Peluang Empuk di Bisnis Popok Kain

Bagi para orang tua, kesehatan anak adalah yang utama. Apalagi jika usia anak masih sangat muda, misalnya masih bayi.
Annisa Margrit | 24 Mei 2016 12:33 WIB
Popok bayi. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Bagi para orang tua, kesehatan anak adalah yang utama. Apalagi jika usia anak masih sangat muda, misalnya masih bayi.

Salah satu hal yang sering dialami bayi adalah diaper rash alias ruam popok. Diaper rash ditunjukkan dengan kulit pantat bayi yang kemerahan dan bengkak. Meski umumnya tidak berbahaya, peradangan yang terjadi tetap mengganggu kenyamanan si bayi.

Kondisi ini bisa disebabkan karena bayi terlalu lama bersentuhan dengan tinja dan urine, gesekan antara kulit pantat dan popok karena popok terlalu kecil atau lembab, iritasi atau ketidakcocokan dengan produk bayi yang digunakan, serta pengaruh dari jenis makanan baru yang membuat frekuensi serta tekstur buang air besar dan kecil berubah.

Untungnya, diaper rash bisa dihindari. Salah satunya dengan menggunakan popok kain. Berbeda dengan popok sekali pakai, popok kain bisa dipakai berkali-kali karena dapat dicuci. Meski tidak tahan semalaman seperti popok sekali pakai, tapi pantat bayi menjadi lebih sehat karena popok sering diganti dan kulit pantat tidak lembab.

Hal ini ternyata dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha, seperti yang dilakukan oleh Rika Widjono. Bermula dari ketertarikannya menggunakan popok kain untuk sang anak, dia tidak menyangka popok buatannya direspons dengan baik oleh masyarakat.

Awalnya, Rika—yang rajin menulis blog—membagikan pengalamannya memakai popok kain buatan sendiri di blog miliknya. Ternyata, banyak pembacanya yang tertarik dan pesanan terus menerus masuk.

Bisnisnya pun dimulai pada 2009. Seperti banyak pelaku usaha lain yang memulai dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar, Rika juga hanya mengolah selimut bekas dan bedong bekas yang sudah tidak digunakan anaknya.

Proses trial and error berlangsung setahun, di antaranya proses pencarian bahan baku dan pola yang tepat, nyaman, serta ekonomis. Dengan modal awal sebesar Rp2 juta, dia berhasil membuat sekitar seratus buah popok kain.

“Yang menjadi motivasi saya waktu itu adalah supaya lebih irit dan mengurangi timbunan sampah pribadi. Selain itu, dengan popok kain risiko ruam pada kulit bayi juga lebih kecil,” tutur Rika.

Popok kain memang disebut lebih irit karena tidak perlu membeli popok terus menerus tiap beberapa hari. Cukup dengan rajin mencuci, maka persediaan popok akan terus ada di rumah.

Sekarang, Rumah Popok sudah memiliki tiga merek yaitu Enphilia, Cilipopo, dan Mommiluna. Produksi pun dikerjakan oleh 4 orang pegawai.

Saban bulan, Rumah Popok dapat menghasilkan 800 buah popok kain. Dengan penjualan antara 500-800 buah per bulan yang seluruhnya disalurkan ke pasar dalam negeri, Rika dapat mengantongi omzet sekitar Rp30 juta-Rp40 juta.

Sebagai generasi yang sadar teknologi, media sosial dimanfaatkan secara maksimal salah satunya melalui Instagram. Sebenarnya, Rumah Popok lebih mengutamakan penjualan ke distributor atau agen. “Namun, kami juga menerima pembelian langsung ke end customer melalui media sosial sebagai bentuk hubungan dengan end customer,” terangnya.

Penjualan online via Tokopedia serta aktif di berbagai komunitas pun menjadi saluran pemasaran lain yang dilakoni Rumah Popok.

Walaupun sudah menggeluti bisnis ini selama sekitar tujuh tahun, kendala bahan baku terkadang masih terjadi. Lantaran bahan popok kain yang mereka gunakan tidak mudah ditemukan di pasaran, Rumah Popok pun harus memesan khusus dari pabrik di dalam negeri. Masalahnya, pabrik tersebut tidak selalu mampu memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan.

Kendati demikian, kendala tersebut tidak menahan langkah Rika untuk memenuhi permintaan konsumen. Apalagi, merek popok kain buatannya sudah cukup dikenal orang. ()

Tag : peluang usaha, industri popok
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top