Drop Out dari Kampus, Jen Rubio Jadi Miliarder Koper

Pernah enggak sedang asyik lari-lari mengejar jadwal penerbangan pesawat, tiba-tiba koper yang kamu bawa rusak tidak keruan? Kalau pernah, coba deh cara Jen Rubio. Bisa-bisa kamu jadi pebisnis wanita yang tajir melintir.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  11:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pernah enggak sedang asyik lari-lari mengejar jadwal penerbangan pesawat, tiba-tiba koper yang kamu bawa rusak tidak keruan? Kalau pernah, coba deh cara Jen Rubio. Bisa-bisa kamu jadi pebisnis wanita yang tajir melintir.

Sekitar sepekan lalu, tepatnya pada Selasa (14/5/2019), startup koper dengan brand Away yang didirikan Rubio bersama rekannya, Steph Korey, mencapai valuasi sebesar US$1,4 miliar.

Yang lebih wow lagi, hasil tersebut diraih hanya tiga tahun sejak perusahaan mereka didirikan lho. Sudah pasti ini menjadi kemenangan besar bagi Rubio dan Korey.

Menurut estimasi Forbes, bagian yang dimiliki masing-masing dari mereka dalam bisnis itu kini mencapai sekitar US$130 juta. Dihitung-hitung, berarti kekayaan Rubio di perusahaan itu saja bernilai sekitar Rp1,87 triliun.

Berangkat dari pengalaman suram Rubio ketika koper pakaiannya pecah tak keruan di suatu bandara, ia dan Korey merealisasikan ide mereka mendirikan perusahaan ini pada tahun 2015.

“Sebenarnya saya sudah lama memikirkan konsep koper ini. Dalam suatu perjalanan dari Davos koper saya rusak. Itu adalah salah satu pengalaman yang membuka mata tentang industri ini dan membuat saya benar-benar ingin mengetahuinya lebih dalam,” ungkap Rubio, seperti dikutip Bond Street.

Rubio menuangkan kegelisahannya dengan Korey. Mereka spontan menyadari ada peluang besar untuk menyentuh langsung konsumen dengan menciptakan produk yang benar-benar berkualitas tinggi dan menjualnya dengan harga lebih terjangkau.

Ini adalah industri di mana proposisi nilai itu masih ada. Misi mereka enggak muluk-muluk. Mereka menginginkan koper penuh gaya tetapi dengan harga lebih murah ketimbang merek-merek lain di pasaran.

Kedua teman ini, yang pertama kali bertemu di suatu tempat kerja, melihat kesenjangan besar antara barang murah dengan kualitas hasil buruk dan yang mewah juga berkualitas lebih tinggi.

“Hal itu lahir dari kebutuhan pribadi. Saya sangat fokus pada bagaimana merek dan masyarakat berinteraksi. Jika Anda melakukan perjalanan dan memperhatikan segala tentangnya, perhatian terhadap detail itu tertuju pada koper,” jelas Rubio.

“Tidak ada merek koper yang berbicara tentang cara kita bepergian atau yang benar-benar ingin terhubung tentang pengalaman penggunanya. Semua merek koper di luar sana hanya berbicara tentang produk, bentuk, dan fungsi. Saya ingin membuat sesuatu yang lebih besar dari itu,” lanjut wanita muda 31 tahun ini.

Produk pertama mereka, koper cangkang keras yang dapat dimasukkan ke dalam rak, langsung tersedia dalam sepuluh warna.

Selain warna-warna menarik dan harga yang sangat bersaing, kesuksesan mereka juga didukung strategi penjualan online dengan ratusan influencers di Instagram.

“Ketika kami membahas kemungkinan tentang menjadi merek yang bernilai miliaran dolar, saya membayangkannya mungkin itu baru akan terjadi entah kapan. Ambisi kami benar-benar meningkat sering dengan berjalannya bisnis,” ujar Rubio, seperti dikutip Forbes.

Pada tahun pertamanya, nilai penjualan Away telah melampaui US$12 juta dan mengumpulkan dana modal ventura senilai lebih dari US$81 juta. Media terkemuka seperti Wall Street Journal, Vogue, Business Insider, dan Elle berbondong-bondong meliput merek itu.

Dua tahun sejak didirikan, perusahaan ini mencetak profit dan telah menjual lebih dari satu juta kopernya kepada banyak orang, termasuk bintang terpandang seperti Gigi Hadid.

Away merupakan perusahaan keempat dalam daftar Forbes Next Billion-Dollar Startups tahun lalu yang mencapai status unicorn, setelah Lemonade, KeepTruckin, dan Coursera mencapainya pada awal tahun ini.

Keberhasilan Away muncul pada saat pasar koper, yang mungkin bernilai US$35 miliar secara global, telah mengalami perubahan di tengah upaya perusahaan-perusahaan melakukan penjualan langsung kepada konsumen.

“Kami sangat beruntung. Saya memiliki latar belakang saya dalam branding dan kreatif. Latar belakang Steph adalah operasional, produk, dan rantai pasokan. Kami memiliki banyak hal yang dibahas,” lanjut pebisnis kelahiran Filipina itu.

“Salah satu hal pertama yang kami investasikan adalah bekerja dengan desainer industri untuk menciptakan produk pertama kami, dan kemudian merek. Penting bagi kami untuk memberi diri kami anggaran yang signifikan dan banyak waktu untuk memperbaiki branding,” paparnya.

Aslinya, gadis manis ini hampir-hampir tak memiliki jiwa kewirausahaan di dalam darahnya. Ia lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga yang rata-rata berprofesi sebagai dokter atau pengacara.

Meski tak menuntaskan pendidikannya di bangku kuliah, Rubio menempa rasa dan kariernya sebagai pakar branding, kreatif, dan media sosial di perusahaan seperti Warby Parker dan All Saints. Salah satu keahliannya adalah mempertegas kembali bagaimana pelanggan dan merek terhubung.

“Saya hanya mengikuti rasa ingin tahu saya dan apa yang saya minati. Saya menyukai kelas bisnis yang saya ikut, di sisi lain saya juga menyukai program magang yang saya lakukan,” kisahnya tentang putus kuliah, seperti dilansir Eater.

“Saya tertarik pada pemasaran, melihat orang-orang memutuskan bagaimana cara berbicara tentang produk, memutuskan bagaimana orang berinteraksi dengannya, dan mereka mencoba membuat orang menyukainya.”

Kemampuan Rubio dan Korey sebagai individu pun tak luput dari perhatian. Mereka didaulat masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 pada 2016, Korey untuk ritel dan e-commerce dan Rubio untuk pemasaran dan periklanan.

Selanjutnya, Away berencana meluncurkan 50 toko baru di seluruh dunia selama tiga tahun ke depan. Ini menjadi langkah besar perusahaan setelah hanya memiliki tujuh lokasi ritel saat ini.

Perusahaan juga berencana untuk melakukan ekspansi secara global, termasuk di Asia, dan meluncurkan produk-produk baru bukan hanya sebagai perusahaan koper.

“Saya pikir keseluruhan merek ini adalah perwujudan dari apa yang kita semua sukai tentang melalukan perjalanan. Anda semacam melihat manifest melalui merek dalam banyak cara berbeda. Melalui warna dan tekstur yang kami gunakan dalam merek, itu jelas memanifestasikan dirinya dalam produk,” terangnya.

“Semua orang di sini [perusahaan] bersemangat tentang melakukan perjalanan dan benar-benar percaya bahwa tempat manapun di dunia ini dapat diakses dan layak untuk dieksplorasi.”

Keberhasilan dapat dikaitkan dengan banyak faktor, mulai dari kampanye pemasaran yang ramah milenial hingga model langsung pada konsumen. Rubio sendiri menegaskan tujuannya ingin menciptakan merek dan produk yang sangat disukai orang.

Demi tujuan ini, ia rela terbang melanglang buana dengan jarak lebih dari 200.000 mil setiap tahunnya. Ia sendiri sudah terbiasa dengan hidup di negara lain sejak kecil. Lahir di Filipina, ia pindah ke New Jersey, Amerika Serikat, ketika baru berusia 7 tahun.

“Entah sedang di hotel atau di rumah, saya selalu mengecek ponsel saya. Mungkin kebalikan dari banyak orang, tetapi kebiasaan ini membantu saya meredakan kecemasan. Saya bisa merencanakan segala hal secara mental,” tuturnya.

“Saya punya cincin favorit dari sebuah perusahaan bernama FoundRae. Di dalamnya terukir ungkapan, 'Jika tidak sekarang, lalu kapan?' Itulah moto hidup saya,” tandas Rubio.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inspirasi bisnis, tokoh bisnis

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top