Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Howard Schultz, Sosok Kunci Kesuksesan Starbucks

Berikut tokoh di balik kesuksesan coffee shop Starbucks yang kini sudah dibuka cabangnya di seluruh dunia.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 20 September 2022  |  13:28 WIB
Howard Schultz, Sosok Kunci Kesuksesan Starbucks
Howard Schultz - jobstreet
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kini, Starbucks menjadi coffee shop terpopuler di dunia.

Dengan image otentik yaitu logo khas dan penamaan ukuran gelas menggunakan bahasa Italia. Starbucks telah menjelma menjadi kedai kopi favorit banyak orang di banyak

Melansir dari situs resminya, per 2022 ini diketahui sudah lebih dari 30.000 toko yang tersebar di 62 negara, di mana hampir 13.000 di antaranya berlokasi di Amerika Serikat. Namun sebenarnya, siapa sosok founder di balik kesuksesan Starbucks hingga bisa membuka lapangan kerja untuk 149.000 orang di seluruh dunia? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.

Awal Perkembangan Starbucks

Banyak orang mengira bahwa Starbucks didirikan pertama kali didirikan oleh Howard Schultz. Namun, nyatanya tidak demikian.
Melansir dari Brittanica pada Selasa (20/9/2022), Starbucks telah berdiri pada tahun 1971, di mana pendirinya adalah tiga mantan mahasiswa Universitas San Francisco, yakni Jerry Baldwin sebagai seorang guru Bahasa Inggris.

3 pendiri Starbucks/enupal

Lalu, Gordon Bowker adalah seorang penulis. Sementara Zev Siegl yang merupakan seorang guru sejarah. Tiga pendiri Starbucks memiliki dua kesamaan: mereka semua berasal dari akademisi, dan mereka semua menyukai kopi dan teh. Mereka menginvestasikan dan meminjam sejumlah uang untuk membuka toko pertama di Seattle.

Awalnya, mereka hanya menjual kopi biji utuh yang dipanggang hingga tahun 1976. Lalu 10 tahun kemudian, pada 1986 mereka kembali berpindah tempat ke Pike Place Market yang bersejarah di Seattle, di mana mereka mulai menjual kopi espresso.

Pada awal 1980-an Starbucks telah membuka empat toko di Seattle dengan menawarkan kopi panggang segar berkualitas tinggi mereka. Pada tahun 1980 Siegl memutuskan untuk mengejar kepentingan lain dan meninggalkan dua mitra yang tersisa, sehingga Baldwin mengambil peran sebagai presiden perusahaan.

Founder dan CEO Starbucks, Howard Schultz

Adapun, sosok dibalik transformasi bisnis Starbuck yang awalnya hanya kedai kopi sederhana, menjadi salah satu bisnis yang paling diakui dan dihormati di dunia adalah Howard Schultz. Di mana, selama empat delade, Chairman sekaligus CEO dari Starbucks ini telah berhasil meraih mimpinya untuk mengembangkan kedai kopi lokal dan berhasil mendunia.

Sebelum menjadi CEO Starbucks, beliau adalah seorang sales representative di suatu perusahaan manufaktur, produsen kopi asal Swedia bernama Hammarplast. Di Hammerplast, Schultz sadar bahwa ada sebuah kedai kopi di Seattle yang selalu membeli kopi mesin pembuat espresso dari kantornya yang bernama Starbucks.

Dia pun penasaran, seberapa banyak pesanan kopi perusahaan itu, sehingga hal tersebutlah yang mendorongnya dia untuk mengunjunginya.

Saat dia mengunjungi kedai tersebut, dan bertemu dengan founder dari Starbucks, Schults pun terpikat untuk oleh semangatnya dalam membuat kopi yang nikmat. sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengejar karir di Starbucks. Setahun kemudian, Schultz direkrut menjadi seorang manajer retail operations and marketing pada tahun 1982.

Dia pun bekerja keras menciptakan suasana yang nyaman untuk seluruh pengunjung lewat variasi beragam kopi yang ditawarkan.

Terinspirasi dari Coffeshop di Italia

Ide terbesar Schultz untuk masa depan Starbucks datang pada musim semi 1983 ketika perusahaan mengirimnya ke Milan untuk menghadiri pertunjukan peralatan rumah tangga internasional. Saat berada di Italia, dia terkesan dengan kafe-kafe di negara itu dan menemukan bahwa Milan sendiri memiliki 1.500 kedai kopi.

Penampakan store Starbucks yang pertama/Starbucks

Dia menjadi terinspirasi dan berpikir untuk melakukan sesuatu yang serupa di Starbucks dan membayangkan mengubah operasi regional kecil menjadi rantai kedai kopi nasional melalui ekspansi toko yang cepat. Namun, Baldwin dan Bowker tidak antusias dengan ide Schultz, karena mereka tidak ingin Starbucks menyimpang jauh dari model bisnis tradisionalnya. Mereka ingin Starbucks tetap menjadi penjual kopi dan peralatan dan tidak berubah menjadi kafe yang menyajikan espresso dan cappuccino.

Melihat bahwa dia tidak dapat membujuk Baldwin dan Bowker untuk menerima ide kafe, Schultz akhirnya meninggalkan Starbucks pada tahun 1985 dan memulai rantai kopinya sendiri, yang disebut Il Giornale, yang langsung sukses, dengan cepat berkembang ke beberapa kota.

Sampai pada bulan Maret 1987, Baldwin dan Bowker memutuskan untuk menjual Starbucks, dan Schultz dengan cepat menggunakan Il Giornale untuk membeli perusahaan tersebut dengan dukungan investor. Howard Schultz pun menjadi sebagai CEO baru yang telah mengembangkan bisnis Starbucks sampai sukses hingga sekarang.

Berasal dari Keluarga Tidak Mampu

Howard Schultz lahir di Brooklyn, New York pada tahun 1953. Schultz dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh. Keluarga Howard Schultz hidup serba kekurangan, bahkan ayahnya tidak bisa pergi ke dokter untuk berobat ketika pergelangan kakiknya patah. Pada saat itu ayahnya yang bekerja sebagai seorang supir jasa antar harus rela kehilangan pekerjaannya. Hal itu memperparah keadaan ekonomi keluarganya.

Saat sekolah Schultz unggul dalam mata pelajaran olahraga dan berhasil mendapatkan beasiswa untuk Northern Michigan University pada 1971, di mana dia berhasil mendapatkan gelar Sarjanan Komunikasi.

Melansir dari Starbucks Stories, hal ini lah yang mendasari Howard mulai membangun jenis perusahaan yang berbeda, Schultz bersikeras membangun budaya perusahaan dengan memerlakukan karyawannya penuh rasa hormat, dan menerima keuntungan yang sesuai. Dia ingat masa kecilnya yang selalu kekurangan, tidak memiliki asuransi. Sehingga, dia tidak ingin ada karyawannya yang mengalami nasib yang sama dengannya dahulu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

starbucks tokoh bisnis tokoh pebisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top