Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kiat untuk Pebisnis Curi Perhatian Generasi Z dan Generasi Alpha

Pebisnis wajib tahu, begini cara curi perhatian generasi Z dan alpha agar mau melirik produk Anda
Ilustrasi seseorang mulai bisnis/Patriot
Ilustrasi seseorang mulai bisnis/Patriot

Bisnis.com, JAKARTA - Tren konsumen tiap tahunnya terus berubah. Alhasil, pebisnis harus bisa membaca apa keinginan konsumen agar usaha yang dibangun bisa terus bertahan di pasaran. 

Saat ini, seluruh dunia telah didominasi oleh Generasi Z yang berusia 10 hingga 25 tahun dan beberapa tahun kedepan, akan ada ledakan populasi untuk generasi Alpha 

Meski, banyak dari mereka yang sudah tahu cara mendapatkan uang sendiri, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa banyak dari mereka yang juga masih bergantung pada orang tua. 

Melansir dari Entrepreneur, berikut adalah tips untuk memahami pola konsumen generasi Z. 

1. Mudah terpengaruh

Generasi Z adalah generasi pertama yang lahir sepenuhnya pasca-internet. 95 persen dari mereka memiliki smartphone sejak usia 12 tahun, dan mereka menjalani sebagian besar hidup mereka di media sosial. 

Kini, platform yang mereka sukai adalah Instagram, Snapchat, TikTok, karena platform tersebut bisa memberikan ruang untuk bisa berkreasi sekaligus mengonsumsinya.

Sebagai penduduk asli digital, insting pertama mereka  bukan hanya menjadi pengamat, tetapi terlibat dengan merek yang mereka sukai. Mereka tahu bahwa dunia berjalan di internet sekarang, jadi dengan smartphine apa pun, seorang pebisnis bisa masuk ke dalam permainan itu. 

Artinya, seorang pemilik brand tidak boleh memperlakukan mereka sebagai konsumen pasif. Jika Anda melibatkan mereka dan mereka menyukai produk Anda, mereka akan menjadi pendukung merek Anda.

2. Sinis tapi pengertian

 Sebagian besar orang tua generasi Z mereka adalah Gen X yang ahli dalam mendeteksi barang yang dianggap palsu atau jika tidak autentik pun akan disingkirkan.

Namun, hal tersebut nampaknya tidak menurun pada anak mereka, di mana gen Z cenderung lebih lebih bisa memahami bahwa semua orang dan semua merek membuat kesalahan. Uang mereka adalah suara, dan ketika mereka membeli produk Anda, mereka melihatnya sebagai cerminan dari nilai-nilai mereka.

3. Mandiri tetapi berorientasi komunitas

Karena hidup mereka serba digital, generasi Z juga paling terisolasi secara sosial. Apalagi, ketika mereka harus tinggal di rumah dari sekolah selama pandemi, jelas itu mengubah suatu kebiasaan, di mana mereka telah belajar bagaimana melakukannya sendiri, tetapi mereka juga mendambakan komunitas dan pengalaman yang mereka lewatkan.

Sehingga penting untuk suatu bisnis bisa memberikan pengalaman baru dalam mengaktivasi brand mereka

4.Suka tren yang punya sisi nostalgia

Jika Anda memperhatikan tagar #y2k bermunculan di media sosial itu artinya satu sifat gen Z bisa diidentifikasi. 

Dilansir dari The Vou, Y2K berasal dari singkatan yakni 'Year 2000' yang memiliki arti awal dari era baru. Tren fashion atau gaya berpakaian Y2K memiliki ciri khas dari perpaduan budaya pop millennium dan kemajuan teknologi terbaru, di awal masa kemunculannya yang merujuk kepada tren fashion pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an 

Sehingga, dengan adanya fenomena ini suatu bisnis dapat bersandar pada hal yang mencirikan nostalgia, misalnya dengan menghadirkan kembali gaya dan produk retro, seperti camcorder dan ponsel flip tentu menjadi peluang baru. 

Pasalnya, gen Z merasa sangat terpesona pada produk-produk jadul bahkan mereka menyadari headphone berkabel lebih baik daripada AirPods. Tidak semua yang lebih baru lebih baik. 

5. Bukan digital tapi phygital

Sama seperti mereka tidak semua tentang masa depan, mereka juga tidak hanya tentang online. Biasanya mereka sangat menyukai pengalaman non-digital, karena dianggap lebih berharga dan eksklusif. 

Juga menjadi lebih mudah untuk menonjol ketika Anda memiliki sesuatu yang tidak dapat disalin dengan mengklik tombol.

Saat melakukan pembelian sehari-hari, mereka membeli secara online, tetapi mereka akan pergi ke toko fisik untuk pembelian yang signifikan dan mewah. 

Ini bisa menjadi strategi para pebisnis saat ini untuk membuat pertimbangan soal pendirian gerai fisik. 

Tren Konsumsi Gen Alpha

Sayangnya, untuk gen Alpha nampaknya masih terlalu dini untuk bisa dinilai apa tren konsumsi yang diminati, karena sebagian besar Generasi Alpha masih anak-anak, dan prioritas mereka kemungkinan besar akan berubah saat mereka tumbuh dewasa.

Sementara itu, ada beberapa hal yang bisa diketahui terkait tren konsumsi berikut ini:

1. Orang tua mereka adalah milenial

 Tidak seperti generasi yang lebih tua, generasi milenial mungkin tidak perlu terlalu bergantung pada anak-anak mereka untuk membimbing mereka secara digital dan sudah cukup cerdas untuk mengontrol apa yang dapat mereka lakukan atau apa yang mereka ketahui. 

Mereka mungkin melihat kebiasaan dan preferensi milenial diwariskan, dan beberapa tren di atas berbalik. Jadi, jangan buang riset pasar lama Anda — mungkin akan berguna lagi beberapa tahun dari sekarang.

2. Mereka akan membangun masa depan

Gen Alpha akan menjadi dewasa ketika teknologi seperti AR, VR, dan blockchain masuk menjadi bagian dari ekonomi, di mana pembangunnya di masa depan akan condong ke arah Gen Alpha.

3. Mereka menyukai alam terbuka

Sama seperti berbelanja, tidak semuanya berjalan satu arah. Gen Alpha, mencatat waktu layar yang lumayan intens, yakni sekitar 4 jam 44 menit sehari. Tapi sama seperti semua anak sebelum mereka, mereka juga suka bermain di luar. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper