Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nama Jack Ma Hampir Lebih Besar dari China

Keharuman nama Jack Ma, yang hampir lebih besar dari China dan keberaniannya untuk mengkritis pemerintah membuatnya mendapat masalah.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  02:45 WIB
Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa
Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA - Miliarder Jack Ma adalah wirausahawan asal China yang memiliki keberanian untuk mengkritik pemerintah, guna menciptakan perubahan yang  lebih baik.

Jack Ma yang dikenal sebagai pendiri Alibaba (BABA) terkenal di dalam dan di luar negara asalnya. Namun, keharuman nama Jack Ma telah memberikan risiko yang besar pada dirinya.

Masalahnya dimulai pada akhir Oktober setelah Ma mengkritik regulator China pada konferensi di Shanghai. Saat firma teknologi keuangan Ma, Ant Group sedang mempersiapkan penawaran umum perdana terbesar di dunia, dia menuduh pihak berwenang menahan inovasi dan mengecam bank-bank negara itu karena memiliki mentalitas "pegadaian".

“Inovasi yang bagus tidak takut terhadap regulasi, tetapi takut terhadap regulasi yang usang. Perumpamaannya, jangan menggunakan sistem manajamen stasiun kereta api untuk meregulasi bandara komersil," tegas Jack Ma.

Dia juga menyebut operasional bank di China usang, karena dijalankan dengan mentalitas toko gadai. Menurutnya, jika operasional bank-bank China bertahan seperti itu, maka tidak akan mampu mendukung kebutuhan finansial pada masa depan.

Jack Ma menyarankan bank-bank China mengubah sistem-sistem tradisionalnya dan menggantikannya dengan teknologi terbaru. Misalnya, soal pemberian kredit, ia menyarankan penggunaan big data untuk bisa melihat mana kreditur yang berpotensi menyebabkan kredit macet dan tidak. Dengan begitu, potensi kredit macet bisa dicegah untuk memastikan pinjaman sesuai kemampuan kreditur.

Kritik Jack Ma tergolong berani. Dalam acara tersebut hadir pejabat-pejabat senior Pemerintah Cina. Salah satunya adalah Wang Qishan, figur di balik administrasi keuangan China. Selain itu, ada juga Wakil Perdana Menteri Liu He yang bertanggung jawab mengawasi kebijakan makroekonomi China. Ketika Jack Ma mengkritik pemerintah, otomatis mereka menyampaikannya pada Presiden Xi Jinping.

Usai berpidato dengan melontarkan kritik, Jack Ma hingga saat ini belum terlihat di depan umum. Ketidakhadiran menimbulkan tanda tanya, apalagi bisnisnya yang mendapatkan ancaman besar dalam beberapa tahun terakhir.

Satu hal, setidaknya, tampak jelas: Ketika Partai Komunis China menumpuk tekanan pada raksasa teknologi negara, sepertinya industri tidak akan melihat sosok lain seperti Jack Ma.

CEO Alibaba Daniel Zhang, yang menggantikan posisi Jack Ma tidak berkomentar atas tekanan yang diberikan pemerintah melalui regulasi untuk memperketat pembatasan pada perusahaan internet.

Di sisi lain, Ant Group yang dikenal sebagai anak perusahaan Alibaba dalam bidang teknologi finansial, terpaksa menunda rencana melantai di bursa saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china partai komunis china jack ma
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top