Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Carline Darjanto Founder Cotton Ink, dari Jualan di Medsos hingga Tembus Mancanegara

Perjalanan bisnis Carline Darjanto Founder Brand Cotton Ink yang memulai bisnisnya dari berjualan di media sosial
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 29 September 2022  |  14:44 WIB
Carline Darjanto Founder Cotton Ink, dari Jualan di Medsos hingga Tembus Mancanegara
Carline Darjanto Founder Brand Cotton Ink - instagram
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Cotton Ink adalah salah satu brand lokal asli Indonesia terkenal yang telah mendunia.

Mengusung konsep casual with a twist, yaitu baju siap pakai sehari-hari, dengan desain yang simple, brand yang berdiri sejak tahun 2008 ini berhasil menjadi label favorit banyak orang dari berbagai segmen.

Adapun, sosok founder dari brand Cotton Ink adalah Carline Darjanto, di mana dirinya mampu secara sukses mengembangkan Cotton Ink menjadi produk ternama dan bahkan telah menjadi ikon baru di bisnis fashion wanita.

Awal Cotton Ink diluncurkan pada 2008, mereka baru menjual kaus bergambar dan syal. Jualannya pun saat ini hanya melalui media sosial.

Baru pada 2011, Cotton Ink membuat situs jual belinya sendiri. Lalu 4 tahun kemudian membuka toko yang berlokasi di Jakarta. Cotton Ink saat ini memproduksi hingga 8.000 pakaian per bulan untuk konsumen Australia, Malaysia, Singapura, dan Eropa. Selain itu, produksi ini juga datang dari 280.000 pengikutnya di media sosial.

Selain di Indonesia, nyatanya eksistensi Cotton Ink telah diakui oleh beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Australia. Bahkan, produksinya mencapai 8.000 pakaian per bulan untuk konsumen dari negara-negara di Eropa. Lantas, siapa sebenarnya sosok Carline Darjanto ini? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.

Profil Carline Darjanto, Founder Cotton Ink

Dunia fashion memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Carline Darjanto selepas SMA. Pasalnya semenjak menyelesaikan sekolah menengah atas di Santa Ursula Jakarta, Carline langsung menempuh studi fashion di Jurusan Desain Fashion Lasalle College of Fashion, Jakarta dan menerima penghargaan ‘Best Student of 2008’ saat wisuda.

Sebagai lulusan terbaik dari Lasalle College of Fashion, ternyata Carlinesempat “menimba ilmu” selama 1 tahun lebih dengan bekerja di perusahaan garmen, yakni PT Indah Jaya Textile Industri, sebuah perusahan yang memproduksi brand handuk terkenal Terry Palmer. Dari sanalah, wanita kelahiran 25 Mei 1987 itu bisa belajar tentang manajemen, ekspor-impor, dan beragam hal penting lainnya terkait industri fashion.

Sebagai informasi, awal Cotton Ink diluncurkan pada 2008, mereka baru menjual kaus bergambar dan syal. Jualannya pun saat ini hanya melalui media sosial. Baru pada 2011, Cotton Ink membuat situs jual belinya sendiri. Lalu 4 tahun kemudian membuka toko yang berlokasi di Jakarta.

Melansir dari Linked-in, kini Carline menduduki dua jabatan sekaligus, yakni sebagai Creative Director dam CEO. Bahkan, pada tanggal 25 Februari 2016, Carline masuk dalam daftar 30 under 30 Asia yang merupakan daftar tokoh muda sukses di bawah usia 30 tahun versi Majalah Forbes.

Strategi Carline Ciptakan Produk Unggul di Pasaran

Berkat pengalaman dan pengetahuannya itulah yang menyemangati Carline untuk terus menciptakan kreativitas dan berinovasi dalam sebuah produknya.

Dengan gaya dan harga yang terjangkau dari Cotton Ink, tentu ini bisa mendorong wanita Indonesia untuk merasa nyaman dengan berbagai model kain katun pastel, earth-toned, dan tradisional. Potongan santai pakaian tersebut memberikan kenyamanan saat memakainya.

Mengutip dari situs resmi Cotton Ink, hal yang membuat brand ini lebih unggul dibanding kompetitor adalah terkait koleksi, di mana Cotton Ink selalu memperbaruinya setiap minggu bukan setiap bulan.

Tak hanya itu, mengutip dari postingan Instagram Cotton Ink, sebagai bentuk keberpihakan terhadap industri lokal, brand tersebut berupaya semaksimal mungkin untuk menggunakan bahan kain katun produksi dalam negeri dengan elemen tambahan berupa kain tradisional dari seluruh nusantara. Bahkan, untuk beberapa produk pilihan yang berbahan dasar kulit, Cotton Ink pun memilih menggunakan bahan kulit imitasi untuk tetap selaras dengan alam.

Selain pelanggan dapat mengakses dan berinteraksi dengan merek melalui platform website www.cottonink.co.id. Keberhasilan Cotton Ink bisa dikatakan sangat ditunjang dengan hadirnya konten-konten dalam media sosial mereka yang kian mendekatkan mereka dengan para pelanggan. Terbukti, followers di Instagramnya saat ini telah menembus 600 ribu dengan jumlah engagement tiap postingan sangatlah tinggi.

Guna menjangkau lebih banyak pelanggan, Cotton Ink kini sangat terbuka dengan para reseller. Gabungan dari presence online dan offline menjadi strategi yang efektif untuk makin meningkatkan brand awareness dan memperkenalkan bahwa Cotton Ink adalah brand lokal asli Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tokoh bisnis tokoh brand branding fashion
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top