Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Perjalanan Bisnis ByteDance, Perusahaan Induk TikTok yang Populer di Dunia

Bytedance baru saja melakukan PHK terhadap ratusan karyawannya, simak perjalanan bisnisnya.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 05 Januari 2023  |  20:33 WIB
Perjalanan Bisnis ByteDance, Perusahaan Induk TikTok yang Populer di Dunia
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - ByteDance kini tengah menjadi perbincangan, usai terungkap bahwa induk TikTok melakukan PHK terhadap ratusan karyawannya di berbagai departemen pada akhir 2022.

Tentunya, pemangkasan dengan alasan pengoptimalan bisnis di sektor teknologi China memang sudah marak terjadi. 

Menariknya, sebagai perusahaan privat, ByteDance sendiri menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di sektor teknologi China, dengan lebih dari 100.000 karyawan di seluruh dunia. 

Lantas, seperti apa profil bisnis dari ByteDance ini? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Profil Pemilik ByteDance

Beijing ByteDance Technology merupakan salah satu perusahaan teknologi internet yang didirikan oleh Zhang Yiming sejak tahun 2012 dan kantor pusatnya berlokasi di Beijing.

Zhang sendiri merupakan lulusan dari software engineering yaitu di Nankai Univercity Beijing.

Selain menguasai bidang software engineering, Zhang juga memang menyukai bidang bisnis. Tak heran, jika dirinya memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis teknologi.

Zhang sempat bekerja di beberapa perusahaan, lalu bersama rekannya Liang Rubo pada tahun 2009 mendirikan startup 99fang, mesin pencari real estat yang berakhir gagal. 

Perkembangan Bisnis ByteDance

Meski mengalami kegagalam Zhang tidak menyerah. Dia pun, merilis aplikasi ByteDance yaitu Neihan Duanzi, sebuah platform berbagi jokes, meme, hingga video humor. Namun aplikasi itu ditutup pada 2018 karena bermasalah dengan pemerintah China.

Kemudian, dia kembali mendirikan Douyin, aplikasi short form video. Meski, di awal kemunculannya, situs tersebut melesat dengan cepat dan menjadi media informasi populer di Cina khususnya Tiongkok. Namun, banyak juga yang meremehkan Douyin karena dianggap hanya sebagai "copycat" dari aplikasi serupa yang lebih populer secara global yaitu Musical.ly.

Namun secara mengejutkan, ByteDance justru mampu mengakuisisi Musical.ly pada 2018 dan merilis brand aplikasi baru yaitu TikTok.

Baru di tahun 2015, ByteDance kembali mendirikan aplikasi lain yang berupa hiburan yaitu TikTok. Akhirnya, TikTok pun berhasil menarik perhatian para pengguna internet di seluruh dunia.

Dari sana, baru dunia mengetahui bahwa ByteDance telah memiliki 1,9 miliar pengguna aktif bulanan di semua platformnya. 

Bahkan, diketahui banyak juga aplikasi lainnya yang dikembangkan oleh ByteDance yang juga populer dan digunakan oleh banyak orang di seluruh dunia, seperti, Helo (aplikasi jejaring sosial India), Vigo Video (sebelumnya Hypstar), Douyin (setara dengan TikTok dalam bahasa China), BaBe (platform berita dan konten Indonesia), dan Huoshan (aplikasi video bentuk pendek China) 

TikTok Jadi Kunci Kesuksesan ByteDance

Jalan kesuksesan ByteDance ternyata tidak mulus, bahkan beberapa produk yang diluncurkannya tak jarang mendapat kesulitan. 

Melansir dari Zippia, ByteDance sendiri dituduh bekerja sama sama dengan Partai Komunis China untuk menyensor dan mengawasi konten yang berkaitan dengan kamp pendidikan ulang Xinjiang dan topik lain yang dianggap kontroversial oleh Partai.

Bahkan, salah satu aplikasinya, yaitu Helo diklaim bahwa aplikasi berita berbahasa India menyebarkan informasi palsu, hingga akhirnya Zang mengajukan gugatan pencemaran nama baik. 

Tak hanya itu, TikTok pun sempat diblokir oleh pemerintah AS dan India karena diindikasikan menghimpun data-data pengguna secara ilegal dan isu konten pornografi. 

Sehingga, banyak yang menyangsikan bahwa TikTok akan mampu sukses secara global, namun ternyata ByteDance membuktikan bahwa mereka mampu. Terbukti, pada awal tahun ini, ByteDance menghasilkan pendapatan lebih dari US$7 miliar atau setara dengan Rp109 triliun. 

Kini, beberapa perusahaan seperti Kohlberg Kravis Roberts, SoftBank Group, Sequoia Capital, General Atlantic, dan Hillhouse Capital Group memberikan dukungan finansial untuk ByteDance yang bernilai US$250 miliar atau setara dengan Rp3.901 triliun dalam perdagangan swasta pada Maret 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ByteDance TikTok media sosial
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top