PROGRAM UNILEVER Mengubah Sampah Jadi Rupiah

Tidak hanya uang yang dapat ditabung, sampah pun demikian. Dari sampah pula, muncul ‘bunga’ sampah yang bisa memberi pendapatan tambahan bagi si penabung.
Gloria Natalia Dolorosa | 16 Juni 2013 10:35 WIB

Tidak hanya uang yang dapat ditabung, sampah pun demikian. Dari sampah pula, muncul ‘bunga’ sampah yang bisa memberi pendapatan tambahan bagi si penabung.

Konsep bernama bank sampah ini melibatkan masyarakat dari kalangan mana pun untuk bersama-sama menabung sampah. Sembari selamatkan lingkungan, dompet pun menebal.

Salah satu perusahaan yang punya program bank sampah adalah PT Unilever Indonesia Tbk lewat Yayasan Unilever Indonesia. Awalnya, yayasan membangun Unilever Green and Clean, program berbasis masyarakat, pada 2001.

Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat dalam menangani limbah domestik melalui pemilahan sampah, pembuatan kompos, dan kegiatan penghijauan.

Yayasan mengklaim program ini membawa manfaat bagi lebih dari 6 juta orang Indonesia dan mengurangi limbah sebanyak 8% sampai 10% di setiap kota tempat program ini berlangsung.

Bentuk konkret dari program lingkungan berbasis masyarakat yang dibuat yayasan yakni bank sampah. Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering, macam karton, majalah, kaleng, dan plastik, oleh masyarakat di lokasi tertentu.

Kumpulan sampah yang sudah ditabung lantas disalurkan kepada pengepul dengan nilai penjualan yang sudah disepakati.

Di bawah monitoring Unilever, bank sampah yang diselenggarakan masyarakat biasanya membentuk diri sebagai organisasi yang berdiri sendiri atau organisasi yang didampingi lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Ada pula beberapa bank sampah yang mewujudkan diri sebagai koperasi. Wujud ini diserahkan ke kesepakatan masyarakat. Bila tabungan sampah sudah membukit, penabung menjualnya ke bank sampah dengan harga di bawah harga pasar.

Lantas, bank melegonya kepada pengepul dengan harga pasar. Dari jalur transaksi itu, bank memperoleh laba—sebut saja begitu – yang digunakan sebagai biaya
operasional. Biaya ini digunakan salah satunya untuk membayar imbalan relawan.

“Ada juga warga menabung sampah, di akhir nanti dia mengambil hasil tabungannya dalam bentuk sembako [sembilan bahan pokok],” tutur Environment Program Manager Yayasan Unilever Indonesia, Silvi Tirawaty, Selasa (11/6/2013).

Hingga kuartal I/2013 Unilever sudah menaungi 500 bank sampah yang tersebar di 10 kota di Indonesia. Kesepuluh kota itu yakni Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Medan, Bandung, Banjarmasin, Balikpapan, Manado, dan Denpasar.

Hingga akhir 2012 para bank sampah di bawah Unilever sudah mengumpulkan lebih dari 300.000 ton sampah.

Silvi menargetkan pada tahun ini jumlah bank sampah bertambah menjadi 700. Bukan sekadar jumlah, yayasan ingin fokus pada peningkatan volume sampah yang dapat ditampung bank. Juga fokus menyempurnakan sistem pengelolaan bank sampah.

“Kami pun akan giat mengawasi proses bank sampah. Salah satunya meminta laporan mingguan dan bulanan dari mitra LSM,” kata Silvi.

DUKUNGAN PEMERINTAH

Pemerintah juga giat membangun bank sampah dengan cara bekerja sama dengan perusahaan swasta yang punya program corporate social responsibility (CSR) bidang lingkungan. Sudirman,

Asisten Deputi Urusan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, mengatakan saat ini sudah ada 1.195 bank sampah yang tersebar di 55 kabupaten/ kota di Indonesia. Jumlah tersebut mampu menyerap 96.203 tenaga kerja.

Sampai Februari 2013, rata-rata 2.262 ton sampah tiap bulan terkumpul di bank sampah. Dari sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga itu, masyarakat bisa meraup pendapatan sebesar Rp15,103 miliar.

“Usai mengeluarkan kebijakan, kami terus menyosialisasikan bank sampah di kabupaten/kota. Dorongan kami salah satunya lewat parameter penilaian penghargaan Adipura,” tutur Sudirman kala dihubungi Bisnis, Senin (10/6/2013).

Kementerian Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Beleid itu mewajibkan produsen melakukan kegiatan reduce, reuse, dan recycle (3R). 

Caranya, menghasilkan produk yang menggunakan kemasan mudah terurai danmenimbulkan sampah sesedikit mungkin, menggunakan bahan baku produksi yang dapat didaur ulang dan digunakan ulang, dan menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk didaur ulang dan diguna ulang.

Bank Sampah dapat berperan sebagai dropping point bagi produsen untuk produk dan kemasan produk yang masa pakainya telah usai. Lewat pola ini, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang.

Kementerian Lingkungan Hidup menargetkan jumlah kabupaten/ kota yang menerapkan bank sampah pada tahun ini meningkat menjadi 75. 

Tag : unilever, sampah, bank sampah, unilever green and clean
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top