Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mengenang Mendiang Walt Disney, Sosok di Balik Studio Hiburan Raksasa Berusia 100 Tahun

Sejarah Walt Disney, sukses berkarya 100 tahun, simak perjalanan panjangnya
Walt Disney/
Walt Disney/

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa tak kenal karakter Mickey Mouse? Karakter ini berasal dari studio animasi legendaris Walt Disney, yang tahun ini merayakan hari jadi tepat ke-100 tahun. 

Walt Disney merayakan hari jadinya yang ke-100 pada 16 Oktober 2023, dan dalam kesempatan tersebut, studio animasi ini merilis film pendek yang menampilkan lebih dari 500 karakter dari 85 film berjudul "Once Upon a Studio". 

Jika menyebut nama Walt Disney, banyak orang yang mengira ini adalah sekadar jenama sebuah studio. Namun, ternyata ini adalah nama tokoh di balik studio raksasa yang menjadi salah satu konglomerat hiburan terbesar di dunia. 

Walt Disney, yang memiliki nama lengkap Walter Elias Disney lahir pada 5 Desember 1901 di Chicago, Illinois, AS. Dia memulai karirnya sebagai produser dan pemain sandiwara film dan televisi Amerika, dan terkenal sebagai pionir animasi film kartun dan sebagai pencipta tokoh kartun seperti Mickey Mouse dan Donald Duck.  

Dia juga merupakan sosok di balik megahnya Disneyland, sebuah taman hiburan besar yang dibuka pertama kali di Los Angeles pada 1955. Sebelum kematiannya dia juga mengomando pembangunan taman kedua, Walt Disney World, di Orlando, Florida.  

Walter Elias Disney adalah putra keempat Elias Disney, seorang tukang kayu, petani, dan kontraktor bangunan yang tak pernah punya rumah tetap dan terus berpindah-pindah, dan istrinya, Flora Call, yang pernah menjadi guru sekolah umum.  

Ketika Walt masih bayi, keluarganya pindah ke sebuah peternakan dekat Marceline, Missouri, sebuah kota kecil khas di Midwestern, yang konon menjadi inspirasi dan model Main Street, AS, di Disneyland.  

Di sana Walt memulai sekolahnya dan pertama kali menunjukkan selera dan bakat menggambar dan melukis dengan krayon dan cat air.

Ayahnya yang tak memiliki pekerjaan tetap kemudian meninggalkan usahanya di pertanian dan memindahkan keluarganya ke Kansas City, Missouri, di mana dia membeli salah satu jalur pengiriman surat kabar pagi dan memaksa putra-putranya yang masih kecil untuk membantunya mengantarkan koran-koran tersebut.  

Walt kemudian berkata bahwa banyak kebiasaan yang dilakukannya hingga dewasa berasal dari disiplin dan ketidaknyamanan ketika membantu ayahnya mengurusi pengiriman koran.  

Mengenang Mendiang Walt Disney, Sosok di Balik Studio Hiburan Raksasa Berusia 100 Tahun

Di Kansas City, Walt mulai belajar menggambar kartun dengan sekolah korespondensi dan kemudian mengambil kelas di Kansas City Art Institute dan School of Design.

Pada 1917, keluarga Disney kemudian kembali pindah ke Chicago.Walt kemudian masuk ke Sekolah Menengah McKinley, di mana dia belajar mengambil foto dan membuat gambar untuk koran sekolah. Sambil menyelam mminum air, dia juga belajar membuat gambar kartun sebagai sampingan, karena dia memiliki mimpi untuk bisa bekerja sebagai kartunis di surat kabar.  

Namun, tak semudah membalikkan telapak tangan, mimpi Walt harus tertunda karena adanya Perang Dunia I, di mana dia harus terlibat dan menjadi sopir ambulans untuk Palang Merah Amerika di Perancis dan Jerman.

Kembali ke Kansas City pada 1919, dia kembali menekuni mimpinya dengan sesekali mendapatkan pekerjaan sebagai juru gambar di studio seni komersial. Di sana dia bertemu Ub Iwerks, seorang seniman muda yang bakatnya berkontribusi besar terhadap kesuksesan awal Walt.

Memulai Studio Animasi

Disney dan Iwerks kemudian memulai sebuah studio kecil mereka sendiri pada 1922 dan memperoleh kamera film bekas yang dapat digunakan untuk membuat film iklan animasi berdurasi satu dan dua menit untuk didistribusikan ke bioskop lokal.  

Mereka juga membuat serangkaian sketsa kartun animasi berjudul Laugh-O-grams dan film perdana untuk dongeng berdurasi tujuh menit yang menggabungkan aksi langsung dan animasi berjudul Alice in Cartoonland.  

Namun, lagi-lagi Disney harus mengubur mimpinya lantaran ditipu oleh distributor filmnya, dan Disney terpaksa mengajukan bangkrut pada 1923. Dia kemudian pindah ke California untuk mengejar karir sebagai sinematografer. 

Namun, ternyata masih ada berkah dari film Alice buatannya yang pertama, sehingga Disney dan saudaranya Roy bisa kembali membuka studio di Hollywood.

Dengan Roy mendukung bisnisnya, Disney melanjutkan seri Alice, dan membujuk Iwerks untuk bergabung dengannya untuk membantu menggambar kartun tersebut. Mereka kemudian menciptakan karakter bernama Oswald si Kelinci Keberuntungan, dan dikontrak untuk mendistribusikan film-film tersebut dengan harga US$1.500 per film. 

Dari keuntungan tersebut, Disney dan Iwerks meluncurkan usaha kecil mereka. Pada 1927, tepat sebelum transisi ke suara dalam film, Disney dan Iwerks bereksperimen dengan karakter baru, seekor tikus yang ceria, energik, dan nakal bernama Mickey.  

Mereka telah merencanakan dua film pendek, berjudul Plane Crazy dan Gallopin' Gaucho untuk memperkenalkan Mickey Mouse, tepat ketika The Jazz Singer, sebuah film dengan penyanyi populer Al Jolson, meluncurkan teknologi suara ke dalam film.

Dengan potensi yang ada dari perkembangan teknologi tersebut, Disney dengan cepat memproduksi kartun Mickey Mouse ketiga yang dilengkapi dengan suara dan musik, berjudul "Steamboat Willie", dan mengesampingkan dua film kartun tanpa suara lainnya. Benar saja, ketika diluncurkan pada 1928, film kartun "Steamboat Willie" menjadi sensasi.

Tahun berikutnya Disney terus berkarya dan memulai seri baru berjudul "Silly Symphonies" dengan gambar berjudul "The Skeleton Dance" di mana para tengkorak bangkit dari kubur dan melakukan tarian aneh dan gemerincing yang diiringi musik berdasarkan tema klasik.  

Keunikan dan kebaruannya membuat film tersebut cepat mendapatkan popularitas. Namun, dengan biaya yang terus meningkat karena gambar dan pekerjaan teknis yang lebih rumit, operasi Disney menjadi dalam bahaya.

Namun, dengan semakin populernya Mickey Mouse dan pacarnya, Minnie, membuktikan masyarakat menyukai fantasi makhluk kecil yang bisa bicara, dan memiliki keterampilan, dan kepribadian seperti manusia

Popularitas dua karakter kunci tersebut memacu Disney untuk membuat karakter hewan lain, seperti Donald Duck dan anjing Pluto dan Goofy. Kemudian, pada 1933 Disney juga memproduksi film pendek, "Tiga Babi Kecil", yang muncul di tengah-tengah Depresi Besar dan menggemparkan negara.  

Perlakuannya terhadap dongeng tentang babi kecil yang bekerja keras dan membangun rumahnya dari batu bata melawan ancaman serigala saat itu sesuai dengan suasana di AS yang tengah kalut dalam bencana ekonomi. 

Pada periode masa sulit ekonomi di awal 1930-an, Disney akhirnya mendapatkan ketenaran dan membuat dirinya dan kartunnya disayangi oleh penonton di seluruh dunia, dan operasinya mulai menghasilkan uang meskipun terjadi masa Depresi.

Atas kesuksesannya di masa krisis itu, Disney kemudian mulai mempekerjakan beberapa anak muda yang kreatif, dipimpin oleh Iwerks. Animasi buatan studionya terus berkembang hingga bisa menghasilkan animasi berwarna melalui film "Silly Symphonies". 

Adapun, Mickey dan Minnie tetap menjadi karakter kunci, sehingga Roy terus melakukan penjualan waralaba dengan kartun Mickey Mouse dan Donald Duck, mulai dari produk jam tangan, boneka, kemeja, dan atasan, dan meraup lebih banyak cuan bagi perusahaan.

Walt Disney tidak pernah berdiam diri, dia terus mengembangkan karyanya dengan membuat film animasi berdurasi panjang. Pada 1934 dia mulai mengerjakan dongeng klasik Putri Salju dan Tujuh Kurcaci. Namun alih-alih sebagai animator, dia bertugas menjadi koordinator dan pengambil keputusan akhir.

Tak meninggalkan akarnya, Disney juga terus membuat film pendek yang menampilkan karakter hewan kecilnya, dia kemudian mengembangkan berbagai macam film hiburan berdurasi penuh, seperti Pinocchio (1940), Dumbo (1941), dan Bambi (1942).  

Lantaran bisnis animasinya terus berkembang, pada 1940 Disney memindahkan perusahaannya ke studio baru di Burbank, California, dan meninggalkan studio lamanya yang ditempati pada masa-masa awal merintis karirnya.

Tak bertahan lama, sejumlah animator Disney melakukan aksi mogok dan berhenti kerja besar-besaran pada 1941 dan menjadi kemunduran besar bagi perusahaannya. Banyak animator papan atas mengundurkan diri, dan butuh waktu bertahun-tahun bagi perusahaan Disney untuk bangkit dan bisa kembali memproduksi fitur animasi yang sesuai dengan kualitas film klasik awal 1940-an. 

Disney kembali memutar otak dengna terjun ke dalam film untuk pemerintah federal selama Perang Dunia II membantu studio ini bangkit dengan karya yang menggabungkan aksi langsung dan animasi. Film komersial studio yang menggunakan kedua teknik itu sekaligus termasuk The Reluctant Dragon (1941), Saludos Amigos (1942), The Three Caballeros (1945), Make Mine Music (1946), dan Song of the South (1946).

Proyek-proyek film tersebut yang kemudian membuat studio Disney menjadi bisnis besar dan mulai memproduksi berbagai film hiburan. Studio Disney juga mulai membuat animasi romansa berdurasi penuh, seperti Cinderella (1950), Alice in Wonderland (1951), dan Peter Pan (1953).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Mutiara Nabila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler