Coki Tobing, Produsen Prostesis yang Cinta Berbagi

Bekerja dengan hati dan rajin berbagi demi kemanusiaan sudah menjadi moto hidup CEO Delivery Dream Coki Tobing. Dia menjadi bahan pembicaraan paska cuitannya di Twitter yang menawarkan prostesis gratis bagi korban bom Surabaya dan Sidoarjo.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 18 Mei 2018 10:54 WIB
Loading the player ...

Bisnis.com, JAKARTA -- Bekerja dengan hati dan rajin berbagi demi kemanusiaan sudah menjadi moto hidup CEO Delivery Dream Coki Tobing.

Dia menjadi bahan pembicaraan paska cuitannya di Twitter yang menawarkan prostesis gratis bagi korban bom Surabaya dan Sidoarjo. Melalui akun Twitter-nya, @ctkbng, dia menawarkan bantuan prostesis secara gratis bagi korban bom Surabaya.

"Jika korban pengeboman Surabaya butuh prostesis akibat bom, saya akan berikan gratis," tulisnya, Minggu (13/5/2018).

Prostesis adalah alat kesehatan yang didesain untuk menggantikan bagian tubuh tertentu yang mengalami cidera berat karena kecelakaan ataupun penyakit serius yang mengakibatkan tubuh si pasien harus diamputasi.

"Iya, saya memang menawarkan prostesis gratis," ungkap Coki saat dihubungi Bisnis, Senin (14/5).

Penawaran bantuan alat kesehatan yang harganya tidak murah ini datang dari inisiatifnya sendiri saat melihat pemberitaan media mengenai korban teror bom di Surabaya dan Sidoarjo.

"Tujuan saya sih memang bisa memberikan apa yang bisa saya kasih. Kebetulan yang bisa saya kasih kan kaki palsu ya. Sebetulnya ini sudah sering saya lakukan, cuma tidak viral sebelumnya dan memang tidak saya publikasikan," tambahnya.

Saat ditemui Bisnis, Rabu (16/5), Coki mengaku terkejut saat beberapa awak media menghubunginya untuk mengonfirmasi kebenaran tawaran bantuan tersebut.

Coki adalah CEO dan Founder dari perusahaan Delivering Dreams (DARE). Perusahaan ini memproduksi prostesis serta ortosis bagi para difabel dan orang-orang yang membutuhkan sejak 2012. Perusahaan ini telah bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit di Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Bekasi.

Dia mengatakan pemberian alat-alat kesehatan buatannya secara cuma-cuma sudah dilakukan sejak DARE berdiri pada 2013. Prostesis buatannya sudah distribusikan secara gratis ke berbagai daerah  di Indonesia, seperti Bandung, Lombok, Medan, dan Pandeglang.

Jika melihat situs DARE, disebutkan mereka terutama membantu para difabel dan orang-orang yang memiliki keterbatasan dana untuk mendapatkan prostesis. Coki menuturkan ini adalah bentuk dari balas budi dari pendidikan gratis yang dia dapatkan ketika memperdalam ilmu tentang pembuatan prostesis dan alat ortosis (alat bantuan ortopedi).

Pada 2009, dia memperoleh beasiswa dari Nippon Foundation yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Nippon Foundation adalah sebuah yayasan pendidikan di Jepang yang membuka sekolah Jakarta School of Prosthetics and Orthotics, sekolah berstandar Internasional yang mengajarkan cara pembuatan prostesis dan ortosis.

"Semua biaya saya selama kuliah itu ditanggung oleh Nippon Foundation. Jadi, ini bisa dibilang sebagai bentuk balas budi saya juga karena dari ilmu yang saya dapatkan secara gratis, saya bisa membangun entitas perusahaan saya sekarang ini. Jadi, selama kurang lebih 4 tahun saya berkecimpung di dunia bisnis ini, setiap tahun saya pastikan untuk memberi alat bantuan kesehatan," jelas Coki.

Membangun DARE

Coki adalah sarjana Teknik Mesin dari Universitas Atmajaya. Setelah lulus pada 2004, dia sempat bekerja sebagai salah satu teknisi di Agung Podomoro Group, salah satu pengembang properti besar di Indonesia, untuk membangun kolam renang dalam salah satu proyek.

Empat tahun bekerja sebagai seorang pegawai, Coki merasa bahwa itu bukanlah dunia yang diinginkannya. Laki-laki kelahiran 6 Agustus 1981 ini akhirnya memutuskan untuk mencari kesempatan baru yang lebih menantang.

Lalu, datanglah kesempatan untuk belajar pembuatan alat-alat kesehatan yang berupa kaki palsu, tangan palsu, dan alat bantuan ortopedi dari beasiswa yang diperolehnya. 

"Sebenarnya, para penerima beasiswa itu diarahkan untuk menjadi pegawai negeri sipil Kemenkes. Namun, saya melihat adanya kesempatan bahwa alat bantu kesehatan ini akan memberikan manfaat sekaligus keuntungan secara bersamaan, jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk membuka usaha saja," terangnya.

Bermodalkan uang Rp5 juta, Coki memberanikan diri untuk menyewa workshop sebagai tempat pembuatan alat prostesis dan ortosis. Kerja sama pertamanya adalah dengan dr. Albert Gandakusuma, Sp.OT dari Rumah Sakit (RS) OMNI Internasional Alam Sutera di BSD, Tangerang.

Dia mengaku masih ingat ketika dr. Albert menghubunginya yang saat itu berada di Bekasi dan mengatakan ada pasien yang mau membeli alat kesehatan buatannya.

"Dari Bekasi saya naik motor ke sana [BSD]. Itu di jalan karena senang dan terharunya, saya sampai menangis, mixed feeling waktu itu rasanya," tutur Coki.

Berawal dari pasien pertama itu, DARE kini mulai berkembang dan sudah bekerja sama dengan banyak rumah sakit lainnya. 

Jika dulu hanya memiliki 3 pegawai, maka sekarang perusahaan itu sudah mempekerjakan 10 staf dan mempunyai 1 gerai khusus pemesanan di Bekasi. Adapun tempat produksi masih dipertahankan di lokasi workshop pertama.

Kualitas prostesis dan ortosis yang dihasilkan DARE selalu dijaga oleh Coki. Para staf DARE memiliki sertifikasi dari Internasional Society for Prosthetic and Orthotics (ISPO) kategori 2 dari Jakarta School of Prosthetics and Orthotics.

"Jadi, saya biasanya ambil staf dari Jakarta School of Prosthetics and Orthotics. Sudah bekerja di sini pun kami kasih seminar dan pelatihan. Karena kegiatan ISPO banyak di Kamboja, jadi biasanya saya kirim ke sana juga untuk lebih memperdalam ilmu," paparnya.

Untuk bahan baku alat prostesis dan ortosis buatannya, DARE menggunakan beberapa komponen yang didatangkan dari Jerman, Kamboja, dan China. Adapun omzet bulanan yang didapatkannya berkisar Rp150 juta-Rp 200 juta dengan profit yang cukup untuk kelanjutan kehidupan perusahaan.

Kisaran harga alat prostesis dan ortosis buatannya tergantung pesanan yang diinginkan para pelanggannya.

"Kalau untuk pasien-pasien premium, dengan custom komponen yang mereka minta, kami jual dengan harga yang lumayan. Untuk tatakan kaki yang kakinya rata saja, bisa Rp3 juta-Rp4 juta," ujar Coki.

Menurutnya, harga itu sudah sesuai dengan pesanan dokter rumah sakit yang bekerja sama DARE. 

Sementara itu, pasien yang datang langsung ke gerainya di Bekasi akan mendapatkan harga yang berbeda. Untuk insole-nya saja, harganya dijual di kisaran Rp1,5 juta-Rp2 juta.

Sempat Kuliah Sambil Bekerja

Coki mengungkapkan dirinya tidak berasal dari keluarga berada. Meski bisa menamatkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Atmajaya setelah lulus SMA pada 1998, tapi dia harus berjuang keras agar bisa lulus. 

Pada 2000, ayahnya kembali ke kampung halaman di Medan untuk menjadi kepala desa--sesuai dengan keinginan nenek Coki. Sang ayah disebut berpegang teguh pada prinsip anti korupsi selama menjabat sebagai kepala desa.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk membayar uang kuliah Coki di Jakarta, orang tuanya pun menjual rumah mereka di Bekasi. Maklum, biaya kuliah memerlukan dana yang tidak sedikit. 

Coki mengaku sempat mengamen agar tidak perlu membayar ongkos angkutan umum dan bisa tetap berkuliah. 

Ketika neneknya meninggal, orang tuanya pun memutuskan kembali ke Bekasi. Otomatis, saat itu sang ayah dalam kondisi menganggur dan hanya memiliki tabungan seadanya. 

Coki pun menjadi tulang punggung keluarga. Sambil kuliah, dia bekerja di United Parcel Service (UPS). Hal ini sekaligus membuatnya mesti lulus dua tahun lebih lama dibandingkan teman-teman seangkatannya. 

"Pengalaman ini lumayan menempa saya untuk bisa seperti sekarang ini," sebutnya.

Tag : kesehatan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top