Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Jadi Ritel Fesyen Populer di Dunia, Uniqlo Dirintis dari Usaha Jahit

Uniqlo adalah salah satu ritel fesyen asal Jepang yang terkenal di dunia, ternyata mulanya dari usaha jahit. Simak selengkapnya di sini.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 17 Januari 2023  |  16:20 WIB
Jadi Ritel Fesyen Populer di Dunia, Uniqlo Dirintis dari Usaha Jahit
Gerai UNIQLO - www.uniqlo.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan retail Uniqlo menghebohkan publik menyusul rencana manajemen menaikkan gaji tahunan para pekerjanya di Jepang hingga 40 persen pada Maret 2023.

Kenaikan gaji ini dalam upaya mempersempit kesenjangan remunerasi dengan karyawannya di luar negeri dan meningkatkan daya saing global perusahaan.

Sebagai ritel fashion terbesar keempat di belakang Zara, H&M dan Gap. Tentunya, dibalik strategi keputusan besar yang menguntungkan bagi karyawan, membuat banyak publik penasaran. 

Lantas, seperti apa perkembangan bisnis Uniqlo tersebut? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Profil Bisnis Pemilik Uniqlo

Tadashi Yanai adalah pendiri sekaligis pemilik kerajaan pakaian Jepang yang juga merupakan pengecer pakaian terbesar di Asia dan perusahaan induk Uniqlo.

Sebagai orang terkaya di Jepang, di mana harta kekayaannya mencapai US$29,8 atau setara dengan Rp452 triliun, diketahui pria yang lahir pada 1949 di wilayah Yamaguchi di Jepang ini memulai karirnya di toko penjahit pinggir jalan milik ayahnya di pinggiran kota Jepang. 

Adapun, dirinya diserahi bisnis sang Ayah pada masa setelah Perang Dunia II, di mana waktu itu keadaan sangat sulit bagi setiap warga negara Jepang. 

Alhasil, Yanai akhirnya membuka tokonya yang diberi nama Unique Clothing Warehouse pada tahun 1984, di mana dirinya menambahkan pakaian wanita ke toko pakaian pria. Dia pun  belajar bahwa yang terbaik adalah dengan memikirkan terlebih dahulu tentang apa yang diinginkan pelanggan, daripada apa yang ingin dijual oleh perusahaan (atau pemilik) sembari mulai memperluas ke pinggiran kota.

Belajar dari Brand The Gap

Pada akhir 1980-an, Tadashi Yanai mencari Mickey Drexler, presiden The Gap saat itu, pada saat Uniqlo mengalami pertumbuhan luar biasa dan kejenuhan pasar.

Tadashi mengundang Mickey untuk sarapan dan mulai mempelajari setiap gerakannya untuk meniru semua yang dilakukan The Gap dengan sempurna. 

Yanai tidak malu-malu dalam keinginannya untuk meniru The Gap. Segera setelah bertemu dengan Drexler, Uniqlo mulai meniru model bisnis The Gap dalam memproduksi dan menjual secara eksklusif semua pakaiannya sendiri. Yanai bahkan membuat iklan seperti Gap untuk Uniqlo dengan selebriti menari-nari dengan celana khaki.

Dengan meniru langkah The Gap terbukti ini menjadi strategi sukses besar-besaran untuk Uniqlo. 

Ekspansi di Masa Sulit

Pada awal 1990-an, resesi di Jepang ternyata memberikan hikmah pada perusahaan tersebut. Di mana, prang menginginkan barang yang lebih murah dan Uniqlo menyediakannya. 

Pada tahun 1993, Tadashi membuat langkah yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya untuk perusahaan Jepang, yakni dengan mengalihkan semua produksi ke China. Hal ini memungkinkan dia untuk memotong biaya pakaian yang dia jual dan selanjutnya meningkatkan keuntungan. 

Pada tahun 1994, 10 tahun setelah Tadashi mengambil alih pengecer pakaian ayahnya, dia pun mengubah nama perusahaan menjadi Uniqlo di bawah payung ‘Fast Retailing’ yakni induk dari jaringan Uniqlo sambil melakukan ekspansi secara nasional hingga mencapai 100 toko pertamanya di Jepang.

Mengalami Kegagalan dalam Ekspansi Global 

Sebuah bisnis akan gagal jika tidak melalui perhitungan yang matang. Hal ini pun dialami oleh Yanai, ketika pada tahun 2002, di mana dirinya merasa siap untuk berkembang secara global. 

Secara agresif dia pun membuka 21 toko di dalam dan sekitar London dan beberapa tahun kemudian, Uniqlo dibuka di tiga mal di New Jersey. 

Sayangnya, ekspansi global ini terbukti mengalami kegagalan dan kerugian hingga puluhan juta dolar. Adapun, satu penyebab yang membuat Uniqlo gagal adalah terkait baju ukuran yang ditawarkan Uniqlo. Di mana, standar ukuran Uniqlo masih mengikuti badan orang Jepang, sehingga brand-nya dicemooh oleh banyak orang Amerika karena menjual barang yang tidak punya ukuran yang sesuai. 

Hal yang sama pun terjadi di New Jersey, di mana Uniqlo dikalahkan oleh Abercrombie, The Gap, Express, dan peritel Amerika lainnya yang menawarkan pakaian murah yang pas dengan tubuh orang Amerika. 

Dalam 18 bulan, Uniqlo menutup seluruh tokonya, yakni di London dan di New Jersey.

Perkembangan Uniqlo Saat Ini

Dari tahun ke tahun, diketahui brand Uniqlo terus menguat di pasaran. Bahkan, ketika dunia mengalami penurunan ekonomi pada tahun 2008 dan 2009, Yanai melakukan akuisisi terhadap brand Theory, Helmut Lang, J Brand dan GU.

Semua akuisisi sekarang berada di bawah perusahaan payung Fast Retailing, di mana Uniqlo masih menjadi aset terbesarnya.

Melansir dari Forbes, perusahaan melaporkan laba bersih sebesar US$1,5 miliar atau setara dengan  Rp22,7 triliun dengan pendapatan sebesar US$19,4 miliar atau setara dengan Rp294,2 per Agustus 2021

Kini, dengan jaringan global lebih dari 1000 toko di seluruh dunia, Yanai ingin perusahaannya menjadi peritel terbesar di dunia, yang berarti harus melampaui H&M dan Inditex (induk dari Zara).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uniqlo fesyen industri fesyen ritel ritel modern
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top