Pentingnya Kemampuan Berbahasa Asing

Tidak semua tenaga kerja di badan usaha milik negara (BUMN) memiliki kesempatan atau pengalaman bekerja di luar Indonesia. Pengalaman itu berguna untuk membentuk wawasan yang lebih luas mengenai tantangan, peluang, dan harapan yang dihadapi BUMN.
Yodie Hardiyan | 02 Januari 2016 14:30 WIB
Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Suradi. - Wika

Bisnis.com, JAKARTA - Tidak semua tenaga kerja di badan usaha milik negara (BUMN) memiliki kesempatan atau pengalaman bekerja di luar Indonesia. Pengalaman itu berguna untuk membentuk wawasan yang lebih luas mengenai tantangan, peluang, dan harapan yang dihadapi BUMN.

Salah satu eksekutif BUMN yang pernah memiliki pengalaman bekerja di luar Indonesia adalah Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Suradi. Dia pernah bekerja di salah satu proyek Wijaya Karya (Wika) di Aljazair.

Pada 2007, Wika yang bergerak di bidang konstruksi itu menangani proyek pembangunan jalan bebas hambatan yang menghubungkan Aljazair dengan berbagai negara Afrika lainnya seperti Tunisia dan Maroko. Pada saat itu, Suradi bersama ratusan tenaga inti dan tenaga terlatih asal Indonesia bekerja sama dengan tenaga kerja dari berbagai negara seperti Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Aljazair, dan sebagainya.

Pertemuan antara Suradi dan tenaga kerja asing itu memperkuat kesadarannya mengenai pentingnya bahasa asing.

“Kita masih kalah soal berbahasa asing dibandingkan pekerja dari negara-negara lain,” katanya ketika bercerita kepada Bisnis.com. Bahasa asing yang dimaksud terutama adalah soal bahasa Inggris.

Penguasaan bahasa asing itu dianggapnya begitu penting untuk sejumlah keperluan, termasuk ketika bekerja di luar Indonesia. Ketika tinggal di Aljazair selama bebe-rapa tahun, Suradi harus bergaul dengan tenaga kerja dari berbagai negara.

Sebagian dari mereka juga tidak hanya menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian, melainkan juga bahasa Prancis. Supaya bisa berkomunikasi, Suradi mau tidak mau juga perlu menggunakan bahasa Prancis.

Situasi itu dianggap menguntungkan untuk pembelajaran bahasa asing. Suradi mengaku gemar mempelajari bahasa. Setelah bekerja di Wijaya Karya sejak dekade 1990-an,

Suradi kini berangan-angan agar BUMN mampu bersaing dengan korporasi-korporasi dari luar negeri dan menjalankan usahanya tidak hanya di Indonesia, melainkan juga seluruh dunia.

Menurutnya, BUMN dianggap perlu semakin memikirkan soal keterampilan dan kemampuan sumber daya manusia guna menghadapi tantangan yang kian berat. “Soal bahasa itu suatu keharusan yang dimiliki oleh pegawai,” kata laki-laki yang hobi bermain golf tersebut.

Suradi mengatakan penguasaan bahasa asing pada saat ini adalah salah satu syarat yang harus dimiliki oleh pekerja di Wijaya Karya. Penguasaan itu dibutuhkan karena Wijaya Karya tidak hanya menggarap proyek di Indonesia, tetapi juga proyek antarnegara dan antarbenua.

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (1/1/2016)

Tag : wijaya karya, bahasa
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top