Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Batik Jambi Ariny: Sempat Rugi dan Tutup, Kini Raih Omzet Ratusan Juta

Sejak UNESCO mengakui batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia pada 2009 lalu, masyarakat berlomba mengenakan batik dalam berbagai acara.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 15 April 2015  |  11:15 WIB
Salah satu kemeja koleksi Batik Jambi Ariny dengan motif angso duo.
Salah satu kemeja koleksi Batik Jambi Ariny dengan motif angso duo.

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak UNESCO mengakui batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia pada 2009, masyarakat berlomba mengenakan batik dalam berbagai acara. Popularitas batik yang sedang naik daun itu menjadi keuntungan bagi para pelaku usaha kreatif.

Kini batik tak lagi melulu bercorak kebudayaan Jawa. Kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam bisa ditorehkan dalam batik, seperti yang dilakukan Taufik, pemilik merek Batik Jambi Ariny.

Taufik dan keluarganya bisa dibilang sudah lama akrab dengan bisnis batik. Dia memulai usahanya pada 1997. Namun sebenarnya kakaknya sudah lebih dulu mendirikan usaha sejenis pada 1980.

“Di Jambi ini dulu susah cari oleh-oleh, kita ingin orang kalau datang ke sini bisa bawa Batik dari Jambi, karena dulu batik sudah dipakai dalam sejarah budaya Melayu di sini. Jadi selain alasan bisnis juga untuk melestarikan budaya,” tuturnya.

Modal pertama Taufik, selain canting peninggalan bibinya, yakni uang Rp600.000 yang dipakai untuk beli kain sutra. Celakanya, karena niat yang terlalu menggebu-gebu padahal penguasaan keterampilan masih pas-pasan, kain sutra itu malah gagal produksi dan koyak.

Namun pria 43 tahun ini tak putus asa. Dia membeli kain 20mx20m dan kembali membatiknya. Desain yang dibuatnya kebanyakan tentang flora dan fauna dan ikon kota Jambi seperti kapas, angso duo, durian pecah, kapal sanggat, Keris Siginjai, Burung Kwau, hingga sungai Batanghari.

Awalnya dia kesulitan memasarkan produknya hingga ia usahanya sempat berhenti. Apalagi saat itu pasar batik masih sangat lesu. Dari segi harga pun dia kalah saing dengan harga batik desain Jambi yang diproduksi di Jawa.

Namun, sejak batik kembali populer dan dapat pengakuan UNESCO, dia segera menghidupkan mesin produksinya kembali. Cara pemasaran pun dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet, seperti lewat Facebook maupun situs web. Sistem penjualan reseller juga dia terapkan demi meluaskan pasar.

“Alhamdullilah lewat teman-teman reseller, batik Jambi jadi lebih dikenal dan diterima pasar, bahkan ada pesanan dari Korea serta daerah-daerah lain di Indonesia seperti Medan, Kalimantan, Jakarta,” ujarnya.

Batik produksinya dibanderol dengan harga Rp180.000-Rp500.000 untuk batik katun yang sudah dijahit jadi kemeja, dan Rp140.000-Rp400.000 untuk batik katun dalam bentuk kain.

“Tahun 2014 omzet saya Rp118 juta. Tahun ini kelihatannya akan naik karena dalam Januari-Februari saja sudah mencapai Rp25 juta,” ujarnya. Dia bisa mengantongi margin keuntungan hingga 40%.

Semakin hari peminat batik Jambi Ariny diakuinya semakin banyak. Namun dia terkendala beberapa hal mulai dari persaingan harga hingga sulit mencari tenaga kerja. Diakuinya membatik belum menjadi pilihan pekerjaan masyarakat di Jambi.

Bahan baku yang mahal juga jadi persoalan tersendiri. Taufik berharap Pemda setempat bisa mendukung usaha kreatif batik dengan menjalin kerjasama langsung dengan negara-negara produsen.

Keberadaan batik dengan corak Jambi yang dibuat di Pulau Jawa bahkan batik impor dari Tiongkok masih mendominasi pasar batik. Namun dia punya resep bagi pelaku usaha batik di luar Jawa, a.l fokus pada target pasar yang ingin disasar serta harus memiliki keunggulan produk. Taufik juga rutin mengikuti pameran dan menggelar workshop membatik bagi kalangan muda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batik indonesia
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top