Dewi Motik Minta Para Ibu Jangan Sok Sibuk

Dewi Motik Minta Ibu-ibu Jangan Sok Sibuk!
Tisyrin Naufalty Tsani | 26 Februari 2016 00:54 WIB
Dewi Motik - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa yang tak mengenal sosok Dewi Motik? Segudang kegiatan dan prestasinya membuat nama perempuan yang satu ini sangat familiar. Dia adalah perempuan pengusaha yang merupakan Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi). Sejak remaja, perempuan berjilbab ini sudah terbiasa mengantongi uang dari hasil jerih payahnya sendiri.

Dewi menghabiskan masa kecil di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Perempuan kelahiran Jakarta, 10 Mei 1949 ini beruntung karena lahir di tengah keluarga yang berkecukupan, serta taat beragama. Kedua orangtuanya yang sibuk, masih tetap mampu meluangkan cukup banyak waktu untuk anak-anaknya.

“Bahkan saat ada tamu, Ayah tetap bisa menemani saya belajar,” katanya.

Kala itu, Dewi kecil melihat tamu ayahnya malah menunggu sembari minum kopi. Selain menemani Dewi kecil belajar, sang ayah juga seringkali mengajak salat berjamaah. Dewi pun menilai kedua orangtuanya adalah sosok yang tidak banyak bicara, tetapi mengajari anak-anaknya hal-hal baik melalui tindakan nyata.

Pendidikan formal yang tinggi dan pondasi agama yang kuat, menjadi bekal bagi Dewi melengkah menapaki tangga kehidupannya. Tak hanya itu, dia juga tumbuh dengan materi yang berkecukupan serta belajar memperluas jaringan pergaulan sejak kecil.

Bagaimana tidak, ayahnya tak sungkan-sungkan mengenalkan Dewi kepada relasi yang merupakan orang asing dari berbagai negara. Secara otomatis, interaksi dengan orang asing membuatnya harus belajar Bahasa Inggris sejak dini.

 “Dari dulu saya sudah biasa salaman sama orang bule,” katanya.

Memasuki masa remaja, dia mempelajari kisah Siti Khadijah istri Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang wirausaha hebat. Dewi pun berpikir bahwa menciptakan uang adalah hal yang indah. Dengan memiliki materi yang berkecukupan, seseorang juga akan memliki kemampuan lebih untuk member atau berguna bagi orang lain.

Kala masih remaja, Pimpinan De Mono Group itu mampu mencetak uang dari hasil menjual kue buatannya serta bermain sulap. Rejeki itu dia dapatkan lewat relasi ayah ibunya di kedutaan.

Otak bisnisnya terus berputar. Saat harus menempuh pendidikan ke Florida, Amerika Serikat, dia membawa berbagai souvenir buatan Indonesia yang unik sebagai hadiah natal untuk teman-temannya, tak ada niatan untuk berdagang. Namun, saat melihat teman-temannya histeris dan mengucapkan kalimat seperti, “I want to buy this to Chrismast gift for my sister,” otak bisnisnya langsung menyala mendengarnya.

Meski masih harus menyelesaikan pendidikan, dia pun berbisnis souvenir dengan cukup serius dan sudah memiliki pembukuan. Dagangannya saat itu terbilang laris.

Sepulang menyelesaikan studi di Amerika Serikat, Dewi kemudian menjajal membuka usaha. Hingga akhirnya dia sempat merasakan mempimpin pabrik garmen dengan 3.500 karyawan. “Sekarang sih jumlah karyawannya sudah menyusut, kalah sama China,” katanya.

Berbagai jenis usaha dijajalnya, mengantarkan Dewi menjadi sosok yang matang untuk urusan wirausaha. Ibu dua anak itu kemudian tak sungkan membagikan ilmunya dengan menjadi dosen atau memberikan ceramah. Dia juga mengelola lembaga pendidikan.

Ke depan, dia punya tekad untuk lebih banyak berperan di bidang pendidikan. Lewat pendidikan, dia akan membantu mendorong generasi muda menjadi orang yang berhasil.

Prinsip hidupnya adalah senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dan hubungan baik dengan sesama manusia.”Orang yang paling berguna adalah yang paling banyak berbuat untuk orang lain,” katanya.

Dengan segala kesibukannya, istri dari Pramono Soekasno itupun sudah terbiasa untuk urusan membagi waktu. Buktinya, dia berhasil memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif untuk anak-anaknya. Untuk urusan membagi waktu dengan keluarga, Dewi berkaca pada orangtuanya sendiri yang berhasil melakukannya.

Menurut Dewi, ketika anak-anak sudah cukup mengerti, mereka dapat dikenalkan kepada aktivitas ibunya. Dewi kerap mengajak anaknya rapat atau meninjau ke pabrik, meski akhirnya sang anak kapok karena tak bisa main-main di tempat kerja sang ibu.

Pada dasarnya, semua orang dikaruniai waktu yang sama sebanyak 24 jam, Dewi selalu menentukan skala prioritas dalam menggunakan waktunya. “Jangan sok sibuk,” katanya.

Sibuk kerap dijadikan alasan bagi para ibu yang bekerja untuk tidak melakukan kewajibannya, misalnya memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada anak-anaknya. Padahal, menyusui pada dasarnya dapat dilakukan di mana saja, tak harus dengan duduk manis di kamar. Buktinya, Dewi berhasil melakukannya meski kesibukannya selama ini sangatlah padat.

 

Nama                           : Cri Puspa Dewi Motik Pramono

Nama populer              : Dewi Motik Pramono

Tempat, tanggal lahir  : Jakarta, 10 Mei 1949

Pendidikan                  :

  • S-1 Home Economic IKIP Rawamangun
  • S-1 Bachelor of Art di Florida International University Miami Florida, USA c.
  • S-2 Pengkajian Ketahanan Nasional di Univeritas Indonesia d.
  • S-3 Pendidikan dan Kependudukan & Lingkungan Hidup di Universitas Negeri Jakarta

Jabatan                        :

  • Pimpinan Umum De Mono Group (LPKK DE MONO dan Koperasi De Mono)
  • Komisaris Utama PT Natifa Berkah Utama
  • Ketua Kehormatan Presiden IWAPI Pusat

Karir Akademik

  • Dosen Seminar Kewirausahaan pada Fakultas Ekonomi di Universitas Trisakti dan Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta
  • Dosen Luar Biasa Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia pada Universitas Negeri Jakarta

Penghargaan

  • 08 Maret 2012 mendapat penghargaan sebagai “Penggerak Kewirausahaan” Menteri Negara Koperasi & UKM RI
  • 20 Juli 2007 menerima penghargaan “The Indonesia Small & Medium Business Enterpreneur Award 2007” oleh Menteri Koperasi & PPK serta Majalah Wirausaha & Keuangan di Hotel Sahid Jaya, Jakarta
  • 14 September 1991 penghargaan sebagai orang yang berjasa dalam bidang Pendidikan di luar sekolah dari Depdikbud
  • dll
Tag : pengusaha
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top