Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Melakukan Hal Salah Secara Benar

BISNIS-COM, JAKARTA--“ Tujuan dari doa bukan untuk memberi tahu Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk mengundang Nya agar mengatur hidup kita “ ( Clarence Bauman, professor teologi, 1928 - 1995 ).
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Mei 2013  |  10:44 WIB
KIAT MANAJEMEN: Melakukan Hal Salah Secara Benar

BISNIS-COM, JAKARTA--“ Tujuan dari doa bukan untuk memberi tahu Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk mengundang Nya agar mengatur hidup kita “ ( Clarence Bauman, professor teologi, 1928 - 1995 ).

Seorang pemuda bertanya dan meminta izin kepada seorang gadis, di sebuah perpustakaan, “Boleh saya duduk di sebelah Anda?”

Tak dinyana, sang gadis menjawab dengan suara keras sehingga terdengar oleh para pengunjung perpustakaan, “Saya tidak sudi untuk berkencan denganmu !!”.

Segenap mata pengunjung terbelalak, kaget dan iba kepada sang pemuda. Jelas sang pemuda sangat malu.

Selang beberapa menit, sang gadis berjalan lambat ke arah sang pemuda, dan berbisik, “Saya kuliah psikologi.Saya bisa membaca apa yang dipikirkan lelaki. Saya yakin, kamu malu kan ? Huuhh.”

Tak dinyana pula, sang pemuda berkata – membalas ucapan sang gadis - dengan suara lantang. Semua pengunjung terkejut lagi dan terbelalak menatap mereka berdua. Kata sang pemuda, “Dua juta rupiah untuk kencan semalam denganmu? Kemahalan!!”. Kondisi sekarang terbalik.

Sang gadis merah padam menahan malu. Lalu sang pemuda melanjutkan aktingnya, sembari berbisik kepada sang gadis, “Saya kuliah Hukum. Dan saya pandai sekali membuat orang kelihatan bersalah.”

Pada saat saya bersekolah, saya punya seorang kawan yang tak akan terlupakan. Panggil saja sebagai Badu. Saya tak mungkin melupakannya disebabkan oleh dua hal: pertama, karena dia amat pandai.

Segenap mata pelajaran dilahapnya dengan mudah dan ringan. Pelajaran matematika yang buat banyak murid menjadi momok, juga ilmu fisika, nampak hanya sebagai mainan buat Badu.

Dan hal kedua, dan ini yang utama, kepandaiannya senantiasa dipergunakannya untuk mempermalukan para guru yang mengajar di depan kelas. Alih-alih membantu guru untuk membuat kawan-kawannya lekas memahami materi pelajaran, dia memilih untuk membuat para guru menjadi bahan tertawaan para murid.

Dia sangat pandai bertanya kepada para guru dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang sering membuat guru tergagap dan kemudian jatuh malu karena salah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Padahal, bila dia bersikap sebaliknya, lebih bersifat membantu murid-murid lain, hasilnya akan luar biasa. Tak perlu membuat para guru malu, sembari membantu murid-murid lain menjadi lebih cepat pintar.

 

Kepentingan Negatif

Para ‘hacker’, penerobos pintu rahasia komputasi di dunia maya, adalah para jagoan komputer. Hanya sayang, mereka menggunakan kehebatannya untuk kepentingan-kepentingan negatif, menerobos pagar halaman yang bukan milik mereka. Dan lebih dari itu, lalu mereka mencuri data atau melakukan perusakan komputasi yang sangat merugikan orang lain.

“Para hartawan tetapi bukan para dermawan” adalah orang-orang dalam kategori ini. Piawai mengumpulkan harta dan menikmatinya sekadar hanya dengan menghitung dan menghitung harta yang ada. Harta semakin menumpuk, karena kepandaian mereka untuk mengumpulkan harta.

Namun semakin kaya, semakin kikir pula mereka. Harta yang ada terus bertambah tetapi sekadar untuk ditimang-timang; sama sekali tak menetes kepada orang-orang lain yang membutuhkan bantuan.

“Merupakan sifat alami untuk tidak pernah puas dan kebanyakan manusia hidup hanya untuk pemuasan itu,” ujar Aristoteles. Kesemua contoh-contoh kasus di atas adalah contoh-contoh orang yang pandai melakukan hal-hal salah secara benar ( doing the wrong things on the right way ). Apa yang mereka lakukan, merupakan hal-hal yang hebat.

Mereka sukses melakukannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kompetensi dalam apa yang mereka kerjakan. Namun, semangat dan arah penerapan kompetensi itu bukan pada jalur yang benar, bukan jalur yang dipujikan bagi kemaslahatan sesama.

Mereka itu – dengan segala perilakunya - menurut suhu manajemen, Peter Drucker dikomentari sebagai,"Tidak ada yang begitu tak berguna, selain melakukan sesuatu hal secara efisien, yang seharusnya tidak perlu dilakukan sama sekali.”

Memiliki kepandaian dan keterampilan yang mumpuni tetapi hanya dipergunakan untuk kepuasan dan kesenangan pribadi adalah suatu kemubaziran besar. Bahkan, bisa dikatakan, memiliki kepandaian dan keterampilan tetapi memanfaatkannya secara salah adalah suatu kedzaliman.

Padahal, kepandaian dan keterampilan adalah suatu karunia dari Yang Maha Kuasa. Seyogyanya, segenap karunia itu layak direspons dengan benar.

Dan demikianlah, seyogyanya, kita – makhluk yang amat terbatas ini – memperlakukan segenap karunia itu dengan sebaik-baiknya. Perlakuan itu, kata para tetua, ada dua hal yang dianjurkan:

Pertama, bersyukur. Kita wajib mensyukuri segenap kepandaian dan keterampilan yang kita miliki. “Kita sering melupakan bahwa kebahagiaan bukanlah berhasil mendapatkan sesuatu yang tidak kita miliki, melainkan mengenali dan menghargai yang sudah kita miliki,” kata Frederick Koenig.

Respons kedua yang dianjurkan adalah: mempergunakan kepandaian dan keterampilan itu untuk kebaikan. Bagi Henry Ford, “Berbuat lebih banyak untuk dunia, dibanding yang dibuat dunia untuk kita, itulah sukses.”

Demikianlah para pembaca – anjuran mulia yang ada – agar kita menjadi lebih bahagia dan sukses.

 

Penulis: Pongki Pamungkas, Ketua Umum Asperkindo (Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perusahaan hukum organisasi hak asasi henry ford

Sumber : Pongki Pamungkas*

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top