Bisnis Kurma Cokelat Lezato Terus Kembangkan Variasi Rasa

Salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan peluang bisnis kurma adalah Lezato Cokelat yang didirikan oleh Widya Pujiastuti. Pemberian nama Lezato Cokelat tersebut terbesit secara spontan saja dan merasa cocok untuk bisnis kuliner yang dijalankan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  15:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan peluang bisnis kurma adalah Lezato Cokelat yang didirikan oleh Widya Pujiastuti. Pemberian nama Lezato Cokelat tersebut terbesit secara spontan saja dan merasa cocok untuk bisnis kuliner yang dijalankan.

Widya mengaku sangat menyukai cokelat, dan ketika makanan legit itu coba dipadukan dengan kurma maka rasanya masih masuk di lidah dan menurutnya tergolong lezat. Hal itulah yang membuatnya betah menekuni bisnis kuliner selama kurang lebih 4 tahun ini.

Bisnis kurma cokelat atau akrab disebut dengan kurcok saat Ramadan menjadi varian penganan baru dari kurma dan terbukti disukai oleh konsumen.

“Waktu itu saya pikir, makanan ini cukup banyak diminati, tetapi produsennya sangat sedikit. Setelah riset beberapa bulan sampai menemukan jenis kurma dan komposisi yang pas, akhirnya saya berani launching produk Kurcok Lezato ini,” paparnya.

Modal yang dibutuhkan untuk memproduksi kurcok ini menurut dia juga tergolong minim dan tidak memberatkan.
Dia mengawalinya dengan belanja kurma sebanyak 1 kilogram dan cokelat 1 kilogram, dengan tambahan peralatan untuk mengolah yang sudah dia miliki sebelumnya.

Jenis kurma cokelat yang diproduksi oleh Kurcok Lezato kini makin beragam, yakni terdiri dari 20 pilihan rasa.
Kurma dipadukan dengan penambahan almond, blueberry, kacang karamel, chocomaltine, chocomint, kismis, dan buah-buahan lainnya.

“Masing-masing rasa memiliki penggemarnya sendiri, dengan variasi rasa baru yang selalu diinovasi setiap saat,” katanya. Aneka kurma cokelat dijual dengan harga yang bervariasi, yakni mulai dari Rp55.000 sampai dengan Rp75.000 per stoples.

Dia mengatakan bahwa perbedaan harga tersebut ditentukan dari wilayah penjualan.  Widya mengatakan, pasar Kurcok Lezato saat ini tersebar di banyak daerah di Indonesia dengan dukungan pemasaran oleh 70 distributor dan agen serta ratusan reseller.

Dari sisi kapasitas produksi, lanjutnya, dia dapat memproduksi sekitar 1.000 hingga 1.200 stoples perharinya, atau sekitar 26.000 stoples setiap bulan.  “Jadi untuk omzet perbulan kira-kira mencapai Rp500 juta hingga Rp600 juta,” ungkapnya.

Dari segi bahan baku, Widya mengatakan bahwa selama ini tidak mengalami kendala yang menghambat.
Menurutnya, yang masih menjadi kendala adalah sumber daya manusia yang masih minim untuk mendukung produksi aneka kurcok.

Produk Kurcok Lezato memiliki standar dan kualitas yang diseragamkan sehingga proses pembuatan pun tidak mudah karena membutuhkan tenaga terampil yang mampu mengawal produksi dengan baik dan berkualitas.

“Dengan keterbatasan SDM [sumber daya manusia], kami berupaya untuk selalu berinovasi dengan menambahkan varian baru yang sedang kekinian. Selain itu ada menjalin kerja sama dengan mitra.”

Ke depan, Widya berharap pasar Kurcok Lezato kian berkembang dengan pelayanan dan tawaran produk yang berkualitas dan bervariasi.  “Kami akan terus memperbaiki pelayanan dan menjaga kepercayaan customer. Jadi kami tidak khawatir dengan kompetitor.” 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
entrepreneur, kuliner

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top