Belinda Wong, Rahasia Pertumbuhan Starbucks di China

Selama hampir dua dasawarsa terakhir, China telah menjadi pasar kunci bagi pertumbuhan Starbucks. Besarnya perkembangan jaringan kedai kopi ternama ini di Negeri Tirai Bambu tak lepas dari sosok Belinda Wong.  
Renat Sofie Andriani | 10 Agustus 2018 10:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Selama hampir dua dasawarsa terakhir, China telah menjadi pasar kunci bagi pertumbuhan Starbucks. Besarnya perkembangan jaringan kedai kopi ternama ini di Negeri Tirai Bambu tak lepas dari sosok Belinda Wong.  

Sejak bergabung dengan Starbucks pada Januari 2000, Wong telah dipercaya mengisi sejumlah posisi vital untuk kawasan China dan Asia Pasifik. 

Puncak karir mendatangi wanita kelahiran Hong Kong 47 tahun lalu tersebut ketika ditunjuk sebagai CEO Starbucks China pada 19 Oktober 2016.

Di bawah kepemimpinannya, Starbucks China membantu mendorong pertumbuhan pasar Starbucks secara global. Bagaimana tidak, setiap 15 jam ada satu kedai baru yang dibuka di negara itu.

Pribadinya yang bersahabat bisa jadi membuat para rekan dan pelanggan betah menongkrongi kedai-kedai Starbucks di China sekaligus menyebarkan harumnya kopi ke penjuru negara.

Bukan isapan jempol jika Wong didaulat menjadi salah satu wanita paling diperhitungkan di China. Bagi Wong pribadi, fokusnya saat ini bertambah dengan menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya.    

Keluarga adalah Segalanya

Dilansir dari laman resmi Starbucks, setiap Sabtu dalam beberapa waktu terakhir jadwal padat Wong berhenti. Ia memilih menemani sang Ayah yang diketahui menderita demensia.

Sebagai informasi, demensia merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional, seringkali disebabkan kelainan pada otak. Penderita demensia mengalami perubahan dalam cara berpikir dan berinteraksi, kerap mempengaruhi memori dan kemampuan motorik penderita.

Wong merasa berkewajiban menjaga dan merawat Ayahnya. Sekarang, ialah yang harus menjadi memori bagi sang Ayah, menceritakan kisah-kisah, ataupun menunjukkan hal-hal menarik kepadanya.   

“Di China, keluarga adalah segalanya. Ini tersimpan di dalam hati kami,” ujar Wong.

Seiring waktu, ketika demensia yang dialami Ayahnya telah berkembang dan peran yang dimiliki keduanya mulai berbalik, sifat hubungan mereka pun berevolusi bersama konsep yang dianut Wong tentang keluarga.

Tumbuh Bersama Starbucks

Selama 18 tahun tumbuh dalam Starbucks, konsepnya tentang keluarga berkembang dari tempat ia ‘dilahirkan’ menjadi suatu tempat bagi puluhan ribu rekannya yang harus ia pimpin dan rangkul secara bersamaan.

“Saya telah menemukan panggilan saya. Saya di sini untuk menjaga rekan-rekan saya dan melakukan apa yang dapat saya bantu. Bukan hanya mereka,tapi juga keluarga mereka,” tutur Wong.

Berbagai masukan ia dengarkan. Ia berupaya mencari jalan atas apa pun yang rekan-rekannya butuhkan. Ia memperkenalkan tunjangan asuransi kesehatan untuk orangtua para rekannya, juga menerapkan tunjangan perumahan.

Pada 2012, ia membantu meluncurkan Starbucks China University untuk mendorong peluang perkembangan rekan-rekannya di Starbucks.

Pada saat yang sama, bisnis Starbucks telah berkembang pesat. Setiap saat ada saja pegawai yang dipromosikan. Wong bahkan melihat kesempatan untuk membuat perbedaan dalam masing-masing pegawai yang baru dipekerjakan.

“Ini menjadi sesuatu yang benar-benar memotivasi saya untuk mempercepat pertumbuhan toko di China,” lanjut Wong.

Starbucks telah memiliki lebih dari 3.000 toko di China dan melayani berjuta-juta pelanggan setiap pekan. Di Shanghai saja, terdapat lebih dari 600 kedai Starbucks. Jumlah ini melebihi kota-kota lain di dunia. Target Starbucks selanjutnya adalah memiliki 5.000 toko di China pada 2021

Berawal dari Keluarga

Jalan untuk menjadi salah satu sosok paling berpengaruh di China dimulai dalam sebuah lingkungan kelas menengah di Hong Kong.

Wong adalah anak perempuan paling muda di keluarganya. Meski diberi banyak kebebasan di masa kecilnya, ia tidak pernah membuat orangtuanya khawatir dan kerepotan. Kebebasan itu bahkan dibalasnya dengan deretan prestasi yang membanggakan.

“Belinda adalah anak yang paling cemerlang dalam keluarga kami. Tak sulit baginya untuk mencapai apa yang ia inginkan,” tutur salah satu kakaknya, Margaret Wong.

Kehidupan keluarga ini berbalik arah ketika sang Ibu dan anak-anaknya pindah ke Amerika Serikat untuk membuka restoran China, sedangkan sang Ayah tetap tinggal di Hong Kong untuk mengoperasikan bisnis sendiri.

Kedua orangtua itu memutuskan langkah tersebut adalah yang terbaik dilakukan demi kesempatan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Segala perubahan dan perbedaan budaya yang dialami Wong pada masa itu pun membentuk pribadinya.

Di restoran keluarganyalah Wong mulai melihat kekuatan kebersamaan dan pertalian antar manusia melalui secangkir kopi, teh, atau makanan. Di sana tujuan hidupnya mulai berakar.

Namun kebesaran Negeri Paman Sam tidak membuatnya lupa akan jati dirinya. Wong bangga dengan China dan kebudayaannya. Ia selalu menginginkan berbuat sesuatu untuk budaya yang mengalir dalam darahnya.

Pernah bertindak sebagai marketing manager McDonald’s China Development Company, ia kemudian pindah dan menerima posisi marketing director untuk Starbucks kawasan Asia Pasifik pada 2000. Setelah bergabung dengan perusahaan selama 16 tahun, sejarah Starbucks pun mencatatnya sebagai CEO Starbucks China.

Kegagalan Rahasianya

Bagi Wong, rahasia terhadap revolusi kopi dalam sebuah negara besar seperti China yang dikenal dengan tehnya justru bermula melalui kegagalan.

“Kesalahan kecil adalah satu-satunya cara dimana Anda dapat mengembangkan pasar ini dengan sangat cepat dalam tujuh tahun terakhir. Di dalam banyaknya toko yang kami buka setiap tahun terdapat ratusan dan ribuan kesalahan,” tukasnya.

“Saya gagal berkali-kali setiap harinya. Tapi itu satu-satunya cara untuk belajar.”

Menurutnya, untuk membuat perubahan yang efeknya bertahan, seseorang harus bersedia mengambil risiko.

“Di China, kami tidak dilahirkan dengan sajian kopi. Jadi, ada banyak pendidikan kopi yang harus dilakukan dan pembelajaran mengenai cara mengomunikasikan kopi untuk pertama kalinya,” jelas Wong.

Di lain pihak, banyak pula yang memberi kredit padanya atas keberhasilan Starbucks di China.

“Belinda telah bekerja di Starbucks selama 18 tahun, jadi kopi mengalir di dalam pembuluh darahnya. Namun yang mengesankan adalah, dia selalu ingin belajar,” kata Emily Chang, chief marketing officer untuk Starbucks China.  “Saya pikir kombinasi pengalaman dan keingintahuannya adalah rahasia untuk kesuksesan kami di China.”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top