Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tips Kembangkan Waralaba Kuliner

Salah satu pengusaha yang sukses mengembangkan bisnis waralaba makanan dan minuman adalah Bedi Zubaedi yang memulai dengan bisnis makanan siap saji di bawah bendera usaha Quick Chicken pada tahun 2000.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  10:52 WIB
Ayam goreng - Istimewa
Ayam goreng - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis yang bergerak di bidang makanan dan minuman akan tetap memiliki prospek cerah. Agar usaha yang dijalankan cepat meningkat, maka tidak sedikit pelaku usaha yang mengembangkan bisnisnya dengan skema kemitraan atau waralaba.

Salah satu pengusaha yang sukses mengembangkan bisnis waralaba makanan dan minuman adalah Bedi Zubaedi yang memulai dengan bisnis makanan siap saji di bawah bendera usaha Quick Chicken pada tahun 2000.

Menurut Bedi yang sempat bekerja di sejumlah jaringan waralaba restoran siap saji internasional ini, pada awalnya dia memberanikan diri membuka restoran siap saji dengan modal awal Rp110 juta. Modal itu digunakannya untuk beli peralatan, bahan baku, dan sewa tempat.

“Saat itu restoran fried chicken hanya untuk masyarakat kelas menengah atas dengan merek-merek terkenal, belum ada yang menengah bawah padahal potensinya sangat besar sehingga saya melirik pasar itu membuat restoran fried chicken dengan harga yang lebih terjangkau,” tuturnya.

Saat awal memulai bisnis, Bedi tidak langsung mendapatkan keuntungan, terlebih lagi saat itu dirinya membuka usaha di daerah, dan belum banyak masyarakat yang tahu. Untuk itulah, dia selalu menanyakan testimoni kepada konsumen yang membeli sehingga bisa menjadi masukan baginya.

Setelah usahanya berjalan 6 bulan, rupanya Quick Chicken makin digemari masyarakat sehingga dia berani untuk membuka cabang di pusat perbelanjaan lokal yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga dalam setahun Bedi bisa membuka 20 cabang Quick Chicken. Modalnya didapatkannya dari menjual aset.

“Ketika dapat tempat di mal, saya langsung tancap gas, jual semua aset untuk memperbanyak cabang. Sebab, kalau hanya mengandalkan keuntungan baru buka cabang ya hanya sebatas itu saja, dan ekspansi menjadi lambat,” tuturnya.

Setelah brand yang dibangun sudah benar-benar kuat dan makin dikenal masyarakat, Bedi kemudian memutuskan untuk mengembangkannya melalui sistem waralaba atau franchise pada 2008.

Selain memberi kesempatan kepada masyarakat yang ingin mencicipi keuntungan bisnis tersebut, dia juga melihat bahwa waralaba menjadi salah satu cara untuk mempercepat perkembangan usaha.

“Waralaba ini menjadi salah satu cara untuk mempercepat ekspansi bisnis. Memberikan kesempatan untuk orang lain yang ingin terjun dalam usaha tanpa harus ribet, hanya tinggal ikuti standar operasional yang berlaku karena semua sudah proven dan sudah diuji coba oleh franchisor atau pewaralaba,” terangnya.

Saat ini Quick Chicken sudah memiliki sekitar 400 cabang yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, potensi kuliner ayam goreng siap saji ini tidak akan pernah mati karena telah menjadi salah satu menu makanan favorit masyarakat Indonesia.

Sukses dengan usahanya tersebut, Bedi kemudian mendirikan Bedi Corporation yang menaungi sejumlah brand kuliner yang juga ditawarkan dengan sistem waralaba dan kemitraan.

Kuliner yang dikembangkannya mulai dari menu-menu luar negeri seperti Huma Ribs Steak and Shake merupakan restoran steak dengan harga kaki lima, selanjutnya Nomi-Nomi Delight yang menawarkan berbagai menu khas Ramen Udon yang saat ini juga sedang tren di kalangan milenial.

Selanjutnya ada pula Ayam Goreng Kampung Hj. Listiawari, Ayam Goreng Tulang Lunak Ny. Nannys dan Makan Bakso yang semuanya bergerak pada bidang food and beverage (F&B).

“Bisnis F&B ini akan tetap potensial ke depannya, yang terpenting pemilik usaha harus kreatif menghasilkan produk-produk terbaru dengan cita rasa yang juga nikmat,” ujarnya.

Bisnis kuliner yang dapat dikembangkan pun tidak hanya terbatas pada menu-menu makanan internasional saja, bahkan makanan tradisional seperti gudeg, krecek, ayam goreng kampung, itu pun akan tetap bisa berkembang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner tips bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top