Shantanu Narayen, Seperti Adobe Ada di mana-mana

Sebagai CEO Adobe, Narayen menciptakan serta memimpin kategori pemasaran digital yang eksplosif. Ia membangun dan memberdayakan timnya untuk mendorong inovasi produk dan skala bisnis Adobe secara global, seraya memajukan perusahaan sebagai merek global tepercaya.
Renat Sofie Andriani | 03 September 2018 14:59 WIB
Shantanu Narayen, CEO Adobe (Twitter Adobe)

Bisnis.com, JAKARTA – Adobe ada di mana-mana. Dari video Youtube hingga aplikasi mobile paling sederhana, semuanya membutuhkan sentuhan Adobe. Seperti halnya perangkat lunak ini, otak di balik Adobe, Shantanu Narayen juga ada di mana-mana.

Sebagai CEO Adobe, Narayen menciptakan serta memimpin kategori pemasaran digital yang eksplosif. Ia membangun dan memberdayakan timnya untuk mendorong inovasi produk dan skala bisnis Adobe secara global, seraya memajukan perusahaan sebagai merek global tepercaya.

Bukan hanya sebagai pemimpin Adobe, Narayen juga bertindak sebagai anggota dewan direksi Dell Inc. dan anggota dewan University of California. Pada 2011, ia bahkan ditunjuk sebagai anggota dewan penasihat manajemen Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu, Barrack Obama.

Dunia TI (Teknologi Informasi), internet, akademisi, dan politik dijabani. Apa lagi?

Shantanu Narayen lahir pada 27 Mei 1962 di Hyderabad, India. Ayahnya adalah pemilik bisnis plastik, sedangkan sang Ibu berprofesi sebagai profesor bidang sastra. Terlahir dalam keluarga yang hidup sejahtera di India, aspirasi Narayen awalnya adalah menjadi seorang jurnalis.

Namun atas saran orang tuanya, ia memilih menekuni bidang teknik. Menurut Narayen, seperti dilansir dari The Famous People, pilihan yang tersedia baginya saat itu adalah teknik dan kedokteran. Karena takut melihat darah, mau tak mau ia terjun ke bidang teknik.

Setelah memasuki Hyderabad Public School, Narayen terdaftar di University College of Engineering (UCE), Universitas Osmania, di mana ia mempelajari teknik elektronik dan komunikasi.

Lulus dari UCE, dia pergi ke AS untuk melanjutkan studinya. Dalam waktu bersamaan ia berhasil meraih gelar master ilmu komputer dari Bowling Green State University, Ohio, dan master bisnis administrasi dari Haas School of Business, University of California.

AWAL KARIER

Seperti kebanyakan nama besar yang terjun ke bidang perangkat lunak atau internet, Narayen memulai karirnya di Apple. Ia bertanggung jawab untuk berbagai posisi manajemen dalam perusahaan selama enam tahun berikutnya.

Pada pertengahan 1990-an, selama periode yang dikenal sebagai 'Internet Boom', ia dan rekan-rekannya muncul dengan ide situs web berbagi foto. Pada 1996, lahirlah Pictra Inc., salah satu situs web berbagi foto pertama.

Mereka menyadari bahwa dunia pada akhirnya akan beralih dari fotografi analog ke digital serta membangun ekosistem yang memungkinkan para pengguna meninggalkan gulungan film dan mendapatkan foto digital.

Tampaknya tak mudah menjalankan perusahaan baru dengan cakupan bisnis berusia dini. Setelah berjalan sekitar 12 hingga 14 bulan, Narayen dan rekan-rekannya menyadari bahwa pendanaan dan model bisnis mereka belum cukup matang.

Selama mengenyam pengalaman di Apple, Narayen mendapat bimbingan dari tokoh bisnis kenamaan Apple Talk, Gursharan Singh Sandhu, tempat ia belajar bagaimana menantang kemampuan yang dimiliki orang lain dan diri sendiri.

"Dia memaksa saya untuk berpikir tentang melakukan hal-hal yang saya pikir tidak mungkin," ungkap Narayen, seperti dikutip The New York Times.

Narayen berharap dapat pula menantang individu-individu dengan menetapkan tujuan, kemudian membiarkan mereka menggunakan kecerdikan  untuk mencapai tujuan-tujuan itu.   Setelah meninggalkan Apple, tercatat ia pernah menjabat sebagai direktur desktop dan produk kolaborasi untuk Silicon Graphics.

HIJRAH KE ADOBE

Pada 1998, ia memutuskan pindah ke Adobe Systems, sebuah perusahaan software komputer multinasional, dan langsung menjabat sebagai wakil presiden senior untuk riset produk di seluruh dunia.

Pada November 2007, sekitar sepuluh tahun sejak Narayen bergabung dengan Adobe, diumumkan bahwa Bruce Chizen akan mengundurkan diri sebagai CEO perusahaan.

Tak butuh banyak perdebatan mencari sosok pengganti Chizen, pihak manajemen menunjuk Narayen menduduki posisi Chief Executive Officer baru Adobe Systems.

Berkat etos kerja yang luar biasa dan pemahaman luas tentang sektor teknologi, Narayen hanya membutuhkan satu dekade untuk naik ke posisi teratas. Di usia 45 tahun, ia menjadi CEO salah satu perusahaan terbesar dalam industri tersebut.

Sebagai tokoh utama dalam kesuksesan Adobe, Narayen telah menjadikan Adobe alat yang diperlukan untuk semua situs dan aplikasi, serta bertanggung jawab menggaet lebih dari 350 transaksi untuk perusahaan.

Dia memainkan peran kunci dalam akuisisi Macromedia, yang terkenal dengan produknya yakni Flash, senilai US$3,4 miliar pada 2005, berikut akuisisi Omniture senilai US$1,8 miliar pada 2009.

Perusahaan-perusahaan media besar seperti Viacom, CBS, dan PBS diketahui memutarkan video-video mereka dengan menggunakan Adobe flash player. Di dunia perfilman, sutradara James Cameron menggunakan Adobe Creative Suite 4 untuk menciptakan film 3D Avatar.

Dilansir Telegraph, sebanyak 23 dari 25 perusahaan teratas di Eropa, yang dihimpun oleh majalah Forbes, tercatat menggunakan produk-produk Adobe, seperti halnya sejumlah bank global dan kelompok perbankan di Eropa.

Tak melulu berkutat dengan permesinan, Narayen juga menjabat sebagai Presiden Yayasan Adobe, cabang filantropis dari perusahaan yang mencurahkan sumber dayanya untuk berbagai inisiatif amal di seluruh dunia.

Narayen berkomitmen untuk memberi lebih banyak hal di masa depan melalui Adobe. Di bawah kepemimpinan Narayen, pebisnis cerdik juga seorang insinyur yang tahu persis hal tepat untuk perusahaan, perjalanan Adobe rasanya akan mencapai periode yang luar biasa.

PEGOLF PROFESIONAL

Dalam suatu kesempatan, Narayen mengungkapkan keinginannya menjadi pegolf profesional jika ia tidak berlaku sebagai pemimpin bisnis. Di sela jadwal rutinitasnya yang padat, ia menyempatkan bermain golf atau mengikuti undangan pertandingan golf.

Golf memang menjadi salah satu hobi yang dicintainya, selain bermain tenis dan membaca buku. Di luar itu, sudah pasti ia memilih menghabiskan waktu dengan sang istri, Reni, dan dua putra terkasihnya di rumah mereka di Palo Alto, California.

Menjadi salah satu pemimpin bisnis paling dicari mendorongnya menerapkan strategi untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya.

“Saya mencoba untuk tidur setiap malam, di mana pun saya berada, dengan kurang dari 10 surel di dalam kotak surat saya. Saya mencoba tidak pernah membaca surel dua kali, jadi saya menghapusnya ketika saya selesai,” ucap Narayen, seperti dikutip New York Times.

Satu hal lain yang berbeda darinya adalah pandangannya terhadap kegagalan. Ia berpendapat tidak ada yang namanya kegagalan. Seseorang akan selalu belajar dan mendapatkan pengalaman.

Bisa saja ada seseorang yang melihat perjalanan kariernya dan mencemooh segala proses yang dilewati. “Saya akan melihatnya kembali dan berkata bahwa saya telah belajar bagaimana membangun tim, cara mengumpulkan uang, cara menjual visi, dan cara membuat produk. Itu adalah batu loncatan yang besar bagi saya,” ungkap Narayen.

Tag : tokoh
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top