Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rahasia Brand Fesyen asal Bandung Ini Jual 8.000 Potong Per Bulan

hal menarik lainnya dari pelanggan setia Calla ialah ketika muncul koleksi terbaru dari Calla the Label, mereka langsung memesan walaupun belum mengetahui seperti apa pola atau model yang akan diluncurkan tersebut.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 07 Juni 2021  |  18:34 WIB
Ilustrasi fashion - istimewa
Ilustrasi fashion - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Memiliki pelanggan yang loyal merupakan impian dari setiap pemilik bisnis, sehingga berapapun harga yang ditawarkan serta sebanyak apapun produk yang diproduksi, tidak menjadi masalah dan akan selalu laris manis.

Hal inilah yang dialami oleh Yeri Afriyani dalam membangun brand fashion lokal Calla the Label sejak 4 tahun lalu. Sebelum terjun dalam bisnis fesyen, Yeri merupakan seorang pekerja event organizer yang cukup sibuk dalam aktivitas kesehariannya, sehingga dia mengaku tidak memiliki waktu untuk berdandan.

Salah satu cara untuk menunjang penampilannya tetap keren ialah dengan memilih pakaian yang penuh warna. Alhasil dia pun mencoba untuk membangun brand fesyen sendiri dengan tema warna-warni dengan motif unik yang nyaman dipakai untuk bekerja, hangout, maupun berlibur.

Motif warna-warni dengan desain cheerful dan stylish tersebut ternyata cukup berbeda dan melawan arus tren saat itu yang sebagian besar brand hadir menawarkan fesyen dengan motif monochrome atau hitam putih.

“Saya melihat ada peluang pasar di sini karena orang juga butuh outfit yang keren untuk OOTD. Kebetulan pasar butuh maka saya berani kembangkan dan menjual produk ini. Awalnya dari teman-teman yang pakai dan akhirnya berkembang hingga saat ini,” tuturnya.

Selain menghadirkan pattern yang warna-warni, outfit yang diproduksi oleh brand fesyen asal Bandung ini juga menggunakan bahan ramah lingkungan yakni organic cotton yang dapat didaur ulang tanpa campuran polyester atau biji plastik yang bisa merusak lingkungan.

Seiring berjalannya waktu, para pengguna Calla terus bermunculan dan menjadi loyal customer, bahkan saking loyalnya, mereka pun membentuk Calla the Squad. Menariknya, para Calla Squad ini telah seperti komunitas dan seolah memiliki kekuatan tersendiri.

Yeri bercerita, pernah suatu ketika ada brand besar yang menjiplak pattern doodle dari brand Calla. Saat itu, Calla Squad langsung bergerak cepat dan meminta agar brand tersebut segera menarik desain yang dianggap ‘mencontek’ pattern dari Calla.

“Dan tidak sampai 2 kali 24 jam, model baju yang menggunakan pattern doodle yang mirip dengan Calla pun langsung ditarik di semua gerai-gerai mereka,” tuturnya.

Selain itu, hal menarik lainnya dari loyal customer Calla ialah ketika muncul koleksi terbaru dari Calla the Label, mereka langsung memesan walaupun belum mengetahui seperti apa pola atau model yang akan diluncurkan tersebut.

Begitu pula saat dia meluncurkan koleksi gaun Hari raya Calla The Label, yang pada saat teaser diunggah di instagram stories langsung banyak yang memesan padahal produk tersebut belum resmi dijual. Walhasil produk langsung ludes dalam kurun waktu kurang dari 2 jam.

Padahal, dari segi harga sendiri bisa dikatakan bahwa Calla memiliki kisaran harga yang tidak murah. Misalnya untuk satu kemeja lengan pendek saja bisa dibanderol sekitar Rp500.000. Adapun untuk koleksi Lebaran Calla the Label dibanderol mulai dari Rp 900 Ribuan hingga Rp1,2 juta.

“Menariknya, setiap kali saya bikin teaser koleksi terbaru di instagram, customer langsung membombardir DM untuk menanyakan kapan keluar. Padahal saat kita merilis satu SKU itu ya enggak kurang dari 1.000 pcs. Dalam sebulan saja produk yang keluar bisa mencapai 5.000 hingga 8.000 pcs,” jelasnya.

Lantas apa yang membuat para customer dari Calla begitu loyal? Yeri mengakui bahwa pihaknya memang betul-betul merawat para customer layaknya keluarga sendiri dan seperti tidak ada batasan antara brand dan customer, sehingga mereka merasa sangat nyaman berbelanja di Calla.

“Saat mereka datang ke toko pun mereka merasa seperti di rumah sendiri, karena kami bukan menyebutkan sebagai Calla Store tetapi Calla Home. Karyawan kami juga sudah memperlakukan konsumen seperti keluarga sendiri,” tuturnya.

Begitu pun cara Yeri membangun hubungan dengan para pelangganya, baik secara langsung maupun di media sosial. Untuk di media sosial sendiri dia juga yang merespons secara langsung para pelanggannya, sehingga tidak ada batasan antara owner dan pembeli.

“Enggak ada boundaries antara saya dan customer. Saya juga banyak mendapatkan inside gratis dari mereka, para Calla Squad, karena saya juga selalu mendengarkan mereka maunya ada dan sukanya apa sehingga mereka juga merasa lebih dihargai,” terangnya.

Menurutnya, engagement yang tinggi di instagram tersebut juga dapat membantu meningkatkan jumlah pengikut sekaligus penjualan dari poduk Calle the Label.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen tips bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top