Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

New Normal, Kantong Rentan Menipis Karena Belanja Online

Mike Rini, CFP CFEI Financial Planner menyatakan selama masa pandemi Covid-19 sampai dengan masa normal baru, banyak anggapan tabungan masyarakat menggendut.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Juli 2020  |  16:27 WIB
Ilustrasi belanja online - Antara
Ilustrasi belanja online - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Meski telah memasuki normal baru, permasalahan keuangan masih menjadi salah satu persoalan yang belum diselesaikan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Mike Rini, CFP CFEI Financial Planner menyatakan selama masa pandemi Covid-19 sampai dengan masa normal baru, banyak anggapan tabungan masyarakat menggendut. Pasalnya, tidak banyak pengeluaran seperti transportasi atau biaya makan seperti aktivitas perkantoran pada umumnya.

Padahal, menurut Mike masih pengeluaran lain yang membengkak selama masa karantina di rumah sampai saat normal baru ini. Beberapa di antaranya yakni biaya listrik, pulsa, hingga biaya makanan dan minuman termasuk biaya belanja secara online.

“Listrik naik, transportasi malah turun. Jadi sebenarnya hanya switch perubahan saja. Apalagi ini awal-awal [pandemi] belum bisa membedakan mana yang perlu dan tidak. Sementara kita terpapar dengan media sosial tiap hari, iklan belanja online banyak dan promo-promo,” tutur Mike dalam Webinar bersama Digibank, Rabu (15/7/2020).

Dia mengingatkan, dalam upaya mengelola keuangan pada era normal baru, melakukan perencanaan, pengetatan alias penghematan sangat diperlukan saat ini. Dia menyebut perencanan dan penghematan adalah strategi bertahan dari normal baru yang masih diliputi ketidakpastian pada pandmei Covid-19. Hal ini juga sangat berkaitan dengan fluktuasi kondisi ekonomi berkaitan dengan belum ditemukannya vaksin atas virus tersebut.

“Belanja online itu jadi sulit berhemat, apalagi denga nada promo-promo. Kerja di rumah banyak waktu online, namun terekspose ragam iklan promo. Godaan belanja jadi besar, akhirnya beli karena promo. Terus begitu, awalnya tak terasa, nanti baru terasa setelahnya karena jumlah uang dikeluarkan itu besar,” pungkasnya.

Mike pun mengingatkan masa normal baru sebagai masa penyesuaian mau tak mau menuntut Anda untuk tetap waspada dalam melakukan pengeluaran, menabung, menyusun dana darurat, bersedekan, sampai investasi.

Cara yang paling cepat dilakukan, menurut Mike, adalah dengan mengubah gaya hidup atau lifestyle. Perubahan gaya hidup diyakini bisa menekan angka pengeluaran termasuk salah satunya perubaha gaya dalam berbelanja secara online.

“Perubahan gaya hidup sih, misal, kalau AC biasanya ada dua, lalu karena kerja harus dipakai. Cukup satu saja yang dipakai, jangan semua nyala. Terus juga penting memulai edukasi pengelolaan uang kepada anak,” sambungnya.

Dia pun menyebut agar selama masa normal baru yang penuh ketidakpastian ini, masyarakat menahan diri untuk menjual atau menggadai aset. Oleh sebab itu, dana darurat masih harus jadi prioritas untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga. Dia mengingatkan agar dana ini jangan cepat dihabiskan jika bukan dalam keadaan yang sangat darurat dan tidak terduga.

“Jadi solusi kalau krisis ya jangan dikit-dikit aset dijual, digadai. Ini terjadi karena pengelolaan dana daruratnya belum optimal. Jadi mulailah dana darurat ini dihitung dan diakumlasikan sesuai kebutuhan dalam rumah, apalagi bagi Anda yang merupakan sandwich generation, generasi yang menanggung beban biaya untuk keluarga maupun untuk orangtua,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanja online tips keuangan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top