Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ingin Menjadi Disruptor? Anda Harus Punya 3 Pola Pikir Ini

Henry Ford, Steve Jobs, dan Elon Musk dapat menjungkirbalikkan industri dengan cara berbeda. Akan tetapi mereka memiliki satu kesamaan: tidak berpikir seperti orang atau industri yang mereka ganggu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 April 2021  |  18:14 WIB
TwoSigmas, dengan hanya lima karyawan, merekrut lebih dari 180.000 guru dan mencocokkan mereka dengan siswa di China.  - TwoSigmas
TwoSigmas, dengan hanya lima karyawan, merekrut lebih dari 180.000 guru dan mencocokkan mereka dengan siswa di China. - TwoSigmas

Bisnis.com, JAKARTA - Henry Ford, Steve Jobs, dan Elon Musk dapat menjungkirbalikkan industri dengan cara berbeda. Akan tetapi mereka memiliki satu kesamaan: tidak berpikir seperti orang atau industri yang mereka ganggu.

Untuk menciptakan sesuatu yang baru, seorang wirausahawan harus melihat segala sesuatunya sebagaimana mestinya, bukan hanya sebagaimana adanya.

Apa yang dapat kita pelajari dari mereka yang dapat kita tiru? Itu sedikit rumit.

Ketika cerita para disruptor disampaikan, terlalu sering kita fokus pada apa yang mereka lakukan, bukan bagaimana mereka memikirkannya.

Tetapi pola pikir disruptor berubah seiring dengan bisnis mereka. Untuk benar-benar mengetahui pola pikir mereka, Anda harus mengamati mereka dalam elemen mereka, saat mereka sedang mendisrupsi pasar.

Jika Anda ingin mengguncang pasar Anda harus memiliki pola pikir yang berbeda dari orang lain.

Berikut tiga cara untuk membentuk kembali pemikiran Anda, seperti dilansir melalui Entrepreneur.

1. Fokus pada input daripada output.

Nabil De Marco adalah manajer umum Amazon Business di Eropa. Saat itu, dia bertanggung jawab untuk meluncurkan dan mengembangkan bisnis otomotif pan-Eropa raksasa e-niaga itu, dan dia memiliki ambisi besar untuk mengubah cara penjualan kendaraan dan suku cadang mobil di Eropa.

Sebagian besar orang dalam perannya berfokus pada output dengan metrik keuangan seperti pendapatan dan kemanjuran iklan, yang akan diukur. Tapi Nabil mungkin hanya menghabiskan 20 persen waktunya untuk hal-hal itu dan lebih fokus pada apa yang disebutnya dengan input.

Ini adalah dasar-dasar bisnis yang berfokus pada pelanggan, seperti menambah jumlah suku cadang mobil yang tersedia untuk pengiriman gratis keesokan harinya, atau mengembangkan alat untuk menghentikan pelanggan memesan suku cadang mobil yang salah.

Disruptor bisa belajar banyak dari ini. Nabil memiliki banyak pesaing, dan tampaknya tidak ada gunanya bertempur dalam pertarungan angka. Sebaliknya, dia berfokus pada apa yang meyakinkan pelanggan untuk meninggalkan pesaing.

2. Otomatisasi sebelum merekrut pekerja.

Michael Birdsall adalah pendiri TwoSigmas, perusahaan rintisan yang merekrut guru bahasa Inggris dari Amerika Utara dan kemudian mencocokkan mereka dengan siswa di China daratan sebagai guru privat online.

Permintaan akan tutor online melonjak di China, dan Michael menyadari bahwa untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dia harus mempekerjakan banyak perekrut untuk menemukan ribuan guru bahasa Inggris.

Yang dia lakukan justru mempekerjakan beberapa pakar mesin pembelajaran dan membuat teknologi yang dapat memprediksi jenis guru apa yang paling cocok dengan klien tertentu.

Dia kemudian membangun platform pemasaran digital, yang akan mendorong calon guru untuk mengisi profil. Setelah beberapa bulan disempurnakan, TwoSigmas, dengan hanya lima karyawan, merekrut lebih dari 180.000 guru dan mencocokkan mereka dengan siswa di China.

Biaya perekrutan per guru kurang dari 10 persen dari biaya pesaingnya, yang memungkinkan TwoSigmas menurunkan harga secara dramatis namun tetap untung. Pada 2019, perusahaan ini sukses dan diakuisisi.

Para calon disruptor dapat belajar banyak dari pola pikir Michael. Sebagian besar petahana mungkin akan melakukan ekspansi untuk memenuhi permintaan dan bertahan pada jalur rekrutmen tradisional yang sudah ketinggalan jaman.

3. Ubah narasi Anda.

Mark Gerhard adalah pendiri perusahaan bernama Ascendant Digital, yang mengambil pendekatan yang sama sekali baru dalam investasi teknologi.

Sekitar setahun lalu, Mark dan dua mitranya punya ide besar.

Mereka tahu bahwa ketika venture capital dan private equity tradisional berinvestasi di perusahaan teknologi, mereka sering mendorong perusahaan untuk pertumbuhan yang tidak disiplin dan pada prosesnya mengasingkan baik para pendiri maupun konsumen.

Untuk mengatasi masalah itu, Mark dan mitranya malah ingin membuat dana yang secara eksplisit membantu para pendiri mempertahankan kendali kreatif atas perusahaan mereka - sambil mendapatkan modal yang cukup untuk tumbuh.

Strategi storytelling yang menawan adalah gaya disrupsi yang terabaikan. Untuk mengumpulkan dana, dia dan dua mitranya berbicara dengan lebih dari 100 investor.

Alih-alih hanya berbicara angka, dia menceritakan kepada mereka kisah tentang cerita seorang pendiri perusahaan yang kehilangan kendali kreatif atau kebebasan operasional atas perusahaan mereka kepada perusahaan investasi tradisional.

Dia menjamin investor untuk memperbaiki kondisi dan membina lebih banyak lagi pendiri hebat dalam prosesnya. Wall Street menyukainya; Ascendant pun mengumpulkan dana lebih dari US$400 juta dalam bentuk tunai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp disrupsi
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top