Incar Kursi Presiden Taiwan, Siapa Terry Gou?

Nama Terry Gou mungkin kedengaran kurang familiar di dunia internasional ketimbang aktor-aktor ganteng sinetron Taiwan.
Renat Sofie Andriani | 22 April 2019 09:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Meski jadi dalang berdirinya raksasa elektronik multinasional Foxconn, nama Terry Gou mungkin kedengaran kurang familiar di dunia internasional ketimbang aktor-aktor ganteng sinetron Taiwan.

Pamor miliarder kelahiran 68 tahun lalu tersebut meroket setelah pada pertengahan bulan ini mengumumkan rencananya mencalonkan diri sebagai bakal Presiden Taiwan.

Padahal, pabrik-pabrik yang dimilikinya telah mempekerjakan lebih dari satu juta karyawan di China dan ratusan ribu karyawan di belahan dunia lain mulai dari Amerika Serikat (AS) hingga Brasil.

Perusahaannya, Foxconn Technology Group, merakit bermacam ponsel dan gawai yang tersebar di hampir setiap negara maju, termasuk sebagian besar model iPhone dan perangkat elektronik untuk merek-merek lain.

Bisa jadi Sony PlayStation 4 atau Amazon Kindle yang kamu miliki berasal dari salah satu pabrik miliknya.

Pinjam Uang Ibu

Nilai aset Foxconn Group kini telah mencapai US$41 miliar atau sekitar Rp575,58 triliun (Rp14.038 per dolar AS). Gou memulai kerajaannya di usia 23 tahun, dengan pinjaman modal senilai US$7.500 dari ibunya pada 1974.

Mantan pekerja perusahaan jasa pengiriman itu kemudian menggunakan pinjaman dari ibunya untuk membeli mesin-mesin cetak plastik yang membuat kenop televisi untuk merek-merek asal Amerika dan Eropa.

Demi menghidupkan lebih banyak bisnis, Gou sampai melakukan tur di AS selama 11 bulan pada awal tahun 80-an dan nekat mendatangi perusahaan-perusahaan, seperti layaknya seorang penjaja barang keliling.

Kemampuan Gou untuk mengawinkan permintaan manufaktur gawai dengan tenaga kerja murah dari Asia semakin terpacu dengan dibukanya China.

Saat banyak produsen asal Taiwan ragu-ragu untuk memindahkan produksi mereka melintasi Selat Taiwan, Gou mendirikan pabrik pertamanya di Shenzhen, China, pada 1988. Pada tahun ini, pemerintah China berjanji untuk tidak menasionalisasi investasi Taiwan.

Kerja keras Gou berbuah hasil. Bisnisnya berkembang pesat dan jumlah pabriknya kian bertambah. Pabrik-pabriknya, yang dipenuhi pekerja migran muda dari dalam China, tampak serupa kota-kota kecil yang dilengkapi dengan perumahan, kantin, klinik kesehatan, dan rekreasi.

Berawal di kawasan berkembang dekat Hong Kong, pabrik-pabriknya mulai menyebar ke seluruh negeri, termasuk ke provinsi Shanxi, tempat keluarganya berasal.

Awan gelap menggelayuti Foxconn ketika sejumlah pekerjanya melakukan bunuh diri. Kasus ini serta merta menimbulkan pertanyaan soal pergerakan perusahaan untuk biaya yang lebih rendah dan efisiensi maksimum.

Gou sendiri lambat menyadari kepentingan kasus tersebut.

“Mulanya saya tidak melihat itu sebagai masalah serius. Kami memiliki sekitar 800.000 karyawan. Saat ini, saya merasa bersalah. Tetapi pada saat itu, saya tidak berpikir harus bertanggung jawab penuh,” ungkapnya kepada Bloomberg News pada 2010.

Keras dan Murah Hati

Sebagai anak tertua dari tiga putra kedua orang tuanya, Gou dikenal berkarakter keras sekaligus murah hati. Dia pernah memerintahkan seorang eksekutif perusahaannya untuk tetap berdiri selama 10 menit karena tidak memberikan jawaban yang memuaskan dalam sebuah pertemuan yang juga dihadiri ratusan peserta.

Dia terkenal kerap mengadakan pertemuan yang bisa berlangsung berjam-jam. Jajaran asistennya bahkan diharapkan siap siaga 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Kendati demikian, Gou juga dikenal ogah pelit memberikan bonus besar kepada para eksekutif dan stafnya dari sakunya sendiri.

Kini Gou berupaya masuk dalam bursa bakal calon Presiden Taiwan dari partai yang didukung mendiang ayahnya, Kuomintang (KMT), untuk pemilihan presiden pada Januari 2020. Nilai-nilai inti yang bakal diusungnya nanti mencakup “perdamaian, stabilitas, ekonomi, dan masa depan”.

Pengumuman rencananya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Taiwan menyulut spekulasi. Pasalnya, upaya Gou menantang Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dalam agenda pemilihan umum (pemilu) yang bakal digelar pada 2020 itu dapat menguak kekuatan sekaligus kelemahannya.

Di satu sisi, Gou dikagumi sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Taiwan dan sosok pemimpin kuat yang dapat bernegosiasi dengan China dan AS. Namun di sisi lain, investasinya di China bisa memunculkan pertanyaan tentang potensi pengaruh pemerintah China terhadap Taiwan.

Beruntung Gou memiliki sumber daya yang dapat membantunya menonjol di antara bakal calon lain dari Partai KMT, seperti mantan Walikota New Taipei City Eric Chu dan mantan Ketua legislatif Wang Jin-pyng.

“Untuk pendukung KMT, tidak ada kandidat lain yang lebih baik daripada Gou karena Gou berhubungan baik dengan para pemimpin China dan Amerika,” ujar Wu Yu-Shan, peneliti di Institut Ilmu Politik Academia Sinica, Taipei.

Dedikasi pada Kanker

Tak hanya dikagumi sebagai pengusaha, Gou juga merupakan salah satu dermawan terbesar di Taiwan. Kualitas ini pula yang dapat mendorongnya mengungguli bakal calon Presiden Taiwan lain.

Gou telah mencurahkan aset kekayaannya yang cukup besar untuk menemukan obat kanker dan membuka rumah sakit kanker baru di Taipei tahun lalu.

Rupanya dedikasi terhadap penyembuhan kanker didasari pengalaman pribadinya kehilangan orang terdekat karena penyakit mematikan ini. Istri pertamanya meninggal karena kanker payudara pada 2005 dan saudara laki-lakinya meninggal setelah bertarung dengan leukemia atau kanker darah pada 2007.

Dalam pengumuman rencana pencalonannya, Gou mengklaim mendapat dorongan dari dewi laut China, Mazu, untuk "maju" mendukung perdamaian di Selat Taiwan.

“Mazu berkata bahwa saya harus terinspirasi olehnya untuk melakukan hal-hal baik bagi orang-orang yang menderita, untuk memberi harapan kepada orang-orang muda, untuk mendukung perdamaian lintas selat,” kisah Gou tentang apa yang disampaikan Mazu kepadanya dalam mimpi.

Satu pertanyaan yang masih mengemuka adalah bagaimana Gou dapat menyandingkan investasi dan kekayaannya selama puluhan tahun di China dengan ambisinya untuk menjalankan sebuah kepulauan yang masih memiliki ketegangan dengan China.

“Sementara Gou ingin menjadi kepala negara Taiwan, kekayaannya ada di tangan [Presiden China] Xi Jinping. Saya pikir 23 juta warga Taiwan akan memperhatikan hal itu,” ujar Wang Ting-yu, seorang pembuat kebijakan untuk Partai Progresif Demokratik di Taiwan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
foxconn, taiwan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup