Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menikmati Lengketnya Untung dari Bisnis Mochi

Pamor Mochi, kue Jepang yang terbuat dari beras ketan yang berbentuk bulat semakin moncer di Indonesia, seiring dengan banyaknya pelaku bisnis yang terjun ke dalam binis ini.
Nenden Sekar Arum
Nenden Sekar Arum - Bisnis.com 25 Januari 2015  |  11:45 WIB
Mochi - Ilustrasi/simplymochi.com
Mochi - Ilustrasi/simplymochi.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pamor Mochi, kue Jepang yang terbuat dari beras ketan yang berbentuk bulat semakin moncer di Indonesia, seiring dengan banyaknya pelaku bisnis yang terjun ke dalam binis ini.

Berbagai inovasi juga dilakukan agar konsumen tidak pernah bosan untuk menikmati kue lembut dengan tekstur lengket tersebut. Mulai dari memodifikasi bentuk, hingga mengganti isian yang biasanya adalah kacang atau wijen.

Dengan ciri khas yang ditonjolkan masing-masing, para produsen mochi tetap berjalan tegak dan percaya diri bahwa bisnis ini ke depannya masih akan tetap cerah meskipun persaingan semakin ketat.

Salah satu pelaku usaha yang telah menggeluti bisnis pembuatan mochi cukup lama adalah Feronika dengan merek dagang Beesmochi yang memulai usahanya empat tahun lalu, dan menjadi produsen mochi pertama di Medan, Sumatra Utara.

“Saya melihat jenis makanan ini belum ada di Medan, dan sangat prospektif untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas Medan selain bolu gulung,” paparnya.

Perempuan yang hobi membuat kue ini mengaku membutuhkan modal awal sekitar Rp10 juta saat mengawali bisnis ini yang digunakan untuk membeli bahan baku berkualitas premium.

Dengan dibantu lima orang tenaga kerja, Beesmochi mampu memproduksi hingga 100 kotak yang masing-masing berisi 12 buah mochi, dan tiap kotaknya dibanderol dengan harga Rp40.000.

“Kami tidak mengambil untung banyak, hanya sekitar 10%, karena prinsip kami yang penting laku banyak,” paparnya.

Saat ini, Beesmochi menyediakan mochi dengan 12 varian rasa, di antaranya mochi isi kacang hijau, kacang merah, coklat kacang, nanas, abon ayam, kismis dan stroberi. Keduabelas rasa itu dapat dicampur dalam sebuah kotak sesuai dengan pesanan konsumen.

“Konsumen tinggal pilih, dalam satu kotak itu akan diisi mochi rasa apa saja,” katanya.

Karena mochi yang dibuat Feronika tidak menggunakan bahan pengawet, daya tahannya terbatas hanya sampai tiga hari, untuk itu dalam proses produksi Beesmochi hanya mengerjakan pembuatan sesuai order.

“Konsumen bisa memesan hari ini, dan keesokan harinya mochi telah di antar sampai ke rumah,” katanya.

Selain melayani pesanan di kawasan Sumatra Utara, mochi buatan Feronika juga sudah sampai dikirim ke Aceh dan Jakarta. Untuk pesanan ke luar kota tersebut, Fero memilih kargo yang dapat mengantarkan produk hingga ke rumah pemesan.

Karena prinsip pengiriman yang cepat itu, Feronika mengaku kondisi cuaca menjadi kendala terbesar dalam pengiriman produk. Seringkali karena hujan, pesanan tidak sampai secara tepat waktu.

“Kalau hujan, kami selalu konfirmasi dan mengabarkan kalau pesanan akan datang terlambat, pelanggan biasanya paham,” imbuhnya.

Meskipun produsen mochi terus bermunculan, Feronika tetap percaya diri dengan citranya sebagai produsen mochi pertama di Medan membuat calon konsumen yakin dengan kualitas mochi buatannya.

Selain itu, dia juga tak pernah absen untuk mengikuti bazar, pameran kuliner dan ajang promosi produk lainnya yang diselenggarakan di Medan dan sekitarnya untuk menjaring lebih banyak konsumen.

Mochi Es Krim

Selain Feronika, pemain lain yang tertarik menikmati lengketnya laba dari pembuatan mochi adalah Shelli Amelia yang memproduksi mochi isi ice creamdengan merek Mini Bites.

Perempuan yang berdomisili di Bandung tersebut mengawali bisnis ini karena ketertarikannya terhadap berbagai macam hidangan penutup, dan akhirnya menjatuhkan pilihan terhadap mochi karena relatif mudah dibuat.

Pada akhir 2013, Shelli akhirnya serius menggarap bisnis ini dengan menggelontorkan modal awal sekitar Rp5 juta yang digunakan untuk pembelian alat dan bahan.

Saat itu, Shelli baru memasarkan produknya dengan menyasar siswa sekolah yang berada di dekat rumahnya. Lama kelamaan, produk mochi buatannya semakin di kenal, dan pesanan pun datang dari beberapa kota.

“Sekarang sudah ada dua agen dan distributor di Bekasi dan Bogor, tetapi produksi masih dilakukan di Bandung,” katanya,

Agar pasarnya semakin luas, selain membuka sistem agen dan distributor, Shelli juga bekerja sama dengan salah satu catering yang melayani jasa untuk pesta dan pernikahan, sehingga pesanan untuk mochi Mini Bites juga bisa lebih banyak.

Saat ini, dalam seharinya dirinya bisa memproduksi hingga 1.500 mochi dengan dibantu oleh empat orang pegawai. Dengan harga Rp6.000 per mochi, keuntungan yang bisa dikantongi mencapai 20%.

“Kami juga membuka sistem reseller, untuk pembelian minimal 100 buah, harganya menjadi Rp5.000 per mochi,” paparnya.

Shelli mengaku yang membedakan antara mochi buatannya dengan yang lainnya berada pada kulit mochi, karena Shelli melakukan eksperimen dan membuat resep sendiri sehingga kulit mochi yang ia produksi lebih lembut dan bisa tahan hingga sati bulan meskipun tanpa bahan pengawet.

Adapun, mochi yang ditawarkan Mini Bites terdiri atas 12 varian rasa es krim, di antaranya vanilla oreo, green tea, choco chip, durian, blueberry, dan lain-lain. “Untuk isian es krimnya kami bekerja sama dengan salah satu perusahaan produsen es krim,” katanya.

Selama menjalani bisnis ini, Shelli mengaku kendala yang dia hadapi berada pada urusan jasa pengiriman. Karena masih terbatasnya kurir yang dapat mengantar mochi dari Bekasi, Bogor dan Bandung, maka daya jangkau produknya juga belum terlalu luas.

“Saat ini masih riset untuk melihat peluang apakah kami bisa membuka distributor baru di kota lain, seperti Surabaya,” paparnya.

Shelli juga mengatakan, agar bisa tetap bertahan di bisnis ini kuncinya adalah tidak pernah berhenti bereksperimen dengan mengeluarkan varian baru dan tetap mempertahankan kualitas rasa. Pasalnya, dalam bisnis kuliner, rasa merupakan salah satu faktor pengikat  konsumen agar tidak beralih ke tempat lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top