Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Safrida Purnamasari Mengukir Untung Lampu Tudung

Bisnis.com, JAKARTA - Orangtua saya membebaskan kesukaan dan kreativitas saya. Ayah saya bahkan sempat becanda begini, kusekolahkan kau jauhjauh, kerjaan kau beli lampu saja.
Gloria Natalia Dolorosa
Gloria Natalia Dolorosa - Bisnis.com 14 Juli 2013  |  23:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Orangtua saya membebaskan kesukaan dan kreativitas saya. Ayah saya bahkan sempat becanda begini, kusekolahkan kau jauhjauh, kerjaan kau beli lampu saja.

Dari kesukaan menjadi ladang penghasilan. Gara-gara suka akan cahaya lampu, Safrida Purnamasari jadi wirausaha maju. Selama 10 tahun berkecimpung di dunia usaha mandiri, Frida belajar banyak hal. Yang utama, belajar berdiri sendiri di tengah cibiran banyak orang.

Safrida, akrab dengan nama Frida, sudah suka akan cahaya lampu saat dirinya masih sangat belia. Bila anak kecil matanya akan berbinar-binar melihat mainan boneka dan mobil-mobilan, Frida akan melonjak kegirangan saat melihat lampu dekorasi. Bagi Frida, melihat cahaya lampu yang keluar dari balik tudung adalah keasyikan tersendiri.

Perempuan kelahiran Jayapura, 16 Juli 1975, itu ingat hobinya di masa muda.

Frida amat senang saat diajak berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan Pasaraya Sarinah Jaya di Blok M, Jakarta. Di sana dia keluar masuk toko-toko yang menjual kap lampu dan lampu meja.

”Lihat lampu senang banget. Dari lampu, suasana dalam satu ruangan tercipta,” kata Frida saat mengenang peristiwa masa kecilnya pada Senin siang (8/7/2013).

Tidak ada pengaruh dari orangtua yang membentuk kesukaan Frida terhadap lampu dekorasi. Yang dia ingat, ibunya sangat suka menata rumah, tapi tidak spesifik menata lampu. Lantaran ibunya gemar menata perabot di dalam rumah, Frida ikut suka. Majalah-majalah disain interior dilahapnya sedari kecil.

Namun, urusan suka lampu, Frida tidak paham dapat pengaruh dari mana. Kesukaannya itu membuat Frida kecil jadi sangat antusias mendekorasi ruangan menggunakan lampu berkap.

”Sejak sekolah dasar saya sudah minta orangtua ganti kap lampu di rumah. Saya minta mama pergi ke Blok M untuk beli kap lampu,” katanya diakhiri tawa.

Kesukaannya terhadap lampu dekorasi semakin menjadi saat Frida pindah ke Australia pada 1997.

Saat itu perempuan berdarah Batak tersebut ambil studi komunikasi di University of Canberra. Di negeri kanguru tersebut Frida menemukan banyak orang yang menyukai lampu bertudung dengan nilai estetika dan historis yang tinggi. Selera ini yang tidak dijumpainya di Indonesia.

”Di sana orang melihat lampu tidak hanya dari fungsi. Lebih dari itu, nilai estetika diperhitungkan. Begitu juga dengan nilai sejarahnya,” kata Frida.

Di saat itulah Frida belajar bahwa kap lampu bisa dibuat dari berbagai bahan, dirangkai menjadi berbagai bentuk, dan dipasang dari berbagai sisi. Kap lampu juga bisa berasal dari barang-barang tua yang hampir dibuang pemiliknya.

Koleksi lampu berkap Frida saat kuliah semakin banyak. Puluhan jumlahnya.

Pernah dia membawa pulang bagasi berisi lampu seberat 100 kilogram dari Australia ke Indonesia. Juga pernah dia meminta ayahnya membawa sebuah lampu berkap selama duduk di dalam pesawat penerbangan Australia ke Indonesia. Lampu berkap tersebut saat ini ditaruhnya di ruang tengah dalam rumah untuk mengenang ayahnya yang sudah tiada.

”Orangtua saya membebaskan kesukaan dan kreativitas saya. Ayah saya bahkan sempat becanda begini, kusekolahkan kau jauh-jauh, kerjaan kau beli lampu saja,” kata Frida.

Lulus kuliah, Frida kembali ke Indonesia. Dia lantas bekerja di perusahaan konsultasi bisnis, kemudian pindah ke sebuah grup media massa. Hanya sebentar di sana, Frida pindah ke sebuah perusahaan agensi periklanan berskala internasional.

Meski sudah berada di tempat kerja dambaan, Frida masih merasa sepi. ”Hati saya tidak di situ. Saya ingin bergulat dengan lampu,” ucapnya.

Maka, berhentilah Frida dari tempat kerjanya, walau masih bimbang. Dia ingin membuka usaha rancang lampu dekorasi. Saat itu, pada 2003, banyak orang tidak sependapat dengan putusannya. Juga banyak yang mencibir niatnya untuk buka usaha khusus lampu.

Frida disergap ketakutan. Dia takut memulai usaha, khawatir siapa yang akan jadi pasarnya, dan bingung belajar merancang lampu dari mana.”Saya kuat karena suami dan orangtua mendukung saya. Saya coba fokus untuk mencari jalan memulai usaha,” kata Frida.

Langkah awalnya yakni mencari sumber daya manusia. Tukang pembuat lampu dicarinya. Banyak yang tidak pas dengan keinginannya, Frida mencari tukang lain. Saat dapat tukang yang sesuai, Frida belajar membuat lampu darinya, mulai belajar ukir kap lampu hingga membuat dimensi kap.

Rancangan lampu berkap yang sudah dibuat Frida coba dibuat nyata. Tidak sekali buat langsung jadi, lampu berkap perdananya dibuat berkali-kali. Karya pertama akhirnya jadi, lampu berkap yang terbuat dari kayu dan besi. Modelnya berbagai rupa, sesuai ide-ide Frida.

”Dan, ternyata ada pembelinya. Saya sungguh senang saat itu. Segala ide yang tersimpan lama dapat saya lampiaskan,” tuturnya.

Frida lantas menyewa tempat kecil di Jakarta Selatan. Disebut kecil karena tiga orang di dalam ruangan itu saja sudah bikin sumpek. Penjualan lampu dekorasi saat itu sudah lumayan bagi Frida.

Sekitar 2 sampai 3 bulan sebanyak 30 lampu berkap habis terjual. Dia menamai usahanya Cahaya Lampu.

PINDAH LOKASI

Masuk tahun ketiga, saat jumlah pesanan kian banyak, Frida memutuskan pindah ke tempat usaha yang lebih luas. Waktu itu, pelanggan Frida tidak hanya individu rumah tangga, melainkan sudah desainer dan restoran.

Maka, pada 2006, Cahaya Lampu beranjak ke Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan. Tempat usahanya bersebalahan dengan kediaman Frida. Di lokasi itu, Frida bisa leluasa berkarya sembari merawat anakanaknya yang berusia 6 tahun dan 9 tahun.

Sejak pindah lokasi, penjualan Frida meningkat dua kali lipat dari penjualan di lokasi sebelumnya. Pesanan merenovasi lampu pun semakin banyak. Kerap Frida minta para pelanggannya untuk tidakmembuang lampu yang tak lagi terpakai. Dibawa saja ke Cahaya Lampu, lantas direnovasi. Hasilnya, lampu lama seperti lampu baru yang bisa dipakai kembali.

”Setiap lampu punya cerita. Barang-barang tua jauh lebih besar nilai historisnya dibandingkan dengan barang-barang sekarang. Itu yang saya sampaikan ke pelanggan,” kata Frida.

Benda-benda yang hampir jadi sampah suka dikumpulkannya, kemudian dirangkai menjadi lampu tudung atau hiasan lampu tudung. Misal, botol wine, kaleng, keramik, besi, patung, dan ranting pohon.

Sementara, untuk kap lampu Frida berkreasi dengan songket, ulos, batik, kain ikat, manik-manik, dan kerang. Bagi Frida, lampu adalah karya seni dan kreativitas jadi fondasinya.

Bersama sepuluh tukang pembuat lampu, Frida merangkai benda-benda itu menjadi lampu berkap dengan nilai jual tinggi. Di tokonya Frida melego lampu berkap dari harga Rp350.000 hingga Rp3 juta per unit.

Bila pesanan khusus, nilainya bisa lebih tinggi dari lampu display hingga Rp7 juta. Saban bulan Cahaya Lampu mencatat jumlah penjualan dari display dan pesanan khusus sebanyak 50 hingga 100 unit. Sedangkan, jumlah penjualan berdasarkan proyek tidak tentu.

Kekhawatiran Frida di awal membuka usaha satu dasawarsa silam tidak terbukti. Pasar lampu berkap dengan model berbagai rupa ternyata ada. Lihat saja omzet Cahaya Lampu yang rata-rata meningkat 10%-20% tiap tahun. Sebagian besar pembeli ada individu, sisanya perusahaan dan restoran.

Untuk memperluas usaha, Frida sudah punya rencana. Di masa mendatang dia akan membuka tempat usaha berjualan lampu berkap yang memiliki layanan konsultasi pencahayaan. Dari jasa konsultasi itu, Frida berharap dapat merancang lampu yang diinginkan pembeli dan mewujudkannya.

Selama 10 tahun membangun usaha, Frida sudah membuktikan kesukaan terhadap sesuatu bisa diubah menjadi ceruk menghasilkan uang bagi diri sendiri dan orang lain. ”Ini pembuktian saya terhadap cita-cita saya yang pernah dicibir banyak orang. Saya bekerja dengan senang, maka pasar datang,” ujarnya. ([email protected])

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lampu tudung safrida purnamasari

Sumber : Bisnis Indonesia, 14 Juli 2013

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top