Gina Miller, Mantan Model di Balik Perjuangan Brexit

Besarnya wewenang Parlemen Inggris untuk menentukan nasib Brexit tidak lepas dari sosok Gina Miller. Miller telah menjadi tokoh yang secara hukum memperjuangkan parlemen untuk memilih apakah Inggris dapat memulai proses meninggalkan Uni Eropa. Siapakah Gina Miller?
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 01 April 2019  |  11:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak rakyat Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa melalui referendum pada Juni 2016, prosesnya masih saja terganjal perdebatan antara pemerintah dan parlemen.

Skema kesepakatan Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) atawa Brexit yang diupayakan Perdana Menteri (PM) Theresa May dengan UE beberapa kali dimentahkan oleh Parlemen Inggris.

Besarnya wewenang Parlemen Inggris untuk menentukan nasib Brexit tidak lepas dari sosok Gina Miller. Miller telah menjadi tokoh yang secara hukum memperjuangkan peran parlemen sehubungan dengan proses bagi Inggris meninggalkan Uni Eropa. Siapakah Gina Miller?

Lahir pada 19 April 1965 di Guyana, Gina Nadira Miller dikenal berprofesi sebagai seorang investment manager dan filantropis.

Dalam sebuah wawancara dengan Vogue pada 2017, wanita cantik yang pernah menjalani modelling tersebut mengisahkan tahun-tahun awalnya di Inggris, setelah dia dan saudara lelakinya pindah ke Eastbourne di Sussex Timur meninggalkan orang tua mereka di Guyana.

Di negeri Ratu Elizabeth inilah Miller menjalani pendidikan dasarnya. Hanya berbekalkan tekad kuat tanpa kantong yang tebal, ia harus berkerja sebagai tenaga pelayan atau pun tenaga bersih-bersih di restoran lokal.

“Tak cuma sangat merindukan orang tua kami, kami juga kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari dengan pekerjaan rumah dan sekolah, [tetapi] itu semua menjadikan kami seperti saat ini,” ujar Miller, seperti dikutip BBC.

Setelah kuliah di London untuk belajar hukum, Miller menikah dengan suami pertamanya ketika berusia 20 tahun. Dari pernikahannya ini, ia memiliki seorang putri yang memiliki kesulitan serius dalam belajar.

Meski memiliki ingatan jangka pendek yang sangat kecil, sang putri merupakan kebanggaan baginya. Miller menggambarkan putrinya memiliki kecerdasan emosional yang luar biasa dan menginspirasi.

Awal 1990-an menjadi masa yang berisikan perubahan-perubahan signifikan dalam kehidupannya. Ia mendirikan perusahaan pemasarannya sendiri, bercerai, dan menikah dengan seorang pelaku finansial bernama Jon Maguire.

Pernikahannya dengan Maguire, yang berpandangan anti Uni Eropa dan mendukung Partai Demokrat Inggris dalam pemilihan umum 2010, tak berlangsung lama. Miller harus merasakan pahit kandas pernikahan untuk kedua kalinya setelah memutuskan bercerai pada 2002.

Namun cinta kembali datang merengkuhnya. Ia kembali merajut kasih dan menikah dengan suami ketiganya, seroang fund manager bernama Alan Miller, pada tahun 2005. Dari pernikahan ini, mereka dianugerahi dua anak.

Sepak terjang Gina Miller semakin dikenal di Inggris lewat kampanyenya untuk transparansi dalam investasi dan dana pensiun. Pada 2009, ia ikut mendirikan perusahaan investasi SCM Private dan meluncurkan True and Fair Foundation bersama suaminya.

Melalui True and Fair Campaign pada 2012, Miller menentang kesalahan penjualan dan biaya dana tersembunyi di industri pengelolaan dana Kota London.

Ketika hasil referendum Inggris pada Juni 2016 berujung pada pilihan bagi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, Miller, bersama sejumlah pihak, dengan modal sendiri mengajukan kasus hukum terhadap Brexit.

Kasus ini diajukan dengan dasar argumen bahwa pemerintah tidak dapat menggunakan Pasal 50 dari Perjanjian Lisbon, untuk memulai proses resmi Brexit, tanpa meminta persetujuan dari Parlemen Inggris.

Miller berpendapat bahwa hanya Parlemen Inggris-lah yang dapat membuat keputusan mengenai Brexit beserta hubungannya di masa depan dengan Uni Eropa.

Kasus tersebut diperjuangkannya agar segala perincian tentang Brexit diawasi dengan cermat, seperti bagaimana Inggris keluar dari Uni Eropa, bagaimana negosiasinya, dan arah yang akan diambil pemerintah.

Kendati mengakui menginginkan Inggris untuk bertahan dan melakukan reformasi dalam referendum pada 2016, Miller menggambarkan dirinya tidak mendukung atau pun menolak Brexit.

“Kasusnya sekarang bukan tentang hasil referendum, tetapi bagaimana kita meninggalkan Uni Eropa. Ini tentang menciptakan kepastian hukum,” jelas Miller.

Ia menegaskan bahwa upayanya tersebut bukan dimaksudkan untuk membatalkan keputusan referendum.

“Ini tentang pemerintahan mana pun, perdana menteri mana pun, di masa mendatang yang dapat mengambil hak-hak rakyat tanpa berkonsultasi dengan Parlemen,” terang Miller.

“Kita tidak bisa memiliki demokrasi seperti itu. Itu bukan demokrasi, justru lebih mendekati kediktatoran,” tegasnya.

Meski berulang kali mengatakan hanya ingin memberikan pilihan alih-alih berusaha untuk mencegah atau menjungkirbalikkan hasil Brexit, tetapi banyak pihak yang telah mengkritik keterlibatannya.

Langkahnya yang berani sudah pasti membuahkan pro dan kontra. Tak jarang ia sampai menerima ancaman yang berkaitan dengan kehidupannya.

Beberapa surat kabar sempat mengulak-ulik kehidupan pribadinya. Namun, ia mengatakan bahwa semua orang memiliki masa lalu dan cerita di luar itu sama sekali tidak relevan dengan pentingnya kasus ini.

Tak cuma ancaman, ia bahkan pernah menerima pelecehan dan ancaman pembunuhan sebagai akibat dari perjuangan hukumnya. Terlepas dari hal-hal negatif yang diterimanya, ia tetap berdiri teguh.

“Aku sadar akan ada hal-hal yang tidak menyenangkan terkait Brexit, orang-orang kehilangan akal sehatnya dan ini semua sebenarnya tentang hati dan pikiran,” ungkapnya.

“Menjadi berani atau membela apa yang Anda yakini benar, sebenarnya adalah sesuatu yang bisa menjadi kebiasaan. Semakin Anda melakukannya, semakin mudah dilakukan di waktu berikutnya,” yakin Miller, dikutip CNBC.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top