Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SANG TAIPAN: Profil Perempuan Pewaris Raksasa Bir Heineken

Charlene de Carvalho-Heineken merupakan perempuan di balik suksesnya raksasa bir Heineken. Simak profil dan perjalanan hidup Charlene yang membuat dia menjadi taipan kelas dunia.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 06 Juni 2021  |  07:39 WIB
Charlene de Carvalho-Heineken sang pewaris raksasa bir Heineken - Istimewa
Charlene de Carvalho-Heineken sang pewaris raksasa bir Heineken - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Ketika sang ayah meninggal pada Januari 2002, Charlene de Carvalho-Heineken segera didapuk mengambil alih perusahaan keluarga yang merupakan produsen bir terbesar di Eropa itu. Meski tak memiliki latar belakang pendidikan bisnis, Charlene tak memiliki pilihan lain sebab dia merupakan anak tunggal Freddy Heineken dan Lucille Cummins.

Heineken yang berbasis di Amsterdam, Belanda, kini beroperasi di 70 negara dan menjual lebih dari 300 merek minuman termasuk Amstel, Tiger, dan Strongbow Apple Ciders. Pada tahun lalu, perusahaan ini mengantongi pendapatan US$22,5 miliar.

Charlene, pemegang saham terbesar perusahaan Heineken, tercatat sebagai taipan dengan kekayaan senilai US$17,5 miliar. Menurut Bloomberg Billionaires Index, Kamis (3/6/2021), Charlene merupakan orang terkaya ke-115 dunia dengan pertumbuhan kekayaan mencapai US$1,41 miliar sepanjang tahun ini.

Heineken menempati peringkat ke-3 pembuat bir terbesar dunia, di belakang Anheuser-Busch InBev dan SABMiller, tetapi penjualannya hampir tiga kali lipat.

Diwartakan Fortune, Charlene tumbuh di kota pesisir Belanda Noordwijk dan merupakan anak tunggal yang sangat pemalu dan manja.

"Saya tidak suka nama saya ada di setiap kafe," ungkapnya.

Ayahnya, Freddy Heineken adalah seorang salesman flamboyan yang menciptakan botol hijau Heineken dan iklan TV pertama mereka.

Pada usia 20 tahun, Charlene meninggalkan Belanda dan belajar bahasa Prancis di Jenewa serta fotografi di New York City. Dia bekerja untuk sebuah biro iklan di London. Dia juga pernah magang di Heineken Paris dimana dia mengikuti atasannya untuk mengamati bisnis keluarga.

Pada 1970-an, dia pergi ke Universitas Harvard, dan kemudian dia memberontak terhadap orang tuanya dengan menunda Harvard Business School untuk bergabung dengan tim ski Inggris di Olimpiade 1968 di Grenoble, Prancis. Meski tak memenangi medali, tetapi dia suka berkompetisi.

Charlene sebenarnya memiliki sedikit keinginan untuk terlibat dalam bisnis keluarga, tetapi hal berubah ketika pada 1988 kala ayahnya mengundangnya untuk bergabung dengan dewan perusahaan induk Heineken.

Ketika Freddy meninggal pada 3 Januari 2002, pertumbuhan laba Heineken melambat, dan sahamnya menurun. Charlene dibantu suaminya yang seorang bankir, Michel de Carvalho merombak Heineken terutama pada empat bidang, yakni citra perusahaan, neraca, akuisisi, dan pemilihan anggota dewan serta eksekutif kunci.

Ketika mereka melihat Heineken kehilangan peluang di pasar global, Charlene dan Michel mendesak dewan direksi untuk menggantikan CEO Thony Ruys dengan van Boxmeer yang kemudian bekerja di beberapa pasar berkembang dan memimpin bisnis Heineken di Kongo.

Van Boxmeer yang berusia 53 tahun telah meregangkan neraca dengan cara yang tidak akan pernah dilakukan Freddy. Pada 2010, Heineken membeli Femsa Cerveza, pembuat bir terbesar kedua di Meksiko. Pembelian senilai US$7,6 miliar itu menambahkan 20.000 karyawan ke Heineken.

Sebagai putri tunggal, Charlene kini memiliki lima orang anak. Meski belum memutuskan pewaris Heineken selanjutnya, tetapi putra tertua mereka, Alexander menjadi kandidat terkuat. Charlene membimbing anak-anaknya dengan nasihat untuk mengikuti hasrat dan kemampuan diri mereka.

"Kamu mungkin akan lebih baik jika mengikuti hasrat daripada melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan," katanya.

Nasihat yang pahit dari wanita yang baru menemukan hasratnya pada bisnis lebih lambat dari yang dia inginkan.

"Mungkin merupakan kesalahan untuk tidak mengambil pendidikan bisnis. Saya pikir itu mungkin memberi saya rasa hormat yang harus saya perjuangkan," ungkap Charlene.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

heineken tokoh bisnis Sang Taipan
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top