulai. Sudah banyak yang  pasang kuda-kuda ( bahkan sebagian, dalam gaya yang lebih santun, mereka sudah mulai mencuri start ).

Tulisan ini – hakikinya ditujukan bagi para peminat dan peserta perburuan posisi itu - bahwa ada hal-hal yang perlu Anda pertimbangkan dengan ambisi itu. Hal-hal  yang layak dievaluasi sebelum terjun bertarung, agar tiada sesal dan mudarat sesudahnya.

Hal yang utama adalah menakar diri. Sudah layakkah Anda berangkat mencalonkan diri, melamar pekerjaan atau posisi itu?

Sudah siapkah Anda dengan segala bekal sebagaimana dituntut oleh pemegang posisi yang Anda inginkan itu?

Bagaimana tingkat kompetensi, pengalaman dan terlebih dari itu, karakter yang dikehendaki oleh masyarakat kita yang makin pintar ini? Juga, sudah siapkah bila ambisi Anda itu berujung pada kegagalan (habis-habisan menghamburkan modal, ternyata Anda bertepuk sebelah tangan; “lamaran” Anda ditolak rakyat )?

Hal mendasar adalah soal percaya diri. Ada suatu adagium psikologi-motivasi agar orang bisa meraih sukses: Orang yang percaya diri adalah orang-orang yang berprestasi, dan demikian sebaliknya, secara resiprokal (bertimbal-balik),  orang-orang yang berprestasi, adalah orang-orang yang percaya diri. Percaya diri (self-confidence) itu memang amat penting.

Namun –sudah hukum alamnya- segala sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang benar. Termasuk, percaya diri yang berkelebihan (dalam bahasa gaul: over-pede), adalah hal yang berpotensi merugikan.

Kerugiannya adalah bila Anda over-pede, dan ternyata kemudian Anda gagal – dalam hal ini tak terpilih meraih posisi yang Anda inginkan – Anda kehilangan modal finansial dan mengalami kekecewaan.

Dalam dunia psikologi, dalam konteks ini, dikenal suatu kata yang relevan: DELUSI. Arti delusi kurang lebih adalah keyakinan yang dipegang secara kuat, tetapi tidak akurat.

Bukti-bukti menunjukkan keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam realitas. Dan dalam konteks artikel ini pula, suatu jenis delusi yang relevan dengan soal ambisi terhadap kekuasaan ini disebut sebagai delusion of grandeur ( DOG ).

Catatan: Ada beberapa jenis delusi lain, yaitu: capgras delusion (CD) adalah fenomena kita merasa yakin kalau keluarga atau teman dekat kita sebenarnya adalah orang lain yang wujudnya sama persis.

Itu seperti cerita-cerita di film alien, di mana tubuh manusia diambil alih oleh mahluk luar angkasa agar bisa hidup berdampingan dengan manusia biasa.

Khayalan ini biasa terjadi pada penderita schizophrenia atau kelainan mental lain. Lalu ada pula: fregoli delusion, yaitu fenomena otak yang sangat jarang terjadi. Orang yang mengalami FD sangat percaya kalau beberapa orang yang sebenarnya dia kenal adalah SATU orang yang melakukan penyamaran.

Catatan: Fregoli berasal dari nama seorang actor Italia, Leopoldo Fregoli yang piawai merubah penampilan dengan cepat dalam pertunjukannya.

Delusion of grandeur (DOG), atau  “delusi kehebatan atau kebesaran diri” ini adalah suatu delusi bahwa yang bersangkutan adalah orang yang jauh lebih hebat, atau lebih berkuasa atau lebih berpengaruh dari pada keadaan sesungguhnya.

Salah satu contoh yang tragis adalah manakala Muamar Khadaffi, di tengah proses kejatuhannya, dalam wawancaranya dengan seorang wartawati CNN, menyatakan bahwa ia bersikukuh, segenap rakyat Libya masih mencintainya.

Segenap rakyat akan melindungi dirinya sebagai pemimpin Libya, menurut Khadaffi. (Dalam kenyataan, kita tahu, rakyat Libya sudah tak menghendakinya lagi).

Si wartawati hanya termangu melihat kekukuhan sikap Khadaffi. Si wartawati berkomentar singkat, “Khadaffi telah mengalami delusi (dalam hal ini delusion of the grandeur).”

Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang bersifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit). Kepercayaan itu begitu kukuh walaupun terdapat bukti yang berlawanan dengan kepercayaan itu.

Sebagai penyakit, delusi berbeda dari kepercayaan yang berdasarkan pada informasi yang tidak lengkap, atau salah, atau dogma, kebodohan, memori yang buruk, atau efek lain dari persepsi.

Delusi menyudutkan seseorang untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. (Nevid, Jeffrey, Psikologi Abnormal).

Xavier Amador, seorang professor  psikiatri, dari Columbia yang ahli dalam soal delusi ini menyatakan, “Orang-orang yang delusi benar-benar tidak memproses realitas. 

Saya sampai pada kesimpulan bahwa orang yang delusi adalah pengkhayal sejati. Dan bahkan di belakang itu, penderita delusi akut, cenderung memiliki skizofrenia paranoid.”

Demikianlah. Menyongsong 2014, di luar pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat dan Presiden, konon juga ada pilkada di 279 kabupaten/kota. Soal biaya mahal itu jelas (biaya calon legislator antara Rp 1 miliar hingga Rp1,5 miliar.

Menurut Menteri Dalam Negeri, di Jawa Timur, dana seluruh pilkada mencapai Rp1 triliun). Namun yang lebih patut disayangkan adalah bila ternyata seluruh usaha dan biaya itu mubazir, sia-sia.

Sayang, bila ternyata Anda - para calon - hanya berangkat dengan berbekal percaya diri yang berlebih; percaya diri yang mengarah kepada DOG.

Sayang. Karena demikian besar dampak kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh delusi ini, sebagaimana dikatakan oleh Buddha, “Terdapat tiga racun mematikan dalam dunia ini, yaitu   kerakusan, kemarahan dan delusi.”

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr politik presiden menteri dalam negeri

Sumber : Pongki Pamungkas, Ketua Umum ASPERKINDO (Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia)

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top