Bisnis.com, JAKARTA - Inovasi yang muncul demi melayani ibu menyusui yang bekerja adalah jasa antar atau kurir ASI yang memberikan pelayanan penjemputan ASIP dari lokasi ibu ke rumah. Salah satu pionir pengembang bisnis jasa ini adalah Pong ASI Delivery yang digagas Andrew Yosua P. Sianipar dan ketiga rekannya sejak 2011.
Andrew mengaku bisnis ini terilhami dari anggota keluarga dan rekan-rekan kerjanya yang baru melahirkan. Mereka tengah mencari cara agar tidak repot memberikan ASI ketika cuti melahirkan sudah habis dan harus kembali bekerja.
“Dasarnya kami ingin membuat bisnis yang bermanfaat dan memberikan solusi kepada masyarakat, dan saya melihat peluang dari permasalahan yang dialami ibu yang bekerja,” katanya.
Akhirnya Pong ASI Delivery pun digagas sebagai jasa kurir yang benar-benar khusus mengantarkan ASI dengan layanan bisa mencapai luar kawasan Jabodetabek, seperti Bandung dan kawasan Banten.
“Kami memiliki layanan antar ASI luar kota dengan minimal ada dua konsumen yang menggunakan jasa ini dalam waktu yang bersamaan,” ujarnya.
Saat ini Pong ASI Delivery memiliki enam armada sepeda motor yang akan mengantarkan ASIP di kawasan Jabodetabek. Setiap armada dilengkapi dengan box delivery berpendingin yang mampu memuat hingga 70 botol ASI ukuran 100 ml.
Kurir yang dimiliki Pong ASI Delivery pun diklaim sebagai kurir yang terlatih dalam penanganan ASIP karena telah diberikan pendidikan dan pemahaman selama tiga minggu, demi mereka mengetahui pentingnya barang yang mereka antar.
Hingga saat ini sudah ada sekitar 250 konsumen yang menggunakan jasa antar ASI ini, dengan 10% di antaranya adalah pelanggan dwimingguan dan bulanan.
Pong ASI Delivery mematok berdasarkan jarak tempuh dari lokasi penjemputan ke lokasi pengantaran, dengan biaya Rp4.000 per KM untuk konsumen harian, dan Rp3.000-Rp3.500 bagi yang berlangganan.
Adapun, jam operasional yang berlaku saat ini mulai dari pukul 08.00 WIB – 17.30 WIB. Ke depannya, Andrew akan membuka shift baru pada malam hari, karena banyak konsumen yang tidak terlayani karena keterbatasan waktu tersebut.
“Banyak yang meminta untuk mengirimkan ASI pada malam hari karena lembur atau ada tugas tambahan di kantor, jadi saya kira perlu ada yang standby untuk memberikan pelayanan,” katanya.
Dari bisnis yang sudah berjalan empat tahun ini, Andrew bisa mengantongi omzet per bulannya rata-rata Rp30 juta. Pendapatan tersebut terus diputar untuk mengembangkan bisnisnya.
Dalam waktu dekat, dia pun berencana untuk membuka kantor cabang di kawasan Bekasi, sebagai penghubung kurir dari Jakarta ke kawasan Bekasi lainnya.
“Sekarang kurir dari Jakarta harus kirim ke Bekasi itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga kurir hanya bisa melayani sedikit konsumen. Kalau ada hub, yang dari Jakarta cukup sampai kantor cabang, nanti akan diteruskan oleh kurir lain,” katanya.
Pria berusia 32 tahun ini mengaku tantangan terbesar dari bisnis ini datang pada awal-awal merintis usahanya. Pasalnya, bidang bisnis yang dijalankannya tergolong sangat baru dan belum pernah ada di Indonesia.
“Dari awal kami fokus untuk memperkenalkan bidang usahanya dulu supaya masyarakat teredukasi,” katanya.
Sekarang, setelah semakin tinggi tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ASI eksklusif, jasa yang ditawarkan Pong ASI Delivery semakin dikenal dan banyak dicari oleh para ibu menyusui.