Peluang Bisnis Rajut: Mengangkat Perajin Lokal

Dewi kemudian mendirikan bisnis rajutan yang diberi merek Bagtage untuk tas rajut dan Hammockshoes untuk sepatu rajut pada 2015 silam. Bisnis yang dijalankannya menggunakan sistem pre-order.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 09 Juni 2019  |  13:36 WIB
Peluang Bisnis Rajut: Mengangkat Perajin Lokal
Repro

Bisnis.com, JAKARTA – Kemampuan merajut kini bisa menjadi lahan bisnis yang cukup menjanjikan. Berbekal kreativitas, kegiatan tersebut bisa menghasilkan beragam produk unik dan bernilai jual.

Keterampilan merajut menjadi keahlian umum yang dimiliki perempuan di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal itulah yang kemudian menjadi inspirasi Dewi Prasti untuk membangun usahanya.

Wanita yang kini tinggal di Magelang, Jawa Tengah itu bercerita, semasa kecil ketika dia masih tinggal di kampung ibunya, Kecamatan Sentolo, dia melihat banyak sekali perajin tas rajut berbahan dasar serat tumbuhan maupun benang. Pada saat itu, hampir sebagian ibu rumah tangga mengisi waktu dengan merajut sekaligus menambah pundi-pundi rupiah.

Hasil kerajinan itu lalu diserahkan kepada pengepul atau pengusaha lokal untuk dijual. Mereka mendapatkan upah sesuai dengan hasil yang dikerjakannya. Hal tersebut lantas memotivasi Dewi untuk mempelajari teknik rajut sekaligus cara memasarkannya. Pasalnya, dia melihat banyak perajin yang terkendala dalam hal pemasaran.

Dewi kemudian mendirikan bisnis rajutan yang diberi merek Bagtage untuk tas rajut dan Hammockshoes untuk sepatu rajut pada 2015 silam. Bisnis yang dijalankannya menggunakan sistem pre-order.

“Bersama dengan Hermawati, rekan saya, kami melihat ini sebagai peluang dan akhirnya kami memilih media sosial untuk menjaring minat konsumen pada produk rajutan karya pengrajut lokal.”

Memulai pemasaran dari aplikasi BBM dan Facebook, dia kemudian mem-posting produk rajut hasil karya ibu di kampung untuk dipromosikan. Kini, tak hanya via BBM dan Facebook, Dewi dan rekannya, Herma, lebih getol memanfaatkan Instagram untuk media pemasaran.

Selain itu, juga memasarkan produknya secara langsung, baik door to door, bekerja sama dengan toko maupun reseller.

Pada awalnya, dia sempat mengalami kendala kesulitan memasarkan produk. Dia juga pernah kena tipu karena produk yang dititipkan di toko kerajinan tidak kembali sehingga merugi hingga jutaan rupiah.

Tak hanya itu, produk rajut yang dia jual juga pernah dihargai dan ditawar rendah karena disamakan dengan produk yang dijual di pasar-pasar, padahal bahan yang digunakan merupakan bahan pilihan berkualitas.

“Ini menjadi tantangan tersendiri, bagaimana memberikan pemahaman pada konsumen bahwa ada tangan-tangan kreatif yang penuh dengan dedikasi untuk membuat satu produk rajut dan mereka perlu kita hargai. Semangat inilah yang mendorong kami untuk terus belajar strategi marketing.”

Dewi menuturkan, bahan baku yang digunakan selalu berkualitas. Beberapa bahan bakunya berasal dari serat tumbuhan dan benang. Mulai dari serat agel, pelepah pisang, eceng gondok, pandan, mendong, hingga rotan. Bahan baku benangnya ada jenis gun, katun, polly, dan nilon.

Produk awal yang dipasarkan adalah hasil kerajinan ibu-ibu di daerahnya. Selanjutnya, Dewi juga mendesain sendiri produknya dengan mengkolaborasikan beberapa bahan untuk dikerjakan oleh ibu-ibu di kampung.

Seiring dengan perkembangan dan menyesuaikan tagline yang diusung yakni Create Your Own Bag on Bagtage, dia mencoba menawarkan konsep kepada konsumen untuk menciptakan desain sendiri, warna, dan ukuran sesuai dengan kebutuhan.

“Hal inilah yang kemudian membuat konsumen berdatangan karena mereka bisa custom produk rajut tanpa image produk pasaran. Jadi produk rajut yang mereka miliki merupakan hasil rancangan sendiri.”

Sejak awal mendirikan Bagtage dan Hammockshoes, sasaran pelanggan yang dituju adalah kalangan menengah dan menengah ke bawah seiring dengan tujuannya untuk menyediakan produk berkualitas yang ramah di kantong.

“Jadi, meskipun harga ramah di kantong, kami tetap ingin menyajikan kualitas. Bahan baku dan proses pengerjaan maupun finishing kami buat sehalus dan sebagus mungkin agar produk impian konsumen tidak mengecewakan.”

Dibantu tiga perajin khusus untuk merajut tas, dan perajin sepatu, usaha Dewi mulai mendapatkan sambutan hangat dari pelanggan. Kini, produk Bagtage dan Hammockshoes juga diminati kalangan mahasiswa, karyawan swasta, dan ibu muda.

Untuk pasar internasional, dia juga pernah mengerjakan pesanan dari Malaysia, Singapura, dan Jepang. Dewi menuturkan, dari sekian banyak produk tas rajut yang dihasilkan, slingbag dan backpack menjadi pilihan konsumen dan sering dipesan. Untuk sepatu, konsumen banyak memesan flatshoes dan boots rajut.

“Selain unik, sepatu rajut yang kami jual dinilai lebih fleksibel dipakai pada semua aktivitas, baik formal maupun informal.”

Terkait harga, Dewi membanderol tas rajut pada kisaran Rp100.000—Rp500.000, sedangkan untuk sepatu rajut mulai harga Rp80.000—Rp300.000. Setiap bulan dia berhasil menjual tiga sampai 10 produk, baik tas maupun sepatu dan mendapatkan omzet paling tidak puluhan juta perbulan.

Tulisan ini sudah pernah tayang di Bisnis Indonesia Weekend edisi 14 April 2019

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top