Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tips Pengelolaan Keuangan dan Investasi 2022

Risiko yang tinggi berbanding lurus dengan keuntungan yang akan diperoleh. Profil risiko adalah untuk mengetahui risiko investasi yang diinginkan.
Tips investasi/istimewa
Tips investasi/istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki tahun baru, sebagian orang menyusun rencana selama setahun ke depan. Salah satu yang tak boleh terlewatkan tentunya adalah evaluasi dan menyusun rencana keuangan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pandemi Covid-19 yang masih belum usai membuat perencanaan keuangan pada 2022 cukup menantang. Namun, perencanaan tersebut tentunya tak begitu sulit lantaran apa yang terjadi sepanjang 2021 bisa dijadikan sebagai pembelajaran.

Bicara soal perencanaan keuangan tentunya tak bisa dipisahkan dari investasi. Karena tak bisa dipungkiri jika investasi merupakan kunci dari perencanaan keuangan itu sendiri.

Menurut perencana keuangan bersertifikasi (Certified Financial Planner/CFP) sekaligus pendiri konsultan keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno, sebelum memutuskan untuk berinvestasi, ada baiknya Anda kenali dulu tujuan dari investasi yang dilakukan. Mengetahui tujuan dari investasi yang dilakukan sama pentingnya dengan mengenali profil risiko.

Profil risiko adalah tingkatan seberapa besar seseorang dapat mentoleransi suatu risiko investasi. Tentu saja, risiko yang tinggi berbanding lurus dengan potensi imbal hasil yang akan diperoleh.

"Selain profil risiko konservatif, moderat, atau agresif tujuan dari investasi itu juga harus diketahui sebelum menentukan instrumen portofolionya. Apakah hanya untuk mencari keuntungan atau imbal hasil? Apakah Ada tujuan lainnya seperti biaya pendidikan anak di masa depan? Ketahui itu," katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Kemudian untuk instrumen investasi yang dipilih, Mike menyebut juga perlu mempertimbangkan segala kemungkinan, terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Dia menyarankan agar Anda tidak fokus di satu instrumen investasi untuk meminimalisasi kerugian apabila terjadi gejolak perekonomian, baik di dalam maupun luar negeri.

"Apabila kasus Covid-19 kembali meningkat pada 2022 tentunya akan berpengaruh pada investasi yang berbasis pertumbuhan seperti saham, reksadana saham. Ini perlu dipertimbangkan juga. Oleh karena itu, investasi yang sifatnya fixed income masih akan menjadi pilihan atau favorit pada 2022," katanya.

Lebih lanjut, untuk menyusun berbagai instrumen investasi menurut Mike hal yang pertama dilakukan adalah menentukan target imbal hasil. Target ini menjadi penting agar investasi yang dilakukan terarah, tidak asal pilih demi mengejar keuntungan sebesar-besarnya.

"Ditentukan targetnya berapa, misalnya 20 persen setahun yang sudah masuk profil risiko agresif. Setelah menentukan target baru dialokasikan ke instrumen investasinya apa saja yang kemudian ketika diakumulasi potensinya bisa mencapai angka itu," tuturnya.

Mengingat kondisi yang belum sepenuhnya normal, Mike menyebut tak ada salahnya Anda mempertimbangkan emas untuk dimasukkan dalam portofolio investasi. Mengingat instrumen investasi yang satu ini cenderung stabil dan kerap dijadikan sarana untuk menjaga nilai aset.

Walaupun demikian, untuk menghindari atau meminimalkan kerugian Anda harus tahu kapan waktu yang tepat untuk membelinya. Karena selama ini masih banyak investor yang membeli pada waktu yang kurang tepat atau ketika harga sedang tinggi.

"Karena bagaimanapun juga ada kemungkinan harganya mengalami koreksi atau penurunan. Ketika kondisi pandemi Covid-19 kembali naik tentu saja harga emas akan melejit naik," ungkapnya.

Terakhir, terkait dengan literasi keuangan, khususnya pengetahuan soal investasi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia menurut Mike masih jauh dari kata memadai. Masih banyak masyarakat yang menganggap investasi tidak ada bedanya dengan menabung yang tanpa risiko.

Dengan kata lain, masyarakat tidak siap dengan risiko yang mungkin terjadi atau mengabaikannya saat memutuskan untuk terjun berinvestasi. Hal ini yang pada akhirnya membuat mereka yang punya rencana untuk berinvestasi di instrumen tertentu akhirnya ragu-ragu atau malah mengurungkan niatnya.

"Edukasi ini penting dan diperlukan kerjasama dari pihak-pihak terkait. Tidak bisa dilakukan sendirian oleh satu pihak. Penting memberikan pemahaman mengenai risiko dari investasi, tidak hanya keuntungan-keuntungannya," tutupnya.

Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menyebut instrumen investasi berbasis bunga layak dijadikan pilihan pada 2022. Sebab, tingkat suku bunga acuan diperkirakan akan mengalami kenaikan yang tentunya berpengaruh pada imbal hasil dari instrumen investasi tersebut.

"Investasi berbasis bunga seperti SUN [Surat Utang Negara], reksadana pendapatan tetap itu layak jadi pilihan karena kedepannya suku bunga akan mengalami kenaikan atau penyesuaian kembali," katanya kepada Bisnis.

Adapun, bagi masyarakat yang ingin berinvestasi di pasar modal, Bhima menyebut emiten berbasis teknologi informasi, makanan dan minuman, perkebunan, dan pertambangan layak dipertimbangkan. Demikian halnya dengan emiten perbankan yang sejak 2021 ketiban berkah pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

"Perbankan masih sangat potensial karena pemulihan ekonomi. Penyaluran kredit bank meningkat, dana pihak ketiga yang ada di perbankan juga relatif masih gemuk," ungkapnya.

Kemudian untuk emas menurut Bhima pada 2022 kemungkinan tak semoncer dua tahun sebelumnya. Walaupun demikian, instrumen investasi yang satu ini tetap layak dijadikan pilihan karena dianggap paling aman atau stabil, terlebih di tengah kondisi yang belum sepenuhnya normal atau pasti.

"Emas, khususnya emas batangan ini cenderung stabil walaupun kenaikan [harganya] terbatas. Tetapi, perlu dicatat kenaikan harga emas ini tergantung pada kondisi pandemi Covid-19 juga. Kalau 2022 tidak ada lonjakan [kasus] harganya bisa saja terkoreksi. Emas ini juga tentunya terpengaruh oleh [nilai tukar] Dollar," tuturnya.

Lantas, bagaimana dengan investasi di sektor riil? Menurut Bhima, investasi di sektor tersebut yang cukup potensial pada 2022 adalah investasi properti, khususnya rumah tapak.

"Disarankan investasi rumah tapak yang lokasinya mendekati kawasan industri baru dan berkembang seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di sana masih banyak pekerja yang membutuhkan dan mencari tempat tinggal," ujarnya.

Selain properti, investasi waralaba ritel modern toko kelontong (minimarket) serta makanan dan minuman juga layak dijadikan pilihan. Sejalan dengan pulihnya konsumsi rumah tangga dan perubahan kebiasaan masyarakat yang mulai enggan berbelanja di pusat perbelanjaan atau pusat grosir seperti sebelumnya.

"Untuk membeli waralaba makanan dan minuman ini harus selektif karena sekarang trennya ini sangat singkat hanya sembilan bulan, makin pendek. Pilihlah yang potensi bisnisnya jangka panjang, setidaknya minim tiga tahunan," paparnya.

Untuk pertumbuhan ekonomi nasional pada 2022, Bhima memproyeksi berada di kisaran 4-5 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/YoY). Pertumbuhan tersebut didorong oleh membaiknya kinerja ekspor, kenaikan harga komoditas, pulihnya konsumsi rumah tangga domestik, dan realisasi investasi yang sempat tertunda.

"Konsumsi rumah tangga domestik ini meningkat mendorong pemulihan ekonomi, terutama di Sumatra dan Kalimantan yang basis [perekonomiannya] pertambangan dan perkebunan. Pemulihannya lebih cepat dari Jawa," tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut pertumbuhan ekonomi pada 2022 akan lebih baik dibandingkan dengan 2021. Perbaikan terjadi seiring dengan menurunnya kasus dan pemulihan pandemi Covid-19.

Pemerintah telah memproyeksikan ekonomi pada 2022 bisa berada pada kisaran 5-5,5 persen. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi 2021.

Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi 2022 akan sekitar 4,7-5,5 persen. BI optimistis bahwa pemulihan akan terjadi pada tahun depan, dari 3,2-4 persen pada 2021.

Sri Mulyani juga menyebut laju pemulihan ekonomi Indonesia di masa pandemi Covid-19 dinilai lebih pesat jika dibandingkan pada saat krisis keuangan Asia (Asian Financial Crisis) periode 1997-1998 silam. Menurutnya, Indonesia hanya butuh waktu sekitar 18 bulan untuk bisa kembali ke level pertumbuhan ekonomi prapandemi.

"Meskipun dampaknya [pandemi Covid-19] luar biasa, namun sektor keuangan justru relatif resilient, bahkan bullish. Ini karena otoritas fiskal dan moneter melakukan countercyclical luar biasa besar, sehingga melimpah dan suku bunga rendah," ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rezha Hadyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper