Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mendulang Ide Brilian Dengan Sfumato. Sederhana Triknya

Bisa menjadi modal besar bila seseorang mampu mengelola keseimbangan akan hal-hal yang bertentangan, untuk merangkul ketidakpastian, ambiguitas, dan sekaligus paradoks kehidupan.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 28 September 2020  |  18:49 WIB
Warga berolahraga di Komplek Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Warga berolahraga di Komplek Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (21/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Di manakah Anda ketika Anda mendapatkan ide-ide terbaik? Apakah di tempat kerja?

Salah besar bila jawabannya ‘ya’. Survei membuktikan bahwa ide-ide terbaik muncul atau lahir bukan di kantor atau tempat kerja. Lalu di mana?

Jawaban yang paling sering dikemukakan adalah seperti ‘ketika istirahat di ranjang’, ‘ketika berjalan-jalan di alam terbuka’, ‘ketika mendengarkan musik sambil mengemudi’ atau ‘ketika santai sewaktu mandi’.

Alhasil, hampir tidak ada orang yang mengatakan memperoleh ide-ide terbaiknya di tempat kerja (Michael J. Gelb, 2001).

Pertanyaannya, apa yang salah dengan tempat kerja? Mungkin tidak ada yang aneh atau salah. Lalu?

Sebaliknya, coba bandingkan ketika Anda berjalan-jalan di alam terbuka yang masih asri sambil menghirup udara pegunungan, beristirahat di ranjang atau berlama-lama mandi di pancuran dengan air hangat, yang kesemuanya tidak terjadi di tempat kerja.

Kesendirian dan relaksasi. Kebanyakan orang, kata Gelb, mendapatkan ide-ide terobosannya ketika sedang santai dan sendiri.

Dua kata kunci tersebut memang menjadi salah satu jurus yang direkomendasikan Gelb, salah satu inovator kelas dunia dalam bidang pemikiran kreatif, pembelajaran yang dipercepat, dan pengembangan kepemimpinan.

Hal yang menarik adalah pemikirannya mengenai ‘meluangkan waktu untuk menyendiri dan relaksasi’, seperti yang saya sebut dimuka.

Ternyata ‘jurus’ ini  dikembangkan berdasarkan salah satu dari tujuh prinsip cara berpikir Sang Maestro awal abad Renaisans: Leonardo da Vinci. Prinsip itu adalah Sfumato.

Secara harfiah, Sfumato memiliki beberapa arti, yakni ‘hilang tak berbekas’, ‘berubah menjadi kabut’, ‘menjadi tak pasti’, ‘kesediaan merangkul ambiguitas, paradoks, dan ketidakpastian’.

Para kritikus seni menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan ciri samar-samar dan misterius yang merupakan salah satu ciri paling khas dari lukisan-lukisan Leonardo.

Efek ini, yang diperoleh dari penggunaan dengan cermat lapisan-lapisan cat yang amat tipis, merupakan metafora menakjubkan bagi tokoh besar tersebut.

Semangat dan keteguhan Leonardo yang tiada henti untuk memanfaatkan panca inderanya secara maksimal guna memperkaya pengalaman telah mendorongnya ke banyak penemuan dan pemahaman yang hebat.

Di sisi lain upaya itu juga membawanya menuju wilayah yang tak terbatas, hal yang tidak diketahui, dan hal yang tak dapat diketahui.

“Kemampuannya yang fenomenal untuk menganut keseimbangan akan hal-hal yang bertentangan, untuk merangkul ketidakpastian, ambiguitas, dan paradoks, merupakan ciri sangat penting kegeniusannya,” ujar Gelb.

Dengan demikian meski Leonardo gemar bertukar pikiran dengan orang-orang lain, dia mengetahui bahwa pemahaman-pemahannya yang paling kreatif muncul manakala sedang sendirian.

Mulai jelas, bukan? Anda benar-benar menjadi diri sendiri yang utuh. Namun apabila ditemani oleh satu orang saja, Anda menjadi separuh diri Anda.

Karena itu, pupuklah Sfumato dengan meluangkan waktu untuk menyendiri. Sisihkanlah sedikit waktu, sekurang-kurangnya satu atau dua kali dalam sepekan untuk pergi berjalan-jalan.

Banyak di antara kita menghabiskan hari kerja yang kadang penuh tekanan dengan cara memusatkan perhatian dan dengan menggunakan ‘otak kiri’. Begitu dalamnya kita terlibat dengan banyak urusan kantor, sehingga mulai kehilangan perspektif.

Padahal kita dapat meningkatkan kenikmatan dan efektivitas ketika belajar atau bekerja dengan mengambil rehat kurang lebih setiap jam.

Riset psikologi modern makin menunjukkan bahwa manusia bukan mesin, bukan robot. Jadi, apabila Anda belajar atau bekerja selama satu jam dan kemudian beristirahat penuh selama 10 menit, ingatan terhadap materi yang baru saja dikerjakan akan lebih tinggi pada akhir fase istirahat 10 menit tersebut daripada pada akhir satu jamnya.

Para pakar psikologi menyebut gejala ini sebagai Efek Mengingat atau Reminiscence Effect.

“Sungguh bermanfaat bagi Anda apabila sering meninggalkan pekerjaan dan beristirahat sejenak. Sebab bila Anda kembali menekuni pekerjaan itu, penilaian Anda menjadi lebih baik,” ujar Gelb mengutip Treatise on Painting Sang Maestro.  

Leonardo memang jenius. Namun untuk menerapkan jurusnya, tidak perlu orang jenius. Yang penting waktu luang yang Anda sisihkan untuk menyendiri dan relaksasi benar-benar ‘sesuatu banget’. Bukan begitu?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kiat manajemen olahraga pengelolaan emosi motivasi Sepeda Santai
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top