Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Deretan Pemilik Startup Online Travel Agent Ternama di Indonesia

Daftar pengusaha dan pimpinan OTA yang paling banyak digunakan di Indonesia
Ilustrasi traveling keliling dunia
Ilustrasi traveling keliling dunia

Bisnis.com, JAKARTA -- Bisnis agen perjalanan online atau online travel agent (OTA) menjadi salah satu yang memiliki prospek cerah dengan semakin tinggi keinginan orang untuk melakukan perjalanan baik di dalam maupun luar negeri. 

Kebutuhan untuk lebih mudah memesan tiket perjalanan sampai akomodasi hotel saat ini dibaca dengan baik oleh para pebisnis di bawah ini, hingga bisa mendirikan OTA yang besar tak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. 

Berdasarkan survei Rakuten Insight terhadap online travel agency (OTA) yang dilakukan pada Juni 2023, ada sejumlah OTA yang paling laris digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk melakukan perjalanan. 

Sekitar 85 persen responden di Indonesia mengaku pernah menggunakan Traveloka, disusul Tiket.com, Agoda, Booking.com, dan Pegipegi sebagai lima OTA paling laris di Indonesia. 

Tentunya kesuksesan mereka juga berkat tangan dingin para pendiri dan pemimpinnya, meski tak semuanya berjalan mulus.

Berikut ini profil pendiri OTA yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. 

1. Traveloka 

Di balik berdirinya Traveloka ada nama Ferry Unardi. Pria kelahiran Padang 16 Januari 1988 itu merupakan seorang pengusaha Indonesia yang sempat masuk ke dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. 

Mengutip berbagai sumber, Ferry mendapatkan gelar sarjana dari Purdue University AS, jurusan Computer Science and Engineering. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya jenjang S2 di Harvard University jurusan Bisnis setelah sempat bekerja tiga tahun di Microsoft. 

Ketertarikannya membangun bisnis OTA dimulai saat dia masih duduk di bangku kuliah. Dia sempat merasa kesulitan memesan tiket pulang ke kampung halaman dari Amerika Serikat. 

Bersama dengan kedua kawannya Derianto Kusuma dan Albert Zhang, Ferry kemudian mendirikan Traveloka pada 2012. Beruntung, kehadiran Traveloka sejalan dengan kebutuhan orang untuk traveling dan membutuhkan kemudahan untuk memesan tiket perjalanan. Kini, bisnisnya itu telah menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dan membawanya menjadi orang terkaya di Indonesia urutan ke 146 dengan kekayaan mencapai US$145 juta pada 2018. 

2. Tiket.com

Bersaing ketat dengan nama sebelumnyam TIket.com menjadi platform OTA kedua yang paling populer digunakan di Indonesia. Namun, Tiket.com justru berdiri setahun lebih dulu dari Traveloka, tepatnya pada 2011. 

Platform OTA ini didirikan oleh empat anak muda yang memiliki kemampuan di bidang bisnis internet. Mereka adalah Wenas Agusetiawan, Natali Ardianto, Gaery Undarsa, dan Dimas Surya Saputra.

Perjalanan Tiket.com diawali oleh Natali apda 2008 setelah lulus dari Universitas Indonesia Fakultas Teknologi Informasi. Mereka mulai mencoba peruntungan di bidang bisnis internet dengan membangun Urbanesia, media online lifestyle pertama di Jakarta. 

Namun, dia kemudian meninggalkan Urbanesia dan mencoba peruntungan di bidang penyedia layanan sewa lapangan golf online, Golfnesia, bersama salah satu pengusaha teknologi Kevin Sanjoto dan Yanuar Lutfi. 

Lagi-lagi tak berhasil, dia kemudian memutuskan membangun Tiket.com pada Agustus 2011. Mereka mengawali bisnis ini bukan sebagai OTA, melainkan sebagai penjual tiket konser dan hotel. 

Berkat kinerja yang positif, Tiket.com akhirnya mendapat kepercayaan dari maskapai penerbangan dan kereta api hingga akhirnya turut menjual tiket perjalanan kedua moda transportasi tersebut. 

3. Agoda

Bukan berasal dari Indonesia, Agoda menjadi platform OTA paling banyak digunakan ketiga di Indonesia. Agoda didirikan di Singapura pada 2005 oleh dua orang teman sekolah Michael Kenny dan Robert Rosenstein. 

Rob awalnya bekerja di bidang e-commerce dan bisnis ruang digital. Mereka berdua kembali bertemu pada 2000 dan memutuskan untuk kerja bersama. Mike, sapaan Michael Kenny, sebelumnya telah meluncurkan PlanetHoliday.com dan PrecisionReservations.com yang kemudian turut mendapat investasi dari Rob. 

Berdasarkan pengalaman usaha bisnis mereka di masa lalu, serta hasrat mereka terhadap perjalanan, mereka membentuk sebuah perusahaan perjalanan online yang berbasis di Asia, untuk pasar Asia, yang akan menyaingi raksasa online di Barat.

4. Booking.com

Booking.com adalah salah satu agen perjalanan online terbesar.  Berkantor pusat di Amsterdam, dan merupakan anak perusahaan dari Booking Holdings.

Booking didirikan oleh, Geert-Jan Bruinsma, seorang mahasiswa di Universitas Twente, pada 1996. Kemudian, website yang masih berdomisili di Belanda itu kemudian bergabung ke Bookings Online dan membentuk Booking.com pada 2000 dan menunjuk Stef Noorden sebagai CEO. 

Pada tahun kelima didirikan, tepatnya Juli 2005, perusahaan ini diakuisisi oleh Priceline Group, yang sekarang disebut Booking Holdings seharga US$133 juta, dan digabungkan dengan ActiveHotels.com. 

Terus berkembang, pada 2010 sampai 2012, perusahaan ini meluncurkan aplikasi untuk gawai iPad, Android, iPhone, iPod Touch, Windows 8, sampai ke Kindle Fire.

Kini Booking.com menjadi salah satu OTA terbesar  yang tak hanya laris di Indonesia, tapi juga di dunia. Adapun, tahun ini, Booking.com mengumumkan akan mulai menguji fitur perencana perjalanan berbasis kecerdasan buatan atay AI menggunakan teknologi ChatGPT.  

5. Pegipegi.com

Pegipegi.com menjadi OTA kelima yang paling laris digunakan oleh masyarakat Indonesia. Namun, bisnisnya tak berjalan mulus hingga resmi hengkang pada 11 Desember 2023, setelah nyaris 12 tahun beroperasi. 

Pegipegi pertama kali diresmikan sebagai agen perjalanan pada 7 Mei 2012 di bawah naungan Recruit Holdings Co Ltd.

Pada 2018, perusahaan tersebut diakuisisi oleh perusahaan asal Jepang, Jet Tech Innovation Ventures Pte Ltd. Adapun, Jet Tech ternyata berafiliasi dengan Traveloka. 

Selama berdiri, Pegi-pegi kerap melakukan pergantian pimpinan atau Chief Executive Office (CEO), hampir setiap tahun sejak 2015 sampai dengan 2018. Berada di bawah perusahaan Jepang membuat Pegipegi juga beberapa kali dipimpin oleh warga negara Jepang. 

Pada 2012 sampai 2015, Pegipegi dipimpin oleh Kohei Nakajima. Kemudian pada 2016 sampai 2017 dipimpin oleh Hideki Yamada. Selanjutnya Takeo Kojima memimpin pada 2017 hingga 2018.

Baru pada 2018 sampai 2020 dipimpin oleh Kevin Sandjaja. Pria asal Solo, Jawa Tengah itu merupakan lulusan Bachelor of Computer Science di Binus University. 

Selain pernah menjabat sebagai CEO dari Pegipegi, dia juga sempat mengemban berbagai peran di Traveloka, P&G dan Philip Morris International.

Mendampingi Kevin, ada Serlina Wijaya sebagai Chief Marketing Officer (CMO) yang kemudian diangkat menjadi CEO pada 2020 dan menjabat hingga 2023. 

Serlina merupakan lulusan sarjana Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung. Sebelum menjadi CEO Pegipegi, dia sempat bekerja sebagai konsultan sejak 2010 hingga 2013. 

Dia kemudian mulai terjun ke dunia startup perjalanan dengan menjadi Marketing Global Strategic Partnership di Traveloka pada 2014 sampai dengan 2018. Pada Mei 2018 dia kemudian bergabung dengan Pegipegi sebagai CMO.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper