Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Marcus Samuel, Founder Shell yang Jadi Cikal Bakal Hadirnya SPBU Shell di Indonesia

Marcus Samuel adalah founder dari Shell yang saat ini menjadi salah satu SPBU yang beroperasi di Indonesia, selain Pertamina dan Vivo.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 06 September 2022  |  16:11 WIB
Mengenal Marcus Samuel, Founder Shell yang Jadi Cikal Bakal Hadirnya SPBU Shell di Indonesia
Founder Shell, Marcus Samuel - shell
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Shell merupakan salah satu pemain bisnis Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia.

Shell bukan pemain baru di Indonesia, perusahaan energi asal Belanda ini sudah menjejakkan kaki sejak 2005. Bahkan, keberadaan Shell tidak bisa dilepaskan dari Indonesia. Perusahaan yang kini bermarkas di Eropa itu punya hubungan historis yang sangat kuat dengan Indonesia.

Adanya penemuan minyak pertama di Indonesia, spesifiknya di Sumatra, secara langsung mengarah pada awal mula berdirinya industri migas yang kini dinamakan Shell. Lantas siapa sosok founder dari perusahaan multinasional ini?

Sosok Marcus Samuel dan Awal Perkembangan Shell

Melansir dari situs resmi Shell, perusahaan ini awalnya diprakarsai seorang penjual barang antik bernama Marcus Samuel, sebagai founder dari akar perusahaan minyak raksasa dunia. Sebelum, menjadi pengusaha minyak, Samuel adalah seorang penjual barang antik, yang mengembangkan usahanya dengan mengimpor dan menjual kerang oriental ke banyak kolektor. Ayahnya memiliki sebuah toko barang antik di Houndsditch, London.

Karena banyaknya permintaan, dia pun mulai mengimpor kerang dari Timur. Tanpa sadar dia berhasil meletakkan dasar untuk bisnis ekspor-impor. Sambil mengumpulkan spesimen kerang di wilayah Laut Kaspia pada tahun 1890, Samuel pun menyadari ada potensi untuk mengekspor minyak lampu dari wilayah tersebut.

Sepeninggal Marcus Samuel pada 1870, bisnisnya dilanjutkan kedua putranya, Marcus dan Samuel Junior. Pada 1880-an, mereka sangat tertarik dengan bisnis ekspor minyak, tetapi terkendala dengan masalah pengiriman menggunakan barel. Untuk mengatasi masalah tersebut, mereka menugaskan armada kapal uap untuk membawa minyak dalam jumlah besar, termasuk Murex yang, pada tahun 1892, menjadi kapal tanker minyak pertama yang melewati Terusan Suez.

Dua bersaudara itu punya pesaing utama, yakni Standard Oil, sebuah perusahaan yang terkenal dengan kaleng minyak tanah berwarna biru. Agar menonjol, mereka menciptakan merek Shell dan mengecat kaleng mereka dengan warna merah cerah. Taktik itu berhasil dan, pada 1896, perdagangan minyak tanah mereka menghasilkan lebih banyak daripada gabungan semua bisnis mereka yang lain.

Pada 1897 Marcus dan Samuel mengganti nama perusahaan mereka menjadi Shell Transport and Trading Company. 

Sebagai informasi, logo pertama pada tahun 1901 adalah cangkang kerang, tetapi pada tahun 1904 cangkang kerang dari spesies Pecten maximus telah diperkenalkan untuk memberikan representasi visual dari nama perusahaan dan merek.

Bentuk lambang Shell telah berubah secara bertahap selama bertahun-tahun sejalan dengan tren dalam desain grafis. Revisi terkini dari logo Shell, didesain oleh Raymond Loewy pada tahun 1971.

Merger Shell Transport and Trading Company dengan Royal Dutch

Pada saat yang sama, pesaing bernama Royal Dutch, yang berada di bawah naungan Raja Belanda mulai membangun kapal tankernya sendiri dan mendirikan organisasi penjualannya sendiri di Asia. Akibatnya, setengah dari armada Shell menganggur.

Jadi, pada 1907, keputusan diambil untuk menggabungkan Shell Transport and Trading Company dengan Royal Dutch dan membentuk Royal Dutch Shell Group.

Penggabungan ini sebagian besar disebabkan oleh adanya keinginan dari kedua perusahaan untuk lebih kompetitif terhadap Standard Oil. Royal Dutch Petroleum Company adalah sebuah perusahaan asal Belanda yang didirikan pada tahun 1890 untuk mengembangkan sebuah lapangan minyak di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara.

Terkait temuannya di Indonesia ini, tak lepas dari sosok Aeilko Jans Zijklert, seorang penanam tembakau berusia 20 tahun di Jawa Timur yang pindah ke Pantai Timur Sumatera pada tahun 1880.

Selama perjalanannya di sekitar pulau, dia menemukan jejak minyak yang mengandung sekitar 62 persen paraffin.

Kemudian, setelah memperoleh izin dari penguasa lokal, Sultan Langkat, maka pada tahun 1884 Zijklert menemukan minyak dan sumur barunya, yang dikenal sebagai Telaga Tunggal No 1, mulai berproduksi dalam jumlah komersial.

Pada tahun 1890, Zijlker merasa cukup percaya diri untuk mengubah "Perusahaan Minyak Sumatra Sementara" menjadi sesuatu yang lebih substansial, dan pada tanggal 16 Juni piagam perusahaan "Perusahaan Kerajaan Belanda untuk Pengerjaan Sumur Minyak di Hindia Belanda" dilaksanakan di Den Haag.

Kini, mengutip dari situs resmi, per September 2022, Shell telah membangun lebih dari 170 SPBU di Indonesia untuk area Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur dan Sumatera Utara.

Shell di Indonesia

Shell Indonesia melayani pangsa pasar bisnis dan pengendara bermotor, yang mengelola kegiatan bisnis yang meliputi pemasaran dan perdagangan pelumas secara langsung maupun melalui distributor-distributor yang telah ditunjuk.

Shell Indonesia mencatat tonggak sejarah baru dengan diresmikannya SPBU Shell pertama di Karawaci, Tangerang. Shell merupakan perusahaan minyak internasional pertama yang terjun dalam bisnis ritel BBM setelah 40 tahun.

Di sektor hulu, Shell merupakan mitra strategis Inpex, operator Masela PSC yang meliputi lapangan gas Abadi.

Saat ini, Shell Indonesia memiliki lebih dari 300 karyawan, dan telah membangun lebih dari 170 SPBU (Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur dan Sumatera Utara), memiliki satu pabrik pelumas di Marunda, dan memiliki satu  terminal penyimpanan bahan bakar di Gresik, Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shell Shell Indonesia pt shell indonesia shell advence spbu tokoh bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top