Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peti Mati Ramah Lingkungan Made in Bali Diminati Pasar Luar Negeri

Digitalisasi membuat peti mati ramah lingkungan asal daerah Bali, semakin diminati oleh pasar luar negeri.
Peti mati ramah lingkungan dari Bali
Peti mati ramah lingkungan dari Bali

Bisnis.com, DENPASAR—Produk-produk kerajinan berbahan dasar ramah lingkungan hasil karya perajin Indonesia semakin diminati oleh pasar internasional.

Salah satu contohnya adalah produk peti mati berbahan ramah lingkungan atau ecodegradable hasil karya pelaku UMKM Arum Dalu Sekar di Kerobokan, Kabupaten Badung. Owner Arum Dalu Sekar, Nawangsari Setyowati menuturkan permintaan produk kerajinanya datang dari luar negeri semua. Permintaan dari dalam negeri justru belum ada. Peminat produk datang dari Jerman, Belanda, Prancis, hingga Amerika Serikat serta Australia.

“Permintaan terus ada, tetapi kami batasi untuk mempertahankan kualitas,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (19/05/2023).

Rerata setiap bulan pengiriman peti mati ke berbagai negara tersebut mencapai 100 unit dengan harga terendah sekitar Rp2 juta per unit. Dia memprediksi permintaan peti mati ini akan semakin meningkat seiring tumbuhnya kesadaran dari masyarakat akan ramah lingkungan.

Nawangsari mengaku kesediaan buyers dari luar negeri membeli produknya dikarenakan kualitas. Kini usahanya juga merekrut belasan pekerja serta menggandeng puluhan petani di Jawa Timur untuk memasok kebutuhan bahan baku.

Bisnis pembuatan peti mati ramah lingkungan ini dimulai sejak 2008. Sebelum itu, tepatnya 1991, Nawangsari sudah menjadi eksportir kerajinan dari beberapa wilayah di Indonesia menggunakan bendera Arum Dalu Sekar. Sebagai pengusaha, rupanya saat itu dia gelisah dengan banyaknya jenis kerajinan yang diekspor. Terlalu banyak produk membuatnya merasa tidak memiliki ciri khas.

Puncak kegelisahan itu semakin memuncak ketika mengikuti pameran di Lyon, Prancis. Salah seorang peserta pameran dari Prancis memberikan masukan kepadanya untuk memiliki satu produk spesifik. Masukan tersebut terus terngiang di kepalanya hingga beberapa tahun. Saat itu belum terpikir memproduksi peti mati ramah lingkungan.

Ide tersebut baru muncul pada 2008. Berawal dari masuknya permintaan dari salah seorang buyer Inggris di dalam grup Fair Trade. Ini merupakan lembaga yang mewadahi pelaku usaha dari seluruh negara untuk mengadopsi keterbukaan dan keadilan dalam berbisnis. Arum Dalu Sekar merupakan anggota dari perkumpulan ini. Nawangsari mengaku awalnya bingung untuk menyanggupi permintaan calon pembeli tersebut.

peti mati ramah lingkungan
peti mati ramah lingkungan

“Awalnya sempat bingung caranya gimana untuk buat. Syukurnya, saya sudah sering keliling bertemu pelaku usaha di pelosok daerah sehingga dari situ tahu dimana untuk mendapatkan bahan baku,” tuturnya.

Diakuinya butuh waktu lama untuk dapat memproduksi peti mati ramah lingkungan berkualitas. Lebih dari 3 tahun dirinya baru bisa menghasilkan produk yang sesuai standar permintaan buyer. Penyebabnya, dia tidak memiliki pengalaman membuat peti mati ramah lingkungan. Tidak satupun pekerjanya juga punya skill membuat peti dari anyaman dari pandan dan bahan-bahan ramah lingkungan. Nawangsari hanya berbekal keyakinan mengetahui rantai penghasil bahan bakunya. 

Peti mati ramah lingkungan terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, pandan, kayu hingga pelepah pisang. Jenis material tersebut banyak didatangkan dari Malang, Jawa Timur. Bahan material tersebut diramu sedemikian rupa membentuk sebuah peti mati. Untuk pewarnaan tidak boleh menggunakan cat kimiawi. Paku juga tidak diperkenakan digunakan sebagai penguat material. Diganti dengan bambu.

 

“Saya pernah tiba-tiba dihubungi buyer katanya bagian bawah peti mati tidak kuat. Tangan jenasahnya sampai terlihat keluar,” tuturnya mengingkat saat awal memproduksi.

Kejadian tersebut tidak membuatnya putus asa. Dengan jam terbang lama sebagai eksportir kerajinan, kunci utama dia bertahan karena berkomunikasi transparan dengan buyer. Salah satu contohnya ketika ada laporan adanya produknya bermasalah. Respon cepat, transparan, dan permintaan maaf serta komitmen produk berikutnya akan dibuat lebih bagus membuat buyer nyaman.

Kunci lain yang tidak kalah penting saat awal merintis usahanya adalah kemampuan untuk beradaptasi. Jarak buyer dan pelaku UMKM biasanya berpotensi menjadi gangguan. Meskipun sudah ada alat komunikasi, tidak menjadi jaminan apa yang diinginkan calon pembeli bisa dipenuhi. Antisipasi dengan memanfaatkan digitalisasi.

Dia mencontohkan untuk menyakinkan pembeli Inggris, pihaknya membuat video hingga foto-foto serta detil bahan material pembuatan peti mati. Menyuguhkan informasi secara detil lewat digitalisasi sangat penting agar tidak mengecawakan calon pembeli. Strategi seperti itu, terbukti ampuh. Bahkan ketika pandemi pun, Nawangsari tidak mengalami penurunan permintaan.

“Pandemi tetap stabil. Tidak meningkat drastis meskipun ada Covid-19 tetapi sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Digitalisasi tersebut yang akan terus dipertahankan kedepannya. Ditambah lagi saat ini sudah eranya internet, maka tidak ada pilihan selain mengadopsi secara cepat. Kunci keberhasilan usahanya yang lain adalah support permodalan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) khususnya Kantor Cabang Kuta. Nawangsari merupakan nasabah yang naik kelas dari KUR kecil sebesar Rp500 juta hingga mendapatkan pembiayaan dengan plafon Rp2,1 miliar.

Sebagai eksportir, dana pembayaran tidak bisa dicairkan secara cepat. Butuh waktu sekitar 4-5 minggu sejak barang dikirimkan. Itupun harus melalui pemeriksaan dulu produk oleh pembeli. Permodalan KUR, membantu nafas usahanya bisa lebih panjang.

Dikutip dari keterangan tertulis, Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto mengatakan bahwa sudah menjadi komitmen BRI Group untuk terus mendampingi nasabah, terutama pelaku bisnis dan UMKM untuk menembus pasar internasional. Termasuk pelaku UMKM yang memiliki inovasi di bidang lingkungan.

Amam mengutarakan bahwa BRI tidak hanya konsisten mencetak economic value, tetapi juga terus berupaya menciptakan social value yang berdampak bagi masyarakat, tak terkecuali terhadap UMKM yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan. 

“Sesuai dengan penguatan penerapan prinsip environmental [lingkungan], social [sosial], dan governance [tata kelola yang baik] atau ESG yang menjadi fokus perseroan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler