CIPUTRA WAY: Doa Adalah Langkah Awal Hadapi 'Goliat'

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat yang dikatakan oleh Daud ketika akan maju berperang melawan Goliat yaitu "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam..Inilah tindakan kita yang pertama ketika kesulitan datang menghadang jalan kita yaitu berseru kepada TUHAN YME. Doa adalah langkah awal dari kita dan setelah itu mari kita semua bekerja sama, bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja kreatif sambil terus berdoa untuk menghadapi Goliat kita saat ini yaitu kelesuan pasar. Bersama TUHAN YME dan dengan semangat IPE (Integritas, Profesionalisme & Entrepreneurship) kita akan menang.
Ir. Ciputra | 04 Agustus 2015 15:08 WIB
Ir.Ciputra - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kisah Daud melawan Goliat memang bukan kisah biasa, ini adalah sebuah peristiwa yang terjadi sekitar 3.000 tahun lalu namun tidak pernah terhapus oleh perjalanan waktu. Daud seorang gembala domba yang berwajah tampan kemerah-merahan dan gemar bermain kecapi dalam hitungan hari menjadi pahlawan bangsanya karena mengalahkan Goliat lawan terberat dari bangsanya.

Secara fisik jauh sekali beda antara Daud dan Goliat. Diperkirakan tinggi Goliat sekitar 2.93 meter sedemikian rupa begitu tinggi dan besar sehingga baru saja prajurit dari bangsa Daud melihatnya mereka sudah melarikan diri sebelum bertempur. Goliat adalah sebuah contoh ancaman nyata yang begitu mengerikan sehingga membuat kita gentar dan  lari sebelum sungguh-sungguh bertarung menghadapinya.

Dari sisi pengalaman bertempur terdapat perbedaan yang sangat besar. Goliat dibesarkan sebagai petarung sedangkan Daud sebagai gembala. Goliat terbiasa mengalahkan pendekar musuh, Daud terbiasa mengalahkan binatang-binatang buas musuh dari domba gembalaannya. Dari sisi kelengkapan senjata juga terdapat perbedaan yang besar, Goliat maju berperang dengan baju dan senjata perang yang berat dan lengkap dan ini yang dituliskan tentang peralatan perang Goliat.

“Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga atau 57,5 kg. Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi atau 6,9 kg beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya”.

Sebaliknya Daud tidak pernah memakai baju perang atau menggunakan alat perang. Ia gugup dan gamang ketika mengenakan pakaian perang sehingga ia memutuskan untuk berperang hanya dengan “seragam” gembala yang ia miliki.  Akhir dari cerita telah kita ketahui bersama yaitu Daud menjatuhkan Goliat dengan sebuah hantaman batu yang dilemparkan oleh umban yang dengan keras dan tepat menghantam dahi Goliat tepat diantara kedua matanya.

Apa yang dapat kita pelajari? Saya melihat ada 3 pembelajaran penting dari kisah Daud mengalahkan Goliat. Pertama keberanian Daud lahir dari keyakinan atau iman yang besar bahwa ia sedang melakukan yang benar dan TUHAN pasti akan menyertai dia.

Daud mengatakan kepada Raja Saul bahwa ia tidak gentar menghadapi Goliat dan tentara musuh karena selama ini ia telah mengalami sendiri pemeliharaan TUHAN ketika harus melawan singa dan beruang yang mengganggu domba gembalaannya. Kesimpulan saya jangan takut terhadap tantangan bila kita sedang melakukan sesuatu yang benar. TUHAN YME akan berada di pihak kita bila kita memang melakukan yang benar menurut standar TUHAN.

Dalam budaya kerja perusahaan kita melakukan yang etis dan benar adalah INTEGRITAS. Saya mengajak setiap kita untuk terus memelihara integritas sebagai nilai yang pertama dan mendasar untuk Grup kita.

Yang kedua Daud maju berperang dengan apa yang telah ada di tangannya, sesuatu yang ia sudah terbiasa melakukannya. Ia tidak terpaku pada hal-hal yang tidak ia miliki dibandingkan lawannya Goliat. Apakah itu sosok fisik yang tinggi besar, jam tempur yang panjang ataupun alat-alat perang yang perkasa. Daud bertempur “hanya” menggunakan umban dan umban pada jaman itu bukan sebuah alat permainan anak seperti kita bermain ketepel di masa kecil.

Penulis best seller dunia Malcolm Gladwell dalam bukunya dengan judul David and Goliath menuliskan bahwa batu keras yang dilemparkan oleh umban bisa melejit kencang seperti peluru dari pistol kaliber 45. Lontaran batu dari umban dapat sangat mematikan bila mengena pada bagian tubuh tak terlindungi dan rentan terhadap pukulan keras. Umban sesungguhnya bukan sekedar alat untuk mengusir binatang buas umban adalah juga salah satu senjata untuk berperang.

Kecakapan mengumban dengan lontaran keras dan mengena dengan tepat adalah salah satu kecakapan khusus prajurit perang pada masa itu. Catatan sejarah peperangan menuliskan bahwa ketepatan batu umban menumbuk sasaran sama dengan ketepatan anak panah menembus sasaran. Apa yang ingin saya tarik pembelajarannya? Daud bukan sekedar membawa apa yang dia bisa lakukan yaitu mengumban tapi ia sungguh-sungguh cakap dan ahli dalam melakukannya. Ia sanggup melontar dengan cepat, keras dan tepat mengena pada sasaran yang mematikan.

Dalam bahasa budaya kerja Grup Ciputra kita mengatakan bahwa inilah yang disebut PROFESIONALISME. Sosok profesional adalah sosok yang sangat kompeten dalam menuntaskan pekerjaan yang dipikulnya sedemikian rupa sehingga tepat sasaran, tepat kualitas, tepat waktu dan tepat biaya.

Pembelajaran yang ketiga adalah bagaimana Daud mengajak Goliat untuk bertempur melawan dirinya di sebuah gelanggang tarung yang tidak pernah dihadapi Goliat sebelumnya. Goliat terbiasa berperang mengggunakan baju perang dan alat perang yang kuat dan berat yang membuat dia sangat terlindungi tapi sekaligus ia tidak dapat bergerak cepat. Selama musuhnya juga menggunakan peralatan yang sama maka Goliat akan jadi pemenang karena tubuhnya lebih besar sanggup mengenakan baju perang yang lebih kuat dan tenaganya juga lebih besar sanggup membawa alat perang yang lebih berat dan mematikan.

Daud tidak melawan Goliat dengan cara Goliat biasa bertempur. Ia berperang tanpa baju perang sehingga dapat bergerak dengan cepat. Ia berperang tanpa menggunakan senjata perang seperti Goliat sehingga musuhnya lengah dan menyepelekan dia.  Kisah perkelahian Daud dan Goliat dimulai dengan Goliat lebih dulu datang mendekati Daud dan Daud segera berlari menyongsong dan kemudian melontarkan batu dengan umbannya.

Tentu saja Goliat tidak bisa berlari untuk mendekati Daud karena peralatan “lengkap dan berat” yang ada di tubuhnya dan saya pikir pada saat Goliat melihat Daud berlari menyongsong dia maka Goliat mulai binggung. Tentara lain dengan senjata lengkap sudah kabur ketika ia begerak maju menghampiri sedangkan anak muda ini tanpa baju perang dan alat perang malah berlari menyongsong dia.

Pada saat yang sama Daud mempersiapkan batu untuk umbannya dan saya membayangkan sambil berlari Daud mengayun-ayunkan umban berisi batu dan ketika “jarak tembaknya” sudah ia capai maka Daud melejitkan sebuah batu keras yang melesat cepat dan menghantam dengan keras sebuah titik lemah dari Goliat yaitu dahi. Gerakan lari dari Daud menciptakan tambahan tenaga kepada putaran umban sehingga batu terlontar begitu cepat dan langsung terbenam di dahi diantara dua mata Goliat yang tak terlindungi oleh ketopong perang. Inilah pembelajaran tentang ENTREPRENEURSHIP yaitu menang dengan cara berINOVASI. Pembelajaran untuk kita, jangan terjebak dan tergiring dengan cara dan siasat pesaing dalam berkompetisi tetapi selalu ciptakan cara dan siasat baru untuk menang.

Di masa sekarang ini siapakah Goliat yang sedang kita hadapi? Goliat kita adalah ekonomi yang lesu dan gairah belanja properti yang sedang menurun. Apa yang harus kita lakukan? Belajarlah dari Daud dan mari lakukan 3 hal ini bersama-sama:

  • ·      Pastikan TUHAN berada di pihak kita dengan selalu ber-INTEGRITAS dengan cara selalu melakukan yang etis dan benar.
  • ·      Jadilah orang atau tim yang sangat kompeten. Apapun posisi anda saat ini jadilah orang yang sangat cakap dalam pekerjaan anda. Itulah PROFESIONALISME.
  • ·      Mari ber-inovasi. Jangan terjebak dengan melakukan strategi dan cara yang lama, itu semua sudah kadaluwarsa. Sebuah cara untuk underperformance (rendah prestasi) adalah menerapkan cara lama di tantangan yang baru.  Tantangan baru menuntut lahirnya strategi baru. Mari kita lakukan ENTREPRENEURSHIP secara massal yaitu “mengubah kelesuan dan perlambatan ekonomi menjadi peluang untuk menang dengan cara baru”.

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat yang dikatakan oleh Daud ketika akan maju berperang melawan Goliat yaitu” "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam..”

Inilah tindakan kita yang pertama ketika kesulitan datang menghadang jalan kita yaitu berseru kepada TUHAN YME. Doa adalah langkah awal  dari kita dan setelah itu mari kita semua bekerja sama, bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja kreatif sambil terus berdoa untuk menghadapi Goliat kita saat ini yaitu kelesuan pasar. Bersama TUHAN YME dan dengan semangat IPE (Integritas, Profesionalisme & Entrepreneurship) kita akan menang.

Sumber : ciputraentrepreneurship

Tag : ciputra way
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top