Edukasi Duit: Memproduksi Waktu Menjadi Uang

Indonesia sering disebut memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan alam yang disebut dalam undang-undang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
News Writer | 03 Januari 2019 17:23 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia sering disebut memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan alam yang disebut dalam undang-undang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Pertanyaannya, kenapa mayoritas penduduk di Indonesia, masuk kelompok menengah ke bawah. Golongan atas, paling hanya 1%—2%. Kenapa?

Ada beberapa alasan, pertamam masyarakat umumnya memegang tunai.  Nilai uang tunai tergerus "pajak" waktu,  seiring dengan waktu, integritas uang tunai terus menyusut. 

Kedua, menyangkut plafon kredit. Bukankah golongan menengah juga memiliki kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA)? Iya. Namun secara fundamental mereka "menjual" waktu mereka 10 tahun-20 tahun untuk mendapatkan profit atau gaji untuk menyicil aset.  Ini kecil. Klik videonya.

Ketiga, golongan atas memiliki aset yang menjadi dua keuntungan yakni capital gain dan keuntungan penyusutan nilai integritas kredit yang menurun.

Kredit bank diberikan bukan dari profit,  namun dari "omzet" langsung ditalangi kredit bank menjadi aset.  Dengan demikian nilai plafon kredit melebihi jaminan dan otomatis memiliki aset terus bertambah untuk meningkatkan plafon kredit demikian seterusnya.  Jadi golongan atas memproduksi waktu menjadi uang.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri Money Intelligent, New Money, dan New Money: Riba Siapa Bilang?

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top