PELUANG USAHA: Little Museum Percantik Peralatan Pakai Batik

Berangkat dari kecintaan terhadap batik membuat Anastasia Endah Wulandari membuat berbagai produk trendi berkarakter batik yang dibungkus dalam Little Museum.
Rayful Mudassir | 13 Maret 2018 13:39 WIB
. - .

Bisnis.com, JAKARTA-- Berangkat dari kecintaan terhadap batik membuat Anastasia Endah Wulandari membuat berbagai produk trendi berkarakter batik yang dibungkus dalam Little Museum.

 Selama ini penggunaan batik sebagai salah satu bahan pakaian dinilai masih terkesan cukup resmi. Sehingga konsumen hanya memakai produk batik di saat kegiatan formal atau khusus.

Endah berpikir keras untuk mengubah nuansa berat batik menjadi barang elegan dan dapat digunakan siapapun dan kapan pun. Targetnya, produk batik tidak hanya dinikmati masyarakat domestik, namun sampai mancanegara.

Little Museum mulanya meluncurkan produk Pohon Natal yang merupakan puzzle tiga dimensi dengan mengambil corak batik dan dibuat dalam dua edisi yakni keping puzzle dari karton, dan keping puzzle berbahan medium-density dibreboard (MDF). Corak batik digrafirkan dengan grafir laser.

Peluncuran produk pertama Little Museum ini dilakukan pada 14 Desember 2011. Sebelum bernama seperti saat ini, Endah masih menamai produk buatannya dengan brand 'batikIDku'. Namun sejak 20 April 2012 saat peluncuran Tumbler Batik, lahirlah brand Little Museum dan terus digunakan sampai sekarang.

“Kami membuat barang yang fungsional tetapi dengan kreasi yang belum pernah ada sebelumnya. Tumbler sangat fungsional, tapi belum ada yang menggunakan bahan batik untuk tumbler, biasanya hanya cetak pada kertas,” kata Endah.

Endah berhasil menciptakan sejumlah produk yang ditampilkan dengan motif batik namun tetap terlihat ciamik. Perlahan Little Museum juga menciptakan tumbler, yaitu wadah minum dalam berbagai suhu dengan menggunakan kain batik yang dijahitkan di tabung wadah tersebut.

Usahanya tak berhenti di situ. Dia kemudian terus berkreasi dengan meluncurkan pouch atau kantung kain yang diadaptasi dari bentuk nasi bungkus dan nasi kucing (sering kita temukan dijual di angkringan di Jogja). Brand tersebut dinamai Sego Boengkoes 1/2 untuk pouch berbentuk nasi bungkus, dan Sego Koetjing untuk pouch yang dapat digunakan sebagai kantung kartu nama.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Semakin hari produk Little Museum mulai mendapat tempat di hati konsumen. Endah akhirnya membuat produk turunan Sego Boengkoes 1/2  namun dengan ukuran dua kali lebih besar yang dinamai Sego Boengkoes.

Pouch dan tas slempang juga memadukan batik tapi dengan signature Little Museum yang memadukan garis modern dan etnik, sehingga dicintai oleh pelanggan karena bisa digunakan sehari-hari,” paparnya.

Bagi Endah, yang paling penting dalam menciptakan sebuah produk adalah karakter. Dengan begitu, upaya menciptakan sebuah barang tidak akan mudah tergerus tren di pasaran. Dia meyakini Little Museum telah berusaha untuk berani tampil beda dengan nuansa batik dalam setiap produknya sehingga terihat unik. Bahkan semua produk Little Museum menggunakan batik yang proses pembuatannya dilakukan secara tradisional yaitu batik cap atau batik tulis, dan bukan batik cetak.

Hingga kini, usaha Endah terus mengalami peningkatan. Setiap bulannya, paling tidak dia berhasil menjual 75 – 100 produk Little Museum dengan produk yang beragam. Jika ditaksir, seluruh barangnya memiliki harga yang beragam mulai Rp85.000 sampai dengan Rp275.000 per produk.

Tekadnya memajukan produk lokal bisa dibilang mulai menunjukkan hasil. Di samping Little Museum yang semakin kokoh, produk ini terus berekspansi dengan menyetujui untuk menyediakan tumbler batik kepada Anomali Coffee.

Endah tak mendirikan Little Museum dengan mudah. Asam garam dalam memulai usaha ini sudah dirasa. Apalagi saat ada dinamika melayani selera ritel dan selera korporasi yang ingin memiliki merchandise produk Little Museum. Tantangannya adalah membuat produk sesuai keinginan konsumen tanpa menghilangkan garis desain dan ciri khas Little Museum.

“Di samping itu untuk tetap setia pada pakem atau langgam pertemuan budaya tradisional dalam garis modern perlu kesabaran untuk tidak tergoda mengikuti tren, malahan sebisa mungkin membuat tren,” tuturnya.

Endah punya sedikit saran untuk pemula. Sebelum memulai sebuah usaha, ada baiknya melakukan riset dulu untuk menciptakan produk dengan karakter yang kuat. Sehingga tidak mudah dihempas tren lain yang lebih laris. Belum lagi produk dalam negeri harus bersaing dengan produk impor.

 “Tanpa karakter yang kuat, demand mudah dibelokan ke tren baru yang harganya sulit disaingi karena perbedaan volume produksi massal mereka dengan gaya handmade Little Museum.” 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top