Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mengupayakan Daya Saing Bagi Akuntan Profesional Indonesia

Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah getol menggaungkan sosialisasi persiapan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Momentum yang jatuh kurang dari tiga bulan lagi itu ternyata belum cukup ditanggapi dengan kesiapan matang oleh beberapa sektor.
Akuntan. /Bisnis.com
Akuntan. /Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah getol menggaungkan sosialisasi persiapan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Momentum yang jatuh kurang dari tiga bulan lagi itu ternyata belum cukup ditanggapi dengan kesiapan matang oleh beberapa sektor.

Salah satunya adalah kesiapan tenaga profesional, seperti akuntan. Padahal, saat MEA berlaku nantinya, terdapat 8 jenis jasa yang akan dibuka persaingannya secara regional, termasuk profesi akuntan.

Guru Besar Akuntansi dan Keuangan dari University of Technology Sydney (UTS) David Bond mengatakan persaingan antarpara akuntan profesional di Indonesia akan semakin tajam dengan kompetitior di kawasaan saat MEA diberlakukan.

Menurut data UTS, jumlah akuntan profesional di Indonesia masih terbilang rendah. Perbandingannya kira-kira 1 akuntan profesional dalam setiap 10.000 penduduk. Di Australia, perbandingannya adalah 1:10.000 dan di Malaysia 4:10.000.

Saat ini Indonesia terancam kebanjiran akuntan profesional dari negara ASEAN lainnya, khususnya dari Filipina dan Singapura, katanya di sela-sela sebuah kegiatan di World Trade Center II Jakarta, baru-baru ini.

Bagaimanapun, dia berpendapat meskipun jumlah akuntan profesional di Indonesia masih sedikit, mereka dapat menyiasatinya dengan sertifikasi. [Jadi] Indonesia dapat bersaing kuat di dalam negeri serta dapat mengambil manfaat dari pasar MEA yang terbuka luas.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melaporkan ketersediaan akuntan profesional di Tanah Air saat ini belum mampu memenuhi tingginya permintaan di dunia kerja. Setidaknya dibutuhkan 452.000 akuntan profesional di Indonesia.

Padahal, menurut data Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kementerian Keuangan, di Indonesia hanya tersedia kurang dari 16.000 akuntan profesional. Tahun lalu, setidaknya terdapat 226.000 perusahaan di Tanah Air yang butuh jasa mereka.

Otomatis, kekurangan yang tidak dapat dipenuhi oleh akuntan profesional lokal akan diisi oleh tenaga profesional asing. Itulah, menurut David, yang menyebabkan dinamika kompetisi antarprofesional di regional akan semakin ketat.

Untuk itu, lanjutnya, sertifikasi akuntan profesional menjadi penting untuk memproteksi lapangan pekerjaan mereka di dalam negeri. Dengan mengantongi kredibilitas tinggi, mereka dapat diterima dengan baik jika ingin mengambil peluang di negara ASEAN lain.

David menambahkan selain mengantongi sertifikasi, para akuntan profesional harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni agar dapat bersaing. Sebab, bahasa Inggris merupakan bahasa bisnis, yang tentunya akan menjadi bahasa resmi pada era MEA.

Globalisasi dan upaya untuk menyatukan suatu kawasan perlu menggunakan satu bahasa, supaya bisnis bisa berjalan dengan lancar, imbuhnya. Untuk itulah, Australia menawarkan kesempatan bagi akuntan profesional untuk memperkuat kemampuan bahasa Inggrisnya.

Dia mengatakan setiap siswa internasional, termasuk dari Indonesia, yang belajar akuntansi di Negeri Kanguru akan dibekali dengan ilmu yang terakreditasi oleh ikatan akuntansi profesional Asutralia danskillberbahasa Inggris yang tinggi.

Salah satu program yang ditawarkan adalah Pathway dari UTS, yang bakal membuka kelas bisnis dan teknik di Jakarta tahun depan. Program ini, lanjutnya, akan bekerja sama dengan UniSadhuGuna International College (UIC).

Director Indonesia Development UTS:Insearch Mariam Kartikatresni menambahkan dengan adanya penawaran program tersebut, Australia berkomitmen membantu daya saing sumber daya manusia Indonesia guna menghadapi era pasar bebas.

"Kami sudah lebih dari 20 tahun berada di Indonesia dan masih memiliki komitmen yang kuat untuk membimbing dan mendidik pemimpin masa depan Indonesia pada era globalisasi," ujarnya.

Bukan hanya akuntan profesional saja sebenarnya yang membutuhkan pematangan skill dan sertifikasi. Semua lini jasa dan pekerja profesional di Tanah Air memiliki waktu yang sangat sempit untuk mengejar ketertinggalan.

Sebab, saat MEA tiba, tak ada pilihan lagi selain bersaing! Pemenang persaingan itulah yang akan lebih leluasa dalam mengambil peluang dan manfaat dari keterbukaan pasar di kawasan yang sedang banyak diincar investor dunia pertama ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Fatkhul Maskur

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler