Teddy Rachmat: Mengapa Perbedaan Ditonjolkan?

Teddy ingin membawa pesan, semestinya perbedaan yang memang mewarnai Indonesia harus dihadapi dengan besar hati. Perbedaan bukan sarana untuk meruntuhkan bangsa, melainkan menjadi satu semangat untuk membangun Indonesia.
Stefanus Arief Setiaji | 11 Januari 2017 16:35 WIB
T.P. Rachmat, Aminuddin Nurdin, dan Benny Subiyanto pada acara Triputra Agro Persada Group. - Triputra

Bisnis.com, JAKARTA - Theodore Permadi Rachmat membuka buku catatannya. “Saya tadi sempat membuat list [daftar],” ujarnya ketika menerima wawancara Bisnis di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta
Selatan, pada Senin (9/1/2017).

Pemilik sekaligus pendiri kelompok usaha Triputra Grup itu menyebut sejumlah nama dari buku catatannya. Semuanya nama-nama sangat dikenal di dunia bisnis di Indonesia.

Benny Subianto, kolega sekaligus kompanyonnya men jadi nama pertama yang disebut. “Kami datang dari dua keluarga yang berbeda, dua lingkungan yang berbeda, saya orang China, orang Katolik, Pak Benny Islam, Jawa, kok bisa akur [selama] 45 tahun sampai [Pak Benny] meninggal. Sekarang kerja sama diteruskan oleh anak-anak saya dan anak-anaknya,” katanya mengawali obrolan.

Lantas, dia menyebut sejumlah perkawanan yang ‘akur’ dalam membangun usaha kendati berlatar belakang keyakinan dan etnis yang berbeda. “Sudono Salim, Djuhar Sutanto, Sudwikatmono, dan Ibrahim Risjad. Kalau enggak ada empat orang itu, belum tentu ada Salim Grup.”

Lantas, keluarga William Soeryadjaya dengan Mochammad Teddy Thohir. Semua nama itu dicontohkan pengusaha yang akrab disapa T.P. Rachmat atau Teddy itu sebagai sosok yang mampu membesarkan bisnis secara bersama-sama kendati memiliki latar belakang keluarga, keyakinan, dan dari suku yang berbeda.

Mengapa pesan itu begitu kuat disampaikan T.P. Rachmat? Karena dirinya menyadari dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir, Indonesia menghadapi keadaan yang kurang menyenangkan. Perbedaan yang mengarah kepada suku, agama, dan ras (SARA), cenderung menonjol. Antarkelompok dan pribadi saling menghujat. Kebencian marak disebarkan.

Teddy ingin membawa pesan, semestinya perbedaan yang memang mewarnai Indonesia harus dihadapi dengan besar hati. Perbedaan bukan sarana untuk meruntuhkan bangsa, melainkan menjadi satu semangat untuk membangun Indonesia.

Simak Video:  Empat Prinsip Nilai T. P. Rachmat

 

Nama-nama yang disebutnya, tidak semuanya memiliki keyakinan yang sama. Tidak semuanya pula berangkat dari keluarga dan latar belakang ekonomi yang sama pula.

Dengan segala perjuangannya, mereka mampu membesarkan perusahaan yang dirintis bersama. “Dengan kejadian [berpulangnya] Pak Benny, saya kira ini suatu kesempatan untuk berbagi sejarah, berbagi rasa, [berbagi] pengalaman saya bersama Pak Benny,” katanya.

Dia mengaku mengenal Benny Subianto pada periode 1965—1966 saat sama-sama menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Sama-sama nyontek lah, terus terang. Tetapi dengan sama-sama nyontek, saya tahu karakternya baik karena orang lain kalau mau nyontek ditutup-tutupi, kalau dia bagi-bagi saja, itu kan tandanya orangnya suka berbagi.”

Pada 1998, Teddy direkrut oleh William Soeryadjaya, lalu dikirim untuk belajar ke Belanda. Sepulang dari Belanda, orang pertama yang dipanggilnya adalah Benny Subianto.

“Saya masuk 1 September, dia 1 Oktober bedanya 1 bulan. Kami berdua yang mendirikan UT [PT United Tractors Tbk.]. Kalau saya pegawai nomor satu, dia [Benny] pegawai nomor dua.”

Oleh Om William, William Soerjadjaya biasa begitu disapa, keduanya diberi rumah di Jl. Juanda 3 No. 11. Rumah itu pula yang dijadikan kantor saat pagi hingga siang hari. Sementara itu, jika malam tiba dijadikan tempat menginap.

“Karena semua mulai dari nol, kendaraan juga Lambretta. Lambretta lebih murah dari vespa saat itu.”

Dengan cikal-bakal itu pula, keduanya terus bekerja sama dan sukses dalam meniti karier bisnis.

Oleh majalah Forbes, Teddy T.P. Rachmat disebut sebagai salah satu orang terkaya Indonesia dengan aset sekitar US$2 miliar. Sementara itu, aset sejawatnya Benny Subianto sekitar US$1 miliar.

“Saya berpikir, Indonesia akan lebih maju kalau kita tidak konsentrasi kepada perbedaan dan saling menghujat. Kita konsentrasi ke kerja sama.”

Tag : tp rachmat, pt triputra agro persada
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top