Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inspirasi Memulai Bisnis Kuliner Hanya dari Dapur Rumahan ala Tiwu Rayie

Bermacam-macam makanan, tak terkecuali makanan yang sebelumnya hanya bisa dengan membuka warung atau rumah makan, kini bisa dijual langsung ke konsumen dari dapur rumah. Konsumen tinggal memesan lewat aplikasi kemudian kurir akan menjemput pesanan dari dapur dan mengantarkannya.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  20:20 WIB
Kuliner Tiwu Rayie -
Kuliner Tiwu Rayie -

Bisnis.com, JAKARTA - Usaha kuliner banyak dipilih oleh mereka yang memutuskan untuk memulai berwirausaha. Terlebih, saat ini usaha tersebut bisa dimulai dengan modal minim dibantu oleh layanan pemesanan dan pengantaran berbasis aplikasi ponsel.

Bermacam-macam makanan, tak terkecuali makanan yang sebelumnya hanya bisa dengan membuka warung atau rumah makan, kini bisa dijual langsung ke konsumen dari dapur rumah. Konsumen tinggal memesan lewat aplikasi kemudian kurir akan menjemput pesanan dari dapur dan mengantarkannya.

Kemudahan itu yang kemudian melahirkan konsep "dapur rumah" (home kitchen) dan cloud kitchen yang hanya menerima pesanan secara daring. Keberadaannya makin menjamur pascapandemi Covid-19 seiring dengan perubahan kebiasaan masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Jauh sebelum cloud kitche menjamur, penyanyi Tiwu Rayie sudah memulai usaha serupa dengan nama Dapur MTW. Usaha yang dimulai sejak 2015 itu menawarkan beragam menu Nusantara seperti lidah balado, lidah cabe ijo, cakalang balado, mesere ayam suwir pedas dan lain-lain yang semuanya dimasak dengan resep dari ibundanya.

Pada awalnya, Dapur MTW hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, khususnya di kalangan keluarga dan teman Tiwu. Kala itu, dia masih menerapkan sistem pemesanan terlebih dahulu atau pre-order karena keterbatasan sumber daya.

"Dulu masih mouth to mouth sepertinya ya. Media sosial waktu itu juga belum sepopuler sekarang. Mengandalkan jaringan pertemanan, di sekolah bawa bekal teman-teman suka minta, akhirnya ada minta beli bekal saya, kemudian pesan masakan Ibu," katanya beberapa waktu lalu.

Ketika baru memulai Dapur MTW, kesulitan yang dialami oleh Tiwu adalah bagaimana agar pesanan bisa sampai ke konsumen. Dia mengaku pesanannya kerap hilang dibawa kabur kurir atau orang yang diminta untuk mengantarkannya.

"Dulu belum ada layanan delivery, setiap mau kirim pesanan itu bawaannya mulas, was-was pesanan sampai atau enggak. Soalnya sering pesanan itu dibawa kabur dulu kalau titip ke ojek," kenangnya.

Setelah kehadiran layanan pemesanan dan pengantaran berbasis aplikasi, pelantun lagu Bahagiaku itu baru bisa bernafas lega. Walaupun demikian, bukan berarti usaha yang dia jalankan jadi minim atau bahkan bebas hambatan.

Pesanan yang membludak dari aplikasi tersebut membuat pihaknya pusing tujuh keliling. Tak jarang dia dan para pekerja Dapur MTW harus melakukan pencatatan ulang pesanan, menu yang tersedia, hingga stok bahan baku.

Barulah setelah sistem point of sales (POS) yang mendukung transaksi penjualan dan terintegrasi langsung dengan fasilitas produksi masalah itu mulai teratasi. Pesanan yang terus bertambah ternyata diikuti juga oleh bertambahnya masalah.

Masalah selanjutnya adalah sumber daya manusia atau pekerja yang tidak loyal atau bahkan nakal. Beberapa pekerja diketahui pernah mengelabui Tiwu soal stok bahan baku.

"Pernah kejadian itu bahan-bahan baku dijual lagi, bilangnya stok sudah habis tetapi masih ada sebenarnya. Itu saja kita masih pakai sistem central kitchen. Ada saja pokoknya drama-drama SDM itu," ungkapnya.

Adapun, untuk mengatasi masalah tersebut akhirnya Tiwu menerapkan sistem baru yang menurutnya lebih adil dan mengapresiasi kinerja para pekerja. Sistem yang dimaksud adalah pemberian gaji ditambah bonus dari hasil penjualan yang diberikan secara terpisah.

Dapur MTW yang hanya melayani pesan antar dan bawa pulang, alih-alih makan di tempat juga jadi tantangan tersendiri bagi Tiwu. Karena dalam beberapa kesempatan ada pengunjung yang memaksa ingin makan di tempat.

"Ada konsumen yang ingin makan di tempat, akhirnya mereka malah makan di rumah atau tempat kita. Dulu suka bingung, ini siapa ya kok tahu-tahu muncul makan di meja makan kita," selorohnya.

Sementara itu, Merlin Soeyanto bersama dengan partnernya Ivonne Magdalena, menjual sambal ala rumahan resep dari ibunya hingga kini dijual ke luar negeri. Sambal Bu Djui, merupakan nama merek sambal yang namanya terinspirasi dari Ibunya, yang memiliki hobi masak dan membuat membuat sambal.

Sambal tersebut hanya pernah dicoba oleh keluarga atau teman terdekat. Sebelum Pandemi, yakni pada Desember 2019, Merlin kemudian mengupload di Instagramnya tanpa bermaksud jualan. Tak disangka, DM (Direct Message) Merlin membludak dan seminggu kemudian dirinya telah menerima 1.000 botol pesanan.

“Saya tidak berniat jualan, namun pre order-nya bisa membludak gitu. Nah, sewaktu teman-teman saya cobain semuanya, mereka suka banget dan keep on repeating,” ujarnya.

Pesanan tersebut kemudian terus meningkat hingga Merlin mengaku tidak sanggup untuk memenuhi PO dari konsumen. Kemudian teman dekatnya, Ivonne yang juga telah menggemari sambal Ibu Merlin dari kecil, mengajak untuk membesarkan bisnis ini.

Kemudian untuk keistimewaan sambal Bu Djui menurut Merlin terletak pada varian yang ditawarkan. Terdapat varian sambal yang jarang ditemui di pasaran sepeti sambal kecombrang, cumi arang, sambal kemangi, sambal cumi kemangi, dan produk lainnya berupa abon ikan peda.

Merlin mengaku bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis ini adalah pada harga cabai. Hal ini lantaran harga cabai yang fluktuatif.

“Harganya cukup signifikan, contohnya seperti harga cabai di akhir tahun. Fluktuatif harga bahan pangannya yang memang signifikan. Jadi pertama kali kita terjun, kita kaget juga” Ucapnya.

Adapun untuk saluran penjualan, selain mengandalkan platform digital sambal Bu Djui juga mengandalkan pihak ketiga atau reseller yang sebagian di antaranya adalah orang Indonesia di luar negeri.

"Banyak orang [di] luar negeri kangen dengan sambal. Mereka dengan sambal Bu Djui dan penasaran banget ingin coba. Jadi bukan reseller khusus, tetapi konsumen yang ingin jadi reseller disana," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner bisnis kuliner
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top