Akhir Cerita Hiroto Saikawa, si Anak Didik Carlos Ghosn, Memimpin Nissan

Kurang dari setahun sejak kejatuhan dramatis Carlos Ghosn, Nissan Motor kembali kehilangan pemimpinnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 September 2019  |  14:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kurang dari setahun sejak kejatuhan dramatis Carlos Ghosn, Nissan Motor kembali kehilangan pemimpinnya.

Pada Senin (9/9/2019), Dewan Direksi Nissan Motor Co. meminta CEO Hiroto Saikawa untuk mengundurkan diri efektif pada 16 September. Posisinya untuk sementara akan diisi oleh COO Yasuhiro Yamauchi hingga keputusan nama pengganti permanennya ditetapkan pada akhir Oktober.

Dengan turunnya Saikawa akibat terganjal skandal kelebihan pengupahan, produsen mobil ternama asal Jepang ini lagi-lagi menghadapi pertanyaan tentang tata kelola perusahaan dan masa depan yang tidak pasti.

Berbulan-bulan sejak Ghosn, yang memerintah Nissan selama dua dekade sebelum Saikawa, ditangkap karena skandal penyalahgunaan dana, Nissan harus bersusah payah untuk bangkit kembali.

Di bawah kepemimpinan Saikawa, laba Nissan kian suram dan hubungan perusahaan dengan pemegang saham utama Renault SA memburuk hingga ke titik bahwa mega-merger dengan Fiat Chrysler Automobiles NV runtuh.

CEO Nissan berikutnya sudah pasti bakal menghadapi tantangan memperbaiki apa yang berantakan pada saat genting di tengah memanasnya kompetisi era kendaraan listrik dan robot yang akan datang.

“Nissan membutuhkan seorang pemimpin dengan keterampilan politik cekatan yang mewujudkan terobosan bersih dengan era Ghosn. Saikawa bukan orangnya,” ujar Chris Bryant, kolumnis Opini Bloomberg.

Tekanan Mundur

Tekanan terhadap Saikawa semakin intensif setelah laporan pekan lalu mengungkapkan bahwa dirinya dan beberapa eksekutif Nissan lain menerima upah lebih dari yang seharusnya. Ini menjadi pukulan penghabisan baginya setelah menghadapi bertubi-tubi persoalan.

Di tengah-tengah dampak dari kehilangan nama besar Ghosn, Nissan telah bergulat dengan raihan laba terendah dalam satu sekade dan pengurangan pekerjaan karena melambatnya penjualan mobil di seluruh dunia.

Penyelidikan internal oleh Nissan menemukan Saikawa telah menerima upah lebih tinggi sebesar 96,5 juta yen (US$901.000) melalui hak apresiasi saham, atau 47 juta yen setelah pajak.

Isu kelebihan pengupahan pertama kali terungkap setelah Greg Kelly, seorang mantan pejabat eksekutif perusahaan yang ikut ditangkap bersama Ghosn, dalam sebuah wawancara majalah menuduh Saikawa menerima kompensasi upah secara tidak semestinya.

Nissan sendiri sebenarnya tidak menganggap soal kelebihan pengupahan ini sebagai sesuatu yang melanggar hukum. Sementara itu, Saikawa tidak menerima disalahkan atas tuduhan tersebut.

“Saya seharusnya mengklarifikasi, meluruskan segala sesuatu dan menyerahkan tongkat kepemimpinan saya kepada seorang pengganti, tetapi saya tidak bisa menyelesaikan semuanya,” ujar Saikawa kepada awak media pada Senin (9/9), dilansir dari Bloomberg.

Pria berusia 65 tahun itu sempat tampak bergulat dengan emosinya ketika duduk sendirian, menghadapi pertanyaan para wartawan setelah pihak dewan direksi selesai mengumumkan pengunduran dirinya.

“Saya ingin memperbaiki keadaan dan mengundurkan diri,” ucap Saikawa.

Anak Didik Ghosn

Meski kepemimpinan Saikawa berada dalam pengawasan sejak penangkapan Ghosn, dia kembali ditunjuk sebagai CEO perusahaan oleh para pemegang saham Nissan awal tahun ini.

Pada Juni, Saikawa mengatakan bahwa ia harus bertanggung jawab atas ketidakstabilan yang dialami perusahaan pascakejatuhan Ghosn dan ingin agar perusahaan mempercepat pencarian untuk penggantinya.

Ghosn ditangkap di Jepang pada 19 November 2018 karena dugaan penyelewengan keuangan yang mencakup manipulasi data penghasilan dan penyalahgunaan dana perusahaan.

Kantor Jaksa Penuntut Umum Distrik Tokyo mensinyalir Ghosn dan Greg Kelly, telah bersekongkol untuk memperkecil kompensasi yang diterimanya selama lima tahun sejak 2010. Ghosn saat ini keluar dari penjara dengan jaminan dan dijadwalkan akan menjalani proses peradilan di Tokyo pada tahun depan.

Pebisnis berdarah Prancis itu menghadapi dakwaan bahwa ia telah gagal mengungkapkan kompensasi yang ia terima dari Nissan dan dugaan penyalahgunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Ghosn pun membantah semua tuduhan terhadapnya.

Secara individu, Ghosn dikenal andal dalam kepemimpinannya di Nissan dan membentuk ikatan yang kuat dengan aliansi bisnisnya. Ia diakui cakap memegang kendali dalam kepengurusannya untuk aliansi Renault dan Nissan.

Kasus hukum yang dihadapi Ghosn menjadi peristiwa ironis bagi Saikawa. Ia berubah dari seorang anak didik Ghosn menjadi wajah publik dengan tuduhan-tuduhan terhadap sang mentor.

Hanya beberapa jam setelah penangkapan Ghosn pada 19 November, Saikawa muncul di hadapan media dunia untuk mengecam perilaku Ghosn, serta menggambarkan kemarahan dan keputusasaannya atas perilaku mantan bosnya ini.

Tak Lebih Mulus

Tapi, bukan berarti masa jabatan Saikawa sebagai CEO salah satu ikon produsen otomotif Jepang ini telah dilalui dengan lebih mulus selepas Ghosn.

Saikawa memulai kariernya di Nissan setelah lulus dari Universitas Tokyo pada tahun 1977. Sebagian besar kariernya dihabiskan di departemen pembelian, fungsi penting di perusahaan mana pun terutama untuk produsen mobil, mengingat pengadaan dapat mencapai dua pertiga dari biaya penjualan.

Antara 2006 dan 2016, ia duduk di dewan direksi Renault, pemegang saham terbesar Nissan. Hanya beberapa bulan setelah mengambil alih posisi CEO pada April 2017, Saikawa dikritik karena dipandang tidak berlaku cukup pantas saat meminta maaf terkait penggunaan pekerja yang tidak bersertifikat.

Seruan oleh media Jepang agar ia mengundurkan diri semakin kuat setelah pria kelahiran 14 November 1953 itu tidak muncul dalam suatu konferensi pers untuk membahas soal pemalsuan data emisi.

Kemunduran bisnis Nissan di Amerika Serikat (AS), sumber ketegangan antara Ghosn dan Saikawa sebelum kejatuhan Ghosn, bahkan terus berlanjut hingga tahun ini.

Saikawa menyalahkan upaya Ghosn untuk menumbuhkan pangsa pasar di AS dengan segala cara, termasuk dengan menaikkan insentif dan meningkatkan penjualan armada.

Memburuknya hubungan antara Nissan dan Renault sejak penangkapan Ghosn dan merger yang dibatalkan dengan Fiat Chrysler juga menambah tekanan.

Tensi antara Renault dan Nissan seputar kendali aliansi keduanya pecah setelah Ghosn ditangkap dan memburuk ketika chairman baru Renault, Jean-Dominique Senard, mengejar kesepakatan Fiat tanpa memberi tahu Nissan.

Terlepas dari pengunduran dirinya sebagai CEO, Saikawa akan tetap menjadi direktur Nissan hingga adanya pertemuan pemegang saham yang memutuskan untuk mengeluarkannya dari jajaran dewan direksi.

Pengunduran dirinya, bagaimanapun, memicu harapan bahwa Nissan akhirnya akan dapat memperbaiki hubungan dengan Renault dan melakukan sesuatu terkait nilai pemegang saham di kedua perusahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nissan, nissan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top