Bisnis Rendang: Resep Sang Nenek

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek yang menggiurkan dari bisnis rendang kemasan ini pula dirasakan oleh pasangan suami istri Ivan Diryana dan Intan Rahmatillah di ba wah bisnis usaha rendang Nenek. Awalnya, Ivan yang sempat men coba rendang buatan nenek sang
Dewi Andriani | 05 September 2013 08:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek yang menggiurkan dari bisnis rendang kemasan ini pula dirasakan oleh pasangan suami istri Ivan Diryana dan Intan Rahmatillah di ba wah bisnis usaha rendang Nenek. Awalnya, Ivan yang sempat men coba rendang buatan nenek sang istri, langsung merasa ketagihan.

“Rendang nenek ini unik, karena dia lebih kering dan warnanya lebih gelap, dagingnya pun empuk, kemudian saya berpikir untuk menjual.

Karena tidak memiliki modal untuk membuat rumah makan Padang, jadi jual rendangnya saja,” ucapnya.

Pada awal memulai usaha yakni pada 2011, Ivan yang memang hobi memasak ini membuat sekitar 4 kg rendang dalam sebulan dengan resep khas sang nenek. Promosi yang dilakukan saat itu melalui media online, serta mulut ke mulut. Saat ini, dia sudah memiliki reseller di berbagai kota, terutama di Jakarta.

Terdapat tujuh varian Rendang Nenek, antara lain rendang daging, rendang hati, rendang limpa, rendang jamur, rendang ayam, rendang Jengkol, dan rendang bebek.

Ada dua jenis kemasan yang dijual yakni dengan berat 220 gram untuk isi 5 hingga 6 potong daging, serta 440 gram yang berisi 10 hingga 12 potong daging.

Harga yang dibanderol rata-rata Rp60.000—Rp65.000 untuk rendang daging kemasan 220 gram, dan yang paling murah rendang ayam seharga Rp50.000—Rp55.000 per 220 gram.

Dengan cita rasa yang tidak terlalu berat, Rendang Nenek ini dinilai cocok di lidah masyarakat Kota Jakarta dan Kota Bandung. Saat ini dia mampu memproduksi 20 kg per hari atau rata-rata 400 kg per bulan, dan sempat mencapai 1 ton pada bulan Ramadan, belum lama ini.

“Omzet kami rata-rata sekitar Rp100 juta dengan keuntungan bersih sekitar 20% hingga 25%.”

Ivan menilai menjaga daya tahan tanpa menggunakan bahan pengawet menjadi hal paling penting yang harus dijaga oleh para produsen yang menjalankan bisnis rendang kemasan.

Ketika pertama kali terjun dalam bisnis ini, tutur Ivan, rendang kemasannya hanya mampu bertahan selama sepekan karena menggunakan plastik biasa dengan pengemasan biasa pula.

Akhirnya, dia membeli vacuum sealer rumahan dengan harga di bawah Rp1 juta dan daya tahan pun meningkat menjadi sebulan. Semakin lama, banyak reseller yang ikut menjual dan ingin agar rendang tersebut bisa bertahan lebih lama.

Kemudian, dia mendapat informasi dari Unpad tentang cara menjaga agar ketahanan makanan kemasan bisa lebih lama, dengan proses sterilisasi.

Caranya, pertama rendang dimasukan dalam plastik tahan panas kemudian divakum. Saat ini, Ivan sudah menggunakan vacuum sealer industri yang dibeli seharga Rp8 juta, setelah itu disterilisasi dengan cara dikukus.

Proses tersebut membuat daya tahan Rendang Nenek bisa bertahan hingga setahun tanpa pengawet. “Kami ingin agar daging yang sudah diberi bumbu dan dijual melalui online ini bisa bertahan lama, lalu di lakukanlah proses sterilisasi dengan cara dikukus,” ucapnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Kamis (5/9/2013)

Tag : rendang
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top